JAKARTA - Skandal wasit Majed Alsamrani dan ulah oknum suporter membuat Persib Bandung berada di ujung tanduk. Gagal melangkah ke perempat final AFC Champions League 2 (ACL2) bukan satu-satunya luka yang harus ditanggung Maung Bandung. Ancaman sanksi dari Asian Football Confederation (AFC) kini membayangi setelah insiden pitch invasion dan dugaan kekerasan terhadap fotografer di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Skandal wasit Majed Alsamrani menjadi sorotan utama dalam laga krusial kontra Ratchaburi FC. Kepemimpinan pengadil asal Arab Saudi itu dinilai kontroversial dan berat sebelah. Keputusan kartu merah langsung tanpa tinjauan VAR memadai hingga gol yang dianulir memicu gelombang protes dari pemain, pelatih, hingga bobotoh.
Namun di tengah kemarahan terhadap wasit, Persib justru menghadapi masalah baru. Ulah segelintir oknum yang turun ke lapangan dan menendang fotografer berpotensi membuat klub kebanggaan Jawa Barat itu menerima denda besar dari AFC. Situasi ini membuat skandal wasit Majed Alsamrani dan oknum bobotoh menjadi paket lengkap mimpi buruk bagi Persib di pentas Asia.
Bojan Hodak Tak Bisa Sembunyikan Kekecewaan
Pelatih Persib, Bojan Hodak, angkat bicara dengan nada tajam. Ia memuji dukungan puluhan ribu bobotoh yang menciptakan atmosfer kelas dunia di GBLA. Namun, ia mengecam keras tindakan oknum yang merusak perjuangan tim.
Menurut Hodak, sangat sulit bertanding di level Asia jika keputusan wasit berubah-ubah. Ia menyindir bahwa timnya bukan hanya melawan lawan di lapangan, tetapi juga melawan sosok yang memegang peluit. Kekecewaan itu memuncak setelah insiden kartu merah dan keputusan-keputusan kontroversial lainnya.
Di media sosial Timur Tengah, nama Majed Alsamrani bahkan disebut sebagai salah satu wasit paling kontroversial. Warganet Arab Saudi ikut menyoroti rekam jejaknya yang kerap memicu polemik. Kondisi ini membuat kemarahan bobotoh seolah mendapat dukungan lintas negara.
Ancaman Denda dan Blacklist Seumur Hidup
Di luar kontroversi wasit, ancaman nyata datang dari regulasi disiplin AFC. Berdasarkan kode etik dan disiplin AFC, klub tuan rumah bertanggung jawab atas keamanan pertandingan. Persib terancam denda hingga 100.000 dolar AS atau sekitar Rp1,6 miliar jika terbukti lalai mengendalikan suporter.
Manajemen PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) langsung bergerak. Direktur olahraga, Adhitia Putra Herawan, dikabarkan akan menerapkan sanksi tegas. Teknologi face recognition di GBLA siap digunakan untuk memblokir identitas pelaku agar tidak bisa lagi masuk stadion.
Gelombang dukungan dari bobotoh dewasa juga menguat. Mereka menuntut agar pelaku tidak hanya diblacklist, tetapi juga diproses secara hukum atas dugaan penganiayaan terhadap kru media. Narasi di media sosial pun bergeser menjadi gerakan pembersihan demi menjaga nama besar Persib di mata Asia.
Evaluasi Skuad dan Target Dominasi Asia
Terlepas dari polemik, Persib tak ingin larut dalam kekecewaan. Gagal di babak 16 besar ACL2 menjadi bahan evaluasi serius. Manajemen disebut tengah menyiapkan revolusi di lini depan untuk musim depan.
Nama Ibrahim Yalatif Diabate mencuat sebagai kandidat striker anyar. Penyerang asal Afrika itu diklaim memiliki statistik impresif, kuat dalam duel udara, dan tajam di kotak penalti. Kehadirannya diproyeksikan menjadi solusi atas tumpulnya lini depan Maung Bandung di laga-laga krusial Asia.
Persib juga punya alasan untuk tetap bangga. Berkat kontribusi poin di kompetisi Asia, Indonesia memastikan dua slot di ACL2 musim depan. Peringkat kompetisi domestik terdongkrak, membuka peluang lebih besar bagi klub-klub lain tampil di pentas kontinental.
Kini fokus Persib adalah mengunci gelar liga domestik dan kembali ke Asia dengan mentalitas lebih matang. Manajemen menegaskan, klub besar dibangun oleh sejarah dan prestasi, bukan aksi emosional sesaat.
Skandal wasit Majed Alsamrani dan ulah oknum suporter menjadi pelajaran mahal. Jika ingin mendominasi Asia, Persib harus kuat bukan hanya di lapangan, tetapi juga dalam menjaga kedewasaan ekosistem suporternya.
Editor : Friesta Cahya Ramadhani