RADAR BLITAR - Kisah di balik kejayaan Persib juara ternyata tak selalu indah.
Ada air mata, ancaman degradasi, hingga uang Rp5 miliar yang dibawa pakai troli demi menyelamatkan klub kebanggaan Jawa Barat tersebut.
Sosok sentral di balik perjalanan itu adalah Umuh Muchtar.
Pria yang akrab disapa Pak Umuh itu mengungkap bagaimana ia rela mempertaruhkan harta pribadinya agar Persib tetap hidup dan akhirnya meraih gelar.
Momentum terbaru ketika Persib juara dan memastikan gelar keempat membuat kenangan lama kembali mencuat.
Tiga dari empat bintang yang kini tersemat di dada Maung Bandung, menurutnya, lahir dari perjuangan panjang yang tidak diketahui banyak orang.
Nyaris Degradasi, Uang Rp5 Miliar Dibawa Pakai Troli
Pak Umuh menceritakan, masa paling krusial terjadi saat Persib kesulitan dana usai tak lagi bisa menggunakan APBD.
Klub terancam tak bisa mendaftar ke PSSI.
Kekurangan dana saat itu mencapai Rp5 miliar.
Dalam kondisi terdesak, ia meminjam uang pada seorang kolega.
Uang tunai miliaran rupiah itu kemudian dibawa ke hotel menggunakan troli.
“Kalau tidak ada uang itu, Persib bisa degradasi,” kenangnya.
Dana tersebut dipakai untuk mengontrak pemain seperti Atep, Supardi, hingga nama-nama lama yang menjadi fondasi kebangkitan.
Semua dilakukan tanpa bunga, murni demi Persib juara.
Peran Glen Sugita dan Transformasi Manajemen
Transformasi besar terjadi saat Glen Sugita masuk dan membentuk manajemen yang lebih profesional.
Sejak dikelola PT Persib Bandung Bermartabat, keuangan klub jauh lebih sehat.
“Sekarang tidak ada lagi pemain telat gaji,” tegas Pak Umuh.
Menurutnya, keberhasilan Persib juara back to back tak lepas dari manajemen yang terstruktur dan kekompakan tim.
Ia menyebut, faktor kebersamaan lebih penting daripada sekadar pemain bintang.
Luis Milla Pergi, Bojan Hodak Datang
Dalam perjalanannya, Persib juga sempat menunjuk Luis Milla sebagai pelatih.
Namun, kepergian mendadaknya sempat mengejutkan.
Pak Umuh menilai ada faktor tekanan dan ketakutan menghadapi laga berat.
“Dia punya nama besar, mungkin khawatir reputasinya turun,” ujarnya.
Setelah itu, Persib menunjuk Bojan Hodak.
Di tangan pelatih asal Kroasia tersebut, Persib justru tampil solid dan berhasil meraih gelar penuh dalam satu musim kompetisi.
Ia bahkan menceritakan momen ketika Bojan marah di ruang ganti dengan menendang dus air mineral demi membangkitkan mental pemain.
Hasilnya, tim bangkit dan menang dramatis.
Kunci Persib Juara: Kekompakan dan Doa
Menurut Pak Umuh, kunci Persib juara bukan sekadar taktik.
Ia menekankan pentingnya kekompakan dan kedekatan emosional.
Ia rutin mengajak pemain makan bersama minimal dua minggu sekali untuk menjaga keharmonisan.
Nama seperti Ahmad Jufrianto disebut punya peran besar sebagai pemimpin di ruang ganti.
Selain itu, pemain muda seperti Beckham Putra juga diapresiasi karena loyalitasnya.
Tak hanya itu, Pak Umuh mengaku kerap masuk ke ruang ganti untuk berdoa ketika Persib tertinggal.
Ia meyakini doa menjadi kekuatan tambahan di balik gelar juara.
“Main bagus saja tidak cukup. Harus yakin dan kompak,” katanya.
Kini, setelah Persib juara lagi dan memastikan dominasi, ia berharap tradisi kebersamaan tetap dijaga.
Baginya, selama pemain memiliki rasa memiliki terhadap klub, Persib akan terus berjaya.
Persib juara bukan hanya soal trofi, tapi tentang perjuangan panjang, pengorbanan, dan kecintaan tanpa syarat.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina