BLITAR KAWENTAR-Penunjukan John Hartman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia memantik beragam respons publik. Setelah kegagalan di Kualifikasi Piala Dunia, harapan kini bertumpu pada sosok asal Inggris tersebut yang akan memulai debutnya di FIFA Series 2026.
Nama John Hartman memang belum terlalu familiar di telinga pencinta sepak bola Tanah Air. Namun, rekam jejaknya bersama Timnas Kanada dan Selandia Baru, baik di sektor pria maupun wanita, menjadi modal awal yang dinilai cukup menjanjikan untuk menangani Timnas Indonesia.
Dalam program diskusi sepak bola, pengamat sekaligus pelatih Justinus Laksana atau Coach Justin menilai publik perlu realistis melihat kapasitas John Hartman. Menurutnya, ekspektasi berlebihan justru bisa menjadi beban besar bagi pelatih anyar tersebut.
Bukan Pelatih Level Elite Eropa
Coach Justin menegaskan, tidak realistis berharap Indonesia mendatangkan pelatih papan atas Eropa dengan reputasi besar.
“Kita harus jujur, dari sisi anggaran kita tidak mampu. Pelatih level satu atau dua itu gajinya terlalu tinggi. Jadi masuknya level tiga atau empat, dan itu wajar karena kualitas pemain kita juga masih di level itu,” ujarnya.
John Hartman sendiri sebelumnya dikenal membawa Kanada tampil atraktif di Piala Dunia 2022, meski gagal melaju jauh. Gaya bermainnya disebut pragmatis, dengan penguasaan bola sekitar 48 persen, bahkan turun menjadi 41 persen saat menghadapi tim kuat.
Menurut Coach Justin, pendekatan itu justru realistis untuk Timnas Indonesia.
“Tidak perlu pegang bola 70 persen. Yang penting efisien dan efektif. Kita ini ranking 120 dunia, jangan lupa itu,” tegasnya.
Butuh Waktu, Jangan Langsung Menghakimi
Debut John Hartman akan dimulai di FIFA Series 2026 pada Maret mendatang. Namun, Coach Justin mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menghakimi hasil di tiga laga awal.
“Tidak fair kalau langsung dihantam setelah tiga pertandingan. Persiapan timnas itu sangat singkat. Beda dengan klub yang tiap hari latihan,” katanya.
Ia mencontohkan pengalaman pelatih sebelumnya yang dinilai kurang mendapat waktu adaptasi. Hartman, menurutnya, setidaknya memiliki satu tahun menuju Piala Asia 2027 untuk membuktikan kapasitasnya.
Parameter sesungguhnya, lanjut Coach Justin, adalah performa di Piala Asia 2027. Jika gagal memenuhi target minimal perempat final, barulah evaluasi besar bisa dilakukan.
Adaptasi dengan Sepak Bola Asia
Salah satu tantangan terbesar John Hartman adalah adaptasi dengan atmosfer sepak bola Asia, khususnya Indonesia. Ia belum pernah melatih di kawasan ini sebelumnya.
Coach Justin menyarankan Hartman untuk tidak hanya mendengar masukan dari internal federasi, tetapi juga turun langsung memantau kompetisi lokal dan memahami karakter pemain Indonesia.
“Dia harus turun ke lapangan, lihat Liga 1, bicara langsung dengan pemain. Jangan hanya dengar dari atasan. Dia harus tahu kultur sepak bola kita,” ujarnya.
Diketahui, Hartman mengklaim telah berbicara dengan sekitar 60 pemain dalam satu bulan terakhir. Langkah ini dinilai positif sebagai upaya membangun komunikasi dan memahami kebutuhan tim.
Tekanan Publik dan Mentalitas
Sepak bola Indonesia dikenal memiliki tekanan publik yang besar. Pujian dan kritik bisa datang secara ekstrem dalam waktu singkat.
Coach Justin mengingatkan bahwa mentalitas menjadi kunci utama bagi John Hartman.
“Netizen kita itu cepat sekali berubah. Hari ini dipuji, besok dihujat. Pelatih harus siap mental,” katanya.
Ia menilai Hartman perlu menjadi sosok yang autentik dan berani mengakui kesalahan. Sikap terbuka dan komunikasi yang baik bisa membantu meredam tekanan.
Di sisi lain, ekspektasi publik dinilai tidak setinggi era sebelumnya, meski tetap ada harapan besar menuju Piala Dunia 2030.
Target Realistis Menuju 2030
Dengan format Piala Dunia yang kini diperluas, peluang negara-negara Asia termasuk Indonesia semakin terbuka. Namun, Coach Justin mengingatkan bahwa semuanya butuh proses.
“Kalau mau bicara Piala Dunia 2030, fondasinya harus kuat dari sekarang. Persiapan, uji coba internasional, mental tandang, semua harus dibangun,” ujarnya.
Ia juga menyarankan Timnas Indonesia lebih sering menjalani laga uji coba di luar negeri untuk mengasah mental, bukan hanya bermain di kandang demi pemasukan.
Kini, publik menanti bagaimana John Hartman meramu strategi dan membentuk identitas permainan Timnas Indonesia. Satu hal yang ditekankan para pengamat: beri waktu, jangan buru-buru menghakimi.
Editor : Ichaa Melinda Putri