BLITAR KAWENTAR-John Hartman resmi diperkenalkan PSSI sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia. Namun bukan hanya aspek taktik yang menjadi sorotan, melainkan cara komunikasi dan retorika yang ia tampilkan dalam sesi konferensi pers perdananya.
Dalam momen perkenalan tersebut, John Hartman membeberkan alasan menerima tawaran melatih Timnas Indonesia. Ia menegaskan bahwa keputusannya bukan sekadar proyek biasa, melainkan bagian dari ambisi membangun sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah sepak bola nasional.
FIFA Series dan agenda kompetisi ke depan menjadi panggung awal bagi John Hartman membuktikan ucapannya. Tetapi yang paling menyita perhatian publik adalah gaya komunikasinya yang dinilai kuat, terstruktur, dan penuh metafora.
Retorika dan Metafora yang “Nendang”
Sejak awal, John Hartman terlihat piawai memainkan retorika. Setiap kalimat yang ia lontarkan terasa disusun dengan matang sebelum disampaikan kepada publik. Salah satu pernyataan yang mencuri perhatian adalah, “Pressure is a gift.”
Menurutnya, tekanan bukanlah beban semata. Tekanan bisa menjadi hadiah, tetapi juga bisa berubah menjadi kutukan jika tidak dikelola dengan baik. Pernyataan tersebut dinilai sebagai metafora kuat yang langsung mengena pada ekspektasi tinggi publik Indonesia terhadap Timnas.
Tak hanya itu, ia juga menyampaikan kalimat yang menjadi sorotan luas: “I don’t see passport, I see people.”
Pernyataan tersebut merujuk pada komitmennya untuk tidak membedakan pemain berdasarkan latar belakang atau paspor. Ia menekankan bahwa yang terpenting adalah kualitas individu dan kontribusi terhadap tim.
John Hartman mencontohkan pengalamannya saat menangani Kanada. Di ruang ganti, ia terbiasa mengelola pemain dengan latar budaya berbeda—dari Jamaika, Amerika Selatan, Eropa hingga Inggris dan Skotlandia. Keberagaman, menurutnya, bukan kelemahan, melainkan kekuatan terbesar jika dikelola dengan benar.
Modal Mengelola Ruang Ganti
Salah satu tantangan terbesar pelatih timnas adalah menjaga harmoni ruang ganti. John Hartman menegaskan dirinya sudah menjalin komunikasi dengan sekitar 60 pemain Indonesia sebelum resmi bekerja. Langkah ini dinilai sebagai upaya membangun kedekatan sejak awal.
Ia menegaskan pendekatannya akan dimulai dengan tiga tahapan: mendengar (listening), memahami (understanding), lalu bertindak (action).
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa ia tidak ingin tergesa-gesa membuat keputusan sebelum memahami kultur sepak bola Indonesia secara menyeluruh.
Dalam karier sebelumnya, John Hartman pernah menghadapi dinamika internal tim, termasuk isu ego dan perbedaan karakter di generasi emas Kanada. Pengalaman itu menjadi modal penting untuk mengelola skuad Timnas Indonesia yang juga memiliki kombinasi pemain lokal dan diaspora.
Adaptasi Budaya Jadi Kunci
John Hartman juga menekankan pentingnya memahami budaya Indonesia sebelum menerapkan gaya kepelatihannya. Ia menyadari bahwa gaya komunikasi keras ala Eropa belum tentu sepenuhnya cocok di Indonesia.
Ia menyebut pengalamannya hidup di berbagai budaya sebagai bekal untuk beradaptasi. “Pengalaman saya di berbagai budaya sepak bola dan sosial adalah bagian dari memahami kehidupan,” ujarnya.
Dalam pernyataan lain yang memantik semangat nasionalisme, John Hartman menyebut Indonesia sebagai peluang paling menarik dalam sepak bola dunia. Dengan populasi besar dan basis penggemar yang fanatik, ia menilai potensi Indonesia luar biasa.
“Ini bukan soal peringkat, ini soal sejarah,” tegasnya.
Kalimat tersebut dianggap sebagai penegasan bahwa targetnya bukan sekadar memperbaiki ranking FIFA, melainkan membangun fondasi prestasi jangka panjang.
Tantangan Nyata di Depan Mata
Meski piawai berkomunikasi, tantangan sebenarnya akan terlihat di lapangan. Agenda seperti AFF dan turnamen Asia U-23 menjadi kesempatan menguji kedalaman skuad, terutama pemain lokal.
John Hartman mengisyaratkan bahwa kompetisi non-kalender FIFA bisa menjadi ruang evaluasi dan pembuktian pemain domestik. Namun ia juga menyadari ekspektasi publik Indonesia selalu tinggi, termasuk dalam ajang regional.
Kini publik menanti apakah kemampuan komunikasi John Hartman akan sejalan dengan performa tim di lapangan. Retorika yang kuat telah membangun optimisme, tetapi hasil pertandingan tetap menjadi ukuran utama.
Satu hal yang pasti, kehadiran John Hartman membawa warna baru dalam cara Timnas Indonesia dipimpin—tidak hanya dari sisi taktik, tetapi juga dari cara membangun narasi dan semangat kolektif.
Editor : Ichaa Melinda Putri