BLITAR - Olimpiade Musim Dingin 2026 akan segera digelar di Milan dan Cortina, Italia. Namun, perhatian utama tidak hanya tertuju pada atlet dan cabang olahraga, melainkan pada kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim global. Cuaca yang stabil, bersalju, dan bersuhu di bawah titik beku menjadi syarat mutlak untuk pertandingan ski dan snowboarding. Tanpa itu, gelaran Olimpiade musim dingin bisa terganggu.
Sejarah mencatat, cuaca buruk telah menjadi tantangan di banyak edisi Olimpiade. Pada 2006, suhu di Torino mencapai 10° C, sementara di Vancouver 2010 hujan memaksa panitia menggunakan helikopter untuk menutup area yang kehilangan salju. Di Sochi 2014, kondisi tropis memaksa atlet ski menyesuaikan teknik mereka. Kini, fenomena tersebut dikaitkan dengan pemanasan global, yang membuat suhu rata-rata permukaan bumi terus naik dan mengubah lanskap potensial tuan rumah Olimpiade musim dingin di masa depan.
Situasi ini membuat Cortina menghadapi tantangan tersendiri. Kota pegunungan ini pernah sukses menjadi tuan rumah pada Olimpiade sebelumnya dengan salju lebat dan suhu ideal. Namun kini, hari bersalju berkurang hingga 34% dibandingkan satu abad lalu. Dalam konteks ini, persiapan Olimpiade Musim Dingin 2026 menekankan penggunaan teknologi, termasuk mesin salju buatan, untuk memastikan lintasan tetap layak untuk kompetisi.
Mesin Salju Jadi Andalan
Aturan modern Olimpiade mensyaratkan kedalaman salju minimum, mulai dari 30 cm untuk ski jumping hingga satu meter untuk freestyle ski dan snowboarding. Kondisi alam yang semakin tak menentu membuat mesin salju menjadi penopang utama. Alat ini mengambil air, menyemprotkannya dalam bentuk butiran salju, dan bisa menumpuk salju yang cukup untuk menyelenggarakan seluruh cabang olahraga. Tanpa mesin salju, sebagian besar pertandingan musim dingin tidak dapat berlangsung.
Meski mesin salju efektif, kualitas salju buatan biasanya lebih keras dan licin dibandingkan salju alami. Para atlet alpine lebih menyukainya, sedangkan skiathlon memerlukan strategi berbeda. Mesin salju juga memiliki keterbatasan: udara tetap harus cukup dingin agar salju tidak cepat mencair. Vancouver pernah menjadi contoh, ketika mesin salju gagal karena gelombang panas.
Proyeksi Masa Depan Olimpiade Musim Dingin
Studi ilmuwan iklim, termasuk Profesor Daniel Scott, memperingatkan bahwa perubahan iklim akan semakin membatasi lokasi yang dapat menjadi tuan rumah Olimpiade. Dalam skenario emisi rendah hingga tinggi, kota-kota dengan elevasi rendah dan dekat pantai menjadi paling berisiko. Pada 2050, kota-kota seperti Vancouver, Tahoe, dan Innsbruck diprediksi menjadi tidak lagi andal untuk menggelar Olimpiade, sementara hanya delapan kota yang tetap layak di skenario ekstrim.
Studi ini juga menyoroti Paralimpiade, yang digelar dua minggu setelah Olimpiade utama. Banyak lokasi yang dapat menggelar Olimpiade musim dingin, namun gagal menyelenggarakan Paralimpiade karena suhu yang lebih hangat. Solusi potensial termasuk menggeser jadwal kedua ajang tersebut beberapa minggu lebih awal atau bahkan digelar bersamaan.
Peluang dan Tantangan Baru
Meski menghadapi keterbatasan cuaca, masih ada banyak lokasi yang tetap andal hingga 2080, termasuk Pegunungan Alpen di Eropa, Salt Lake City di Amerika, dan beberapa lokasi baru di Turki, Georgia, serta Kazakhstan. Namun, penyelenggara harus kreatif dalam menyiapkan lintasan dan infrastruktur. Atlet pun perlu menyesuaikan strategi, mengingat kondisi salju yang kini lebih buatan daripada alami.
Olimpiade Musim Dingin 2026 di Cortina dan Milan menjadi cermin tantangan yang lebih besar: bagaimana olahraga musim dingin bisa terus digelar di tengah pemanasan global. Mesin salju dan inovasi logistik menjadi kunci, tetapi perubahan iklim tetap menjadi faktor penentu masa depan Olimpiade musim dingin.
Editor : Axsha Zazhika