BLITAR - Marc Marquez tinggalkan Repsol Honda setelah 11 tahun kebersamaan yang penuh sejarah di MotoGP. Pengumuman resmi pada 12 Oktober 2023 itu sekaligus menandai berakhirnya salah satu kolaborasi paling sukses antara pembalap dan tim pabrikan di kelas utama.
Keputusan Marc Marquez tinggalkan Repsol Honda langsung mengguncang paddock MotoGP. Pasalnya, bersama tim berlogo sayap mengepak tersebut, Marquez meraih enam gelar juara dunia MotoGP sejak debutnya pada 2013.
Mulai musim 2024, Marquez akan membela Gresini Racing dan mengendarai Ducati Desmosedici GP23. Langkah ini menjadi babak baru dalam karier sang juara dunia yang sempat mendominasi era 2010-an.
Awal Sensasional Bersama Repsol Honda
Marquez memulai debutnya di Repsol Honda pada musim 2013. Saat itu, regulasi “rookie rule” sempat menjadi perdebatan karena melarang pembalap debutan langsung membela tim pabrikan. Namun, aturan tersebut dihapus pada 2012, membuka jalan bagi Marquez menggantikan Casey Stoner yang pensiun.
Pada balapan debut di Qatar 2013, Marquez langsung mencuri perhatian dengan finis podium ketiga setelah duel sengit melawan Valentino Rossi. Tak butuh waktu lama, ia meraih kemenangan perdana di GP Amerika dan menjadi pemenang MotoGP termuda saat itu.
Musim debutnya berakhir manis. Dengan enam kemenangan dan konsistensi luar biasa, Marquez mengunci gelar juara dunia MotoGP 2013, mengalahkan Jorge Lorenzo dalam persaingan ketat hingga seri terakhir.
Era Dominasi dan Rekor Beruntun
Tahun 2014 menjadi musim dominasi mutlak. Marquez mencatat 10 kemenangan beruntun di awal musim dan total 13 kemenangan dalam satu musim, memecahkan rekor Mick Doohan. Ia kembali merebut gelar juara dengan selisih poin mencolok atas Valentino Rossi.
Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Musim 2015 menjadi salah satu periode tersulit. Honda kesulitan bersaing dengan Yamaha dan Ducati. Marquez enam kali gagal finis dan terlibat sejumlah insiden panas dengan Valentino Rossi, termasuk “Sepang Clash” yang hingga kini masih dikenang publik MotoGP.
Belajar dari musim sulit tersebut, Marquez bangkit pada 2016. Dengan pendekatan lebih matang dan konservatif, ia meraih lima kemenangan dan kembali menjadi juara dunia. Adaptasi terhadap ECU tunggal Magneti Marelli dan ban Michelin menjadi kunci keberhasilannya.
Duel Sengit dan Dominasi Total 2019
Musim 2017 menghadirkan rival baru, Andrea Dovizioso dari Ducati. Perebutan gelar berlangsung hingga seri terakhir di Valencia. Marquez akhirnya keluar sebagai juara setelah Dovizioso terjatuh di balapan penentuan.
Pada 2018, Marquez kembali mendominasi dengan sembilan kemenangan dan 321 poin. Setahun berselang, 2019 menjadi puncak performanya. Ia mencetak 12 kemenangan dan total 420 poin—rekor poin tertinggi saat itu. Marquez hampir selalu finis pertama atau kedua sepanjang musim.
Tak ada yang menyangka, dominasi itu terhenti pada 2020.
Cedera, Operasi, dan Performa Honda Menurun
Musim 2020 ditunda akibat pandemi Covid-19. Di seri pembuka GP Spanyol, Marquez terjatuh saat mengejar Fabio Quartararo dan mengalami patah lengan. Cedera itu memaksanya absen hampir semusim penuh.
Comeback pada 2021 tak mudah. Meski sempat meraih kemenangan di Jerman, Amerika, dan Misano, ia tak mampu bersaing di klasemen. Marquez bahkan terjatuh lebih dari 20 kali sepanjang musim.
Situasi makin rumit pada 2022 dan 2023. Motor RC213V dinilai sulit dikendalikan dan tak lagi kompetitif. Operasi lanjutan membuat Marquez beberapa kali absen. Hingga pertengahan 2023, ia kesulitan meraih poin dan hanya mencatat satu podium di Jepang.
Performa Honda yang stagnan serta ambisi kembali meraih gelar juara membuat Marquez mengambil keputusan besar.
Resmi ke Gresini Racing 2024
Setelah 11 musim, 59 kemenangan, 101 podium, dan enam gelar juara dunia, Marc Marquez tinggalkan Repsol Honda. Ia memilih bergabung dengan Gresini Racing untuk MotoGP 2024 dan akan mengendarai Ducati Desmosedici GP23.
Keputusan ini dinilai sebagai langkah berani demi menghidupkan kembali peluang juara. Hingga kini, belum ada kepastian siapa yang akan menggantikan Marquez di Honda.
Perpisahan ini bukan sekadar transfer pembalap. Ini adalah akhir sebuah era. Era di mana Marc Marquez dan Repsol Honda menjadi simbol dominasi, drama, dan sejarah besar MotoGP modern.
Editor : Anggi Septian A.P.