6 Pertarungan Legendaris Muhammad Ali yang Mengubah Dunia Tinju: Dari Sonny Liston hingga Thrilla in Manila
Anggi Septian A.P.• Selasa, 24 Februari 2026 | 17:50 WIB
6 Pertarungan Legendaris Muhammad Ali yang Mengubah Dunia Tinju: Dari Sonny Liston hingga Thrilla in Manila
BLITAR - Nama Muhammad Ali tak pernah lepas dari daftar legenda olahraga dunia. Lewat 6 pertarungan legendaris Muhammad Ali, dunia tinju berubah selamanya. Ia bukan sekadar juara kelas berat, tetapi simbol revolusi, keberanian, dan karisma yang melampaui ring.
Sejak awal kariernya, Muhammad Ali—yang sebelumnya dikenal sebagai Cassius Clay—muncul sebagai fenomena. Di era ketika kelas berat identik dengan pukulan brutal, ia menghadirkan gaya baru: cepat, lincah, dan penuh seni. Lewat 6 pertarungan legendaris Muhammad Ali inilah, dunia menyaksikan bagaimana seorang petinju bisa menggabungkan teknik, kecerdasan, dan mental baja.
Kecepatan kaki, kelincahan tubuh, serta pukulan presisi membuatnya berbeda. Filosofinya terkenal: “Float like a butterfly, sting like a bee.” Bukan sekadar slogan, melainkan cerminan gaya bertarungnya. Berikut enam laga ikonik yang membentuk warisan besarnya.
Digelar 25 Februari 1964 di Miami Beach, pertarungan ini menjadi titik balik sejarah tinju. Clay yang baru berusia 22 tahun menantang juara bertahan Sonny Liston, sosok menakutkan yang dianggap tak terkalahkan.
Banyak pihak memprediksi Clay akan tumbang cepat. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dengan kecepatan luar biasa, ia membuat Liston frustrasi sepanjang laga. Pada ronde ketujuh, Liston tak keluar dari sudut ring. Clay menang TKO dan berteriak, “I shook up the world!”
Sejak malam itu, dunia tinju berubah.
2. Muhammad Ali vs Sonny Liston II (1965)
Rematch yang digelar 25 Mei 1965 ini menjadi salah satu laga paling kontroversial sepanjang masa. Ali—yang sudah resmi mengganti namanya—menjatuhkan Liston di ronde pertama lewat pukulan cepat yang kemudian dikenal sebagai “Phantom Punch”.
Banyak yang tak melihat pukulan itu secara jelas. Namun foto ikonik Ali berdiri di atas Liston yang terjatuh menjadi simbol kekuatan baru di dunia tinju.
3. Muhammad Ali vs Ernie Terrell (1967)
Dikenal dengan tajuk “What’s My Name”, pertarungan ini sarat emosi. Ernie Terrell menolak memanggilnya Muhammad Ali dan tetap menyebut Cassius Clay.
Ali menganggap ini sebagai penghinaan terhadap identitasnya. Selama 15 ronde penuh, ia mendominasi Terrell sambil berteriak, “What’s my name?” Laga ini membuktikan Ali bukan hanya petinju cepat, tapi juga petarung yang bertarung demi harga diri.
4. Muhammad Ali vs Joe Frazier I – The Fight of the Century (1971)
Digelar 8 Maret 1971, laga ini mempertemukan dua petinju tak terkalahkan. Ali baru kembali dari larangan bertanding akibat penolakannya terhadap perang Vietnam. Sementara Joe Frazier adalah juara bertahan dengan hook kiri mematikan.
Pertarungan berlangsung brutal selama 15 ronde. Di ronde terakhir, Frazier menjatuhkan Ali. Meski Ali bangkit, ia kalah angka. Ini menjadi kekalahan pertama dalam karier profesionalnya dan awal rivalitas epik yang mengguncang dunia.
5. Rumble in the Jungle – Muhammad Ali vs George Foreman (1974)
Digelar di Kinshasa, Zaire, laga ini lebih dari sekadar perebutan gelar dunia. George Foreman saat itu dikenal sebagai monster kelas berat: muda, kuat, dan tak terkalahkan.
Ali datang sebagai underdog. Namun ia menyiapkan strategi “rope-a-dope”, bersandar di tali dan membiarkan Foreman menguras tenaga. Pada ronde kedelapan, Ali melancarkan kombinasi cepat yang menjatuhkan Foreman. Dunia kembali tercengang.
Kecerdasan taktik mengalahkan kekuatan brutal.
6. Thrilla in Manila – Muhammad Ali vs Joe Frazier III (1975)
Digelar 1 Oktober 1975 di Filipina, laga ini disebut sebagai salah satu pertarungan paling brutal dalam sejarah tinju. Suhu panas ekstrem dan tempo tinggi membuat duel ini seperti perang kehendak.
Selama 14 ronde, keduanya saling menghajar tanpa ampun. Mata Frazier bengkak parah hingga pelatihnya menghentikan laga sebelum ronde ke-15. Ali menang TKO, namun ia mengakui itu adalah pengalaman paling dekat dengan kematian dalam hidupnya.
Warisan Abadi Sang Legenda
Lewat 6 pertarungan legendaris Muhammad Ali, dunia melihat bahwa kebesaran bukan hanya soal menang. Ia bertarung demi identitas, keadilan, dan harga diri. Karismanya di luar ring sama besarnya dengan dominasinya di dalam ring.
Rekor 56 kemenangan dengan 37 KO hanyalah angka. Yang membuat Ali abadi adalah pengaruhnya terhadap budaya, politik, dan olahraga global. Ia mengubah tinju menjadi panggung perlawanan dan inspirasi.
Muhammad Ali bukan sekadar juara dunia kelas berat. Ia adalah simbol keberanian yang mengguncang dunia dan tetap dikenang sebagai “The Greatest” sepanjang masa.