BLITAR - Rian Garcia pernah digadang-gadang sebagai masa depan tinju dunia. Dengan rekor amatir 215 kemenangan dan hanya 15 kekalahan, Rian Garcia melesat cepat menjadi bintang muda yang dielu-elukan. Namun perjalanan karier Rian Garcia justru berubah drastis, dari raja knockout dan juara dunia interim menjadi sosok penuh kontroversi.
Regenerasi dalam tinju adalah keniscayaan. Setiap era melahirkan bintang baru. Rian Garcia, yang dijuluki King Ry atau The Flash, sempat menjadi simbol kebangkitan generasi muda Amerika. Ia aktif sejak usia dini dan bahkan menjadi juara nasional amatir sebanyak 15 kali.
Pada 2016, Rian Garcia memutuskan debut profesional. Pertarungan perdananya melawan Edgar Meza di Tijuana, Meksiko, berakhir dengan TKO ronde pertama. Sejak saat itu, namanya mulai diperhitungkan.
Melesat Cepat Jadi Bintang Muda
Karier Rian Garcia berkembang pesat ketika ia bergabung dengan Golden Boy Promotion milik Oscar De La Hoya. Di bawah promotor besar itu, ia mendapat panggung lebih luas, termasuk tampil dalam event besar yang juga menghadirkan Canelo Alvarez.
Tahun 2019 menjadi titik penting. Garcia menghadapi Romero Duno dan menang KO ronde pertama untuk merebut sabuk WBC Silver kelas ringan. Kemenangan-kemenangan cepat lainnya, termasuk atas Francisco Fonseca, membuatnya dikenal sebagai petinju dengan kecepatan tangan luar biasa dan hook kiri mematikan.
Popularitasnya melejit, tak hanya di atas ring tetapi juga di media sosial. Rian Garcia menjadi salah satu petinju dengan pengikut terbanyak, menjadikannya ikon generasi baru tinju yang dekat dengan dunia digital.
Puncak awal kariernya terjadi pada Januari 2021 saat menghadapi Luke Campbell untuk sabuk interim WBC kelas ringan. Meski sempat dijatuhkan di ronde kedua, Garcia bangkit dan menang KO lewat body shot di ronde ketujuh. Saat itu ia mencatat 23 kemenangan beruntun tanpa kekalahan.
Kekalahan dari Gervonta Davis Jadi Titik Balik
Namun kritik mulai bermunculan. Banyak pihak menilai Rian Garcia belum menghadapi lawan elite sejati. Ujian sesungguhnya datang saat ia bertarung melawan juara dunia WBA, Gervonta “Tank” Davis.
Pertarungan tersebut sangat dinanti. Garcia sempat bangkit setelah knockdown di ronde kedua, tetapi di ronde ketujuh, body shot kiri Davis menghantam telak ke perutnya. Garcia tersungkur dan tak mampu melanjutkan laga. Kekalahan itu menjadi noda pertama dalam karier profesionalnya.
Usai laga tersebut, Rian Garcia mengungkap dirinya mengalami depresi, kecemasan, dan OCD. Ia berbicara terbuka soal kesehatan mental dan ingin meningkatkan kesadaran akan isu tersebut. Banyak penggemar tetap memberi dukungan.
Comeback, Skandal Doping, dan Kontroversi
Garcia mencoba bangkit lewat pertarungan melawan Oscar Duarte. Ia menang KO ronde kedelapan dalam laga yang disebut sebagai comeback penting secara psikologis.
Namun badai baru datang. Pada April 2024, ia menghadapi juara dunia WBC kelas ringan super, Devin Haney. Garcia tampil impresif dan menjatuhkan Haney beberapa kali hingga meraih kemenangan angka mayoritas.
Sayangnya, hasil tes doping menunjukkan ia positif mengandung Ostarine, zat anabolik terlarang. Kemenangan tersebut dibatalkan menjadi no contest. Komisi Atletik New York menjatuhkan sanksi larangan bertanding satu tahun kepada Rian Garcia.
Masalah tidak berhenti di situ. Aktivitasnya di media sosial memicu kontroversi setelah ia melontarkan ujaran kebencian dan pernyataan diskriminatif. Citra Rian Garcia sebagai bintang muda penuh talenta mulai tergantikan dengan reputasi kontroversial.
Kekalahan dari Rolando Romero
Setelah masa suspensi, Rian Garcia kembali naik ring menghadapi Rolando “Rolly” Romero. Banyak yang menjagokannya menang, mengingat rekor Romero yang tidak konsisten.
Namun kenyataan berkata lain. Romero tampil agresif dan menjatuhkan Garcia di ronde kedua dengan hook kiri. Setelah itu, Garcia tampak kehilangan arah dan gagal menunjukkan determinasi sebagai petarung elit. Juri akhirnya memberikan kemenangan mutlak untuk Romero.
Kekalahan tersebut semakin memperburuk posisi Rian Garcia. Rencana duel ulang melawan Devin Haney pun sirna. Publik mulai mempertanyakan mental juaranya.
Perjalanan Rian Garcia menjadi potret naik-turun seorang bintang muda. Ia pernah melesat cepat dengan deretan KO spektakuler dan sabuk juara interim di usia muda. Namun kekalahan dari Gervonta Davis, skandal doping, kontroversi pribadi, hingga tumbang dari Romero membuat kariernya berada di titik terendah.
Kini pertanyaannya, mampukah Rian Garcia bangkit kembali? Ataukah kisahnya akan dikenang sebagai talenta besar yang gagal menjaga konsistensi dan mental juara?
Editor : Anggi Septian A.P.