BLITAR - Ryan Garcia kembali menjadi sorotan dunia tinju setelah rangkaian kemenangan sensasional yang mengukuhkan namanya sebagai salah satu petinju paling berbahaya di kelas ringan. Ryan Garcia dikenal luas berkat kecepatan tangan dan hook kiri mematikan yang kerap membuat lawannya tumbang hanya dalam hitungan ronde.
Julukan King Ry bukan sekadar gimmick. Ryan Garcia membuktikannya lewat deretan kemenangan KO cepat sejak awal karier profesionalnya. Kecepatan pukulannya bahkan kerap disebut sebagai salah satu yang tercepat di dunia tinju modern. Kombinasi kecepatan, akurasi, dan timing membuat hook kirinya menjadi senjata utama yang mematikan.
Popularitas Ryan Garcia juga melambung berkat citra dirinya di media sosial. Selain prestasi di atas ring, wajah tampan dan keaktifannya mempromosikan diri membuatnya menjadi salah satu atlet tinju paling dikenal secara global.
Awal Karier dan Rekor Amatir Mentereng
Jauh sebelum menjadi bintang dunia, Ryan Garcia sudah menekuni tinju sejak usia tujuh tahun. Sosok sang ayah, Henry Garcia, berperan besar dalam membentuk mental dan teknik bertarungnya.
Hasilnya luar biasa. Garcia tercatat menjadi juara nasional amatir sebanyak 15 kali dengan rekor 215 kemenangan dan hanya 15 kekalahan. Rekor tersebut menjadi fondasi kuat sebelum ia memutuskan terjun ke dunia profesional pada 2016, saat usianya baru 17 tahun.
Debut profesionalnya langsung mencuri perhatian. Garcia berkali-kali menang KO hanya dalam dua ronde. Bakat besarnya membuat promotor Golden Boy Promotions, Oscar De La Hoya, tertarik mengontraknya.
Di bawah naungan Golden Boy, karier Garcia melesat. Ia mengalahkan Jose Antonio Martinez hanya dalam dua ronde, disusul kemenangan cepat atas Devon Jones dan Tyron Luckey dengan pola serupa. Bahkan saat menghadapi Mario Macias, Garcia hanya membutuhkan satu ronde untuk memastikan kemenangan.
Rebut Gelar dan Dominasi di Kelas Ringan
Performa impresif itu membawanya merebut sabuk WBC-NABF Junior kelas bulu super setelah mengalahkan Miguel Carrizoza dalam satu ronde. Itu menjadi gelar profesional pertamanya.
Setelahnya, Ryan Garcia mempertahankan dominasinya. Cesar Alan Valenzuela dan Fernando Vargas sama-sama takluk di hadapannya. Performa konsisten tersebut membuat Garcia bergabung dengan tim pelatih Eddy Reynoso, yang juga melatih Saul Canelo Alvarez.
Di bawah Reynoso, Garcia semakin matang. Ia menghadapi Braulio Rodriguez dalam duel panas yang sempat diwarnai aksi dorong saat face-off. Namun di atas ring, Garcia membungkam Rodriguez dengan kemenangan TKO.
Tahun 2019 menjadi titik penting ketika Garcia merebut sabuk WBO NABO dan WBC Silver kelas ringan. Lawan-lawannya seperti Romero Duno dan Francisco Fonseca ditumbangkan dengan cepat, sebagian besar hanya dalam satu ronde.
Ujian Berat dan Kebangkitan
Pandemi Covid-19 sempat membuat Garcia vakum. Saat kembali, ia menghadapi ujian terberat melawan Luke Campbell, peraih medali emas Olimpiade. Dalam laga itu, Garcia untuk pertama kalinya dijatuhkan di ronde kedua.
Namun mental juaranya berbicara. Ia bangkit dan justru menghentikan Campbell di ronde ketujuh lewat pukulan body shot keras yang memastikan kemenangan TKO.
Setelah lima laga bersama Eddy Reynoso, Garcia memutuskan berpisah dan kembali bekerja sama dengan Joe Goossen. Di bawah Goossen, gaya bertarungnya menjadi lebih agresif. Ia mengalahkan Emmanuel Tagoe lewat kemenangan angka.
Kekalahan Pertama dan Comeback Spektakuler
Ujian terbesar datang saat Ryan Garcia menghadapi Gervonta Davis. Dalam duel yang sangat dinanti publik, Garcia harus menerima kekalahan pertama dalam karier profesionalnya.
Kekalahan tersebut menjadi momen evaluasi besar. Garcia kemudian berlatih di bawah Derrick James, pelatih yang juga menangani Errol Spence Jr. Hasilnya mulai terlihat.
Garcia bangkit dengan kemenangan KO ronde kedelapan atas Oscar Duarte. Puncaknya, ia mencetak kemenangan mengejutkan atas Devin Haney, petinju yang sebelumnya belum terkalahkan.
Kemenangan atas Haney kembali menegaskan bahwa Ryan Garcia belum habis. Dengan usia yang masih relatif muda, kecepatan tangan eksplosif, serta hook kiri mematikan, King Ry tetap menjadi ancaman nyata di divisi kelas ringan dunia.
Editor : Anggi Septian A.P.