Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah PSSI, Lahir dari Perlawanan terhadap Belanda, Soeratin Jadikan Sepak Bola Alat Perjuangan Nasional

Muhamad Ahsanul Wildan • Jumat, 27 Februari 2026 | 15:20 WIB

Sejarah PSSI: lahir dari perlawanan Belanda, kiprah Soeratin, hingga jadi anggota FIFA dan AFC.
Sejarah PSSI: lahir dari perlawanan Belanda, kiprah Soeratin, hingga jadi anggota FIFA dan AFC.

BLITAR KAWENTAR - Sejarah PSSI tidak bisa dilepaskan dari semangat perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Berdiri pada 19 April 1930 di Yogyakarta, PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia lahir bukan sekadar sebagai organisasi olahraga, melainkan sebagai simbol kebangkitan nasionalisme melalui sepak bola.

Dalam sejarah PSSI, tokoh sentral yang berperan besar adalah Soeratin Sosrosoegondo.

Insinyur sipil lulusan Sekolah Teknik Tinggi di Jerman itu kembali ke Indonesia pada 1928.

Awalnya ia bekerja di perusahaan konstruksi milik Belanda di Yogyakarta. Namun, jiwa nasionalismenya mendorong ia mundur dan aktif dalam pergerakan pemuda.

Sejarah PSSI juga erat kaitannya dengan momentum Sumpah Pemuda. Soeratin melihat sepak bola sebagai wahana strategis untuk menyemai semangat persatuan di kalangan pemuda.

Melalui olahraga yang digemari rakyat, ia membangun jaringan dan menggelar pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Bandung, dan Yogyakarta secara diam-diam untuk menghindari pengawasan kolonial.

Lahirnya PSSI di Tengah Tekanan Kolonial

Puncaknya terjadi pada 19 April 1930. Wakil-wakil perkumpulan sepak bola dari berbagai daerah berkumpul dan mendeklarasikan berdirinya PSSI.

Organisasi ini awalnya bernama Persatuan Sepakbola Indonesia, sebelum akhirnya dalam Kongres Solo 1950 diubah menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Sejak awal, PSSI memiliki misi perjuangan. Kompetisi internal antar-perserikatan digelar sebagai bentuk konsolidasi kekuatan sepak bola pribumi.

Turnamen antarkota mulai dilaksanakan pada 1931 di Surakarta. Perkembangan ini bahkan mendapat dukungan dari Sri Susuhunan Pakubuwono X yang membangun Stadion Sriwedari sebagai bentuk apresiasi atas kebangkitan sepak bola kebangsaan.

Pada 1938, berdiri Ikatan Sport Indonesia (ISI) yang menyelenggarakan Pekan Olahraga di Solo.

Namun, dinamika terjadi ketika federasi bentukan Belanda, NIVU, mengirim tim ke Piala Dunia 1938 tanpa melibatkan PSSI.

Soeratin memprotes keras langkah tersebut karena melanggar kesepakatan kerja sama atau “gentlemen’s agreement” yang sebelumnya ditandatangani.

Sebagai bentuk sikap tegas, Soeratin membatalkan sepihak perjanjian dengan NIVU dalam Kongres PSSI 1938.

Sikap ini menegaskan bahwa sejak awal sejarah PSSI dibangun atas dasar kedaulatan dan harga diri bangsa.

PSSI Pasca Kemerdekaan dan Tantangan Prestasi

Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942, aktivitas PSSI sempat pasif karena dilebur dalam organisasi olahraga bentukan Jepang.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, PSSI kembali bangkit dan menata organisasi.

Tonggak penting sejarah PSSI berikutnya adalah saat resmi menjadi anggota FIFA pada 1 November 1952 di Helsinki.

Pada tahun yang sama, PSSI juga diterima sebagai anggota AFC. Bahkan, PSSI menjadi salah satu pelopor pembentukan AFF di kawasan Asia Tenggara.

Secara hukum, PSSI memantapkan statusnya pada 1953 dengan pengesahan dari Departemen Kehakiman Republik Indonesia.

Sejak itu, PSSI diakui sebagai satu-satunya induk organisasi sepak bola nasional yang sah.

Namun perjalanan panjang tersebut tidak selalu mulus. Dunia persepakbolaan Indonesia mengalami pasang surut, baik dari sisi kualitas pemain, kompetisi, maupun tata kelola organisasi.

Pada era sebelum 1970-an, Indonesia sempat memiliki pemain hebat seperti Ramang dan Tan Liong Houw yang mampu bersaing di level internasional.

Kini, PSSI menaungi berbagai kompetisi, mulai dari Divisi Utama, Divisi 1, Divisi 2, Divisi 3, hingga kelompok umur U-15, U-17, U-19, dan U-23.

Sepak bola wanita serta futsal juga berada dalam koordinasi PSSI. Selain itu, PSSI mengatur pertandingan Porda, PON, hingga laga internasional yang melibatkan klub dan tim nasional.

Meski telah menghabiskan dana besar untuk pembinaan tim nasional, hasil yang diraih belum sepenuhnya memuaskan.

Pengamat menilai, peningkatan prestasi tidak cukup hanya berfokus pada Timnas, tetapi juga harus memperbaiki sistem kompetisi dan manajemen organisasi secara menyeluruh.

Sejarah PSSI membuktikan bahwa sepak bola Indonesia lahir dari semangat perjuangan dan nasionalisme.

Tantangan hari ini adalah mengembalikan roh perjuangan itu dalam bentuk profesionalisme, tata kelola yang bersih, dan kompetisi yang sehat agar kejayaan sepak bola Indonesia benar-benar terwujud.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#afc #Soeratin Sosrosoegondo #aff #sejarah pssi #fifa