BLITAR KAWENTAR - Tujuh klub pendiri PSSI kembali menjadi sorotan publik di tengah maraknya fenomena pergantian nama dan relokasi klub sepak bola Indonesia.
Di saat sejumlah tim berganti identitas dan homebase, tujuh klub pendiri PSSI ini justru memiliki status historis yang tak bisa diganggu gugat.
Sebagai fondasi berdirinya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), nama-nama klub ini telah tercatat secara resmi dan tidak dapat diubah.
Identitas mereka melekat sejak awal pembentukan federasi sepak bola nasional dan menjadi bagian penting sejarah sepak bola Indonesia.
Berbeda dengan sejumlah klub modern seperti Bali United atau Bhayangkara FC yang lahir dari proses merger maupun relokasi, tujuh klub pendiri PSSI ini memiliki akar sejarah panjang sejak era perserikatan.
Persija dan Persib, Dua Raksasa yang Tetap Eksis
Nama pertama adalah Persija Jakarta. Klub berjuluk Macan Kemayoran ini menjadi salah satu pilar utama dalam sejarah PSSI.
Dalam satu dekade terakhir, Persija menunjukkan eksistensinya dengan menjuarai Liga 1 2018 dan Piala Presiden 2021.
Dukungan Jakmania juga menjadi kekuatan besar yang menjaga marwah klub ibu kota ini.
Rival abadinya, Persib Bandung, juga termasuk dalam tujuh klub pendiri PSSI. Berdiri pada 14 Maret 1933, Persib menjadi simbol kebanggaan Jawa Barat.
Maung Bandung konsisten menjadi kekuatan utama di Liga 1 dan memiliki basis suporter fanatik, Bobotoh, yang selalu memenuhi stadion.
Kedua klub ini bukan hanya besar dari sisi sejarah, tetapi juga prestasi dan popularitas. Mereka tetap stabil di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
PSIM, Persis, dan PPSM, Sejarah Panjang, Tantangan Berat
Dari Yogyakarta, ada PSIM Yogyakarta yang lahir pada 5 September 1929. Klub berwarna biru ini sempat berjaya di era perserikatan.
Namun dalam satu dekade terakhir, performa PSIM cenderung naik turun dan lebih sering berkutat di Liga 2.
Selanjutnya ada Persis Solo yang berdiri pada 1923. Laskar Sambernyawa memiliki sejarah panjang dan sempat menjadi kekuatan penting di masa lalu. Kini Persis terus berbenah untuk kembali bersaing di papan atas sepak bola nasional.
Dari Magelang, PPSM Magelang juga masuk daftar tujuh klub pendiri PSSI. Prestasi terbaiknya tercatat sebagai peringkat ketiga perserikatan 1935 dan semifinalis Piala Indonesia 2011-2012. Namun hingga kini, PPSM masih berjuang untuk promosi ke Liga 1.
Persebaya dan PSM Madiun, Identitas yang Tak Tergantikan
Nama besar lain adalah Persebaya Surabaya. Klub asal Kota Pahlawan ini dikenal dengan julukan Bajul Ijo dan dukungan fanatik Bonek.
Persebaya sempat terpuruk dan bermain di Liga 2, namun bangkit dan promosi ke Liga 1 pada 2018 setelah menjuarai Liga 2 2017.
Persebaya menjadi contoh bagaimana klub bersejarah tetap mampu bertahan di tengah dinamika kompetisi modern.
Identitas dan sejarah panjangnya membuat nama klub ini tak bisa diganti atau diubah.
Terakhir, ada PSM Madiun yang juga termasuk dalam tujuh klub pendiri PSSI. Meski kini belum kembali ke kasta tertinggi, status historisnya sebagai bagian dari fondasi sepak bola Indonesia tetap melekat kuat.
Mayoritas Masih di Liga 2
Menariknya, dari tujuh klub pendiri PSSI tersebut, hanya Persija, Persib, dan Persebaya yang saat ini relatif stabil di Liga 1. Sementara empat klub lainnya masih berjuang di Liga 2.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana klub-klub dengan sejarah panjang justru tertinggal secara prestasi dibanding tim-tim baru ? Namun satu hal yang tak terbantahkan, identitas tujuh klub pendiri PSSI ini bersifat permanen dan tidak bisa diubah, sekalipun oleh kepentingan sponsor atau investor.
Di tengah era sepak bola modern yang serba komersial, keberadaan tujuh klub pendiri PSSI menjadi pengingat bahwa sejarah dan identitas adalah fondasi utama.
Mereka bukan sekadar peserta kompetisi, tetapi simbol lahirnya sepak bola Indonesia.
Editor : Anggi Septian A.P.