Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Sepak Bola Indonesia, Dari Diskriminasi Kolonial hingga Lahirnya PSSI dan Kiprah Bersejarah di Piala Dunia 1938

Muhamad Ahsanul Wildan • Jumat, 27 Februari 2026 | 15:35 WIB

Sejarah sepak bola Indonesia dari era kolonial, lahirnya PSSI, hingga kiprah bersejarah di Piala Dunia 1938.
Sejarah sepak bola Indonesia dari era kolonial, lahirnya PSSI, hingga kiprah bersejarah di Piala Dunia 1938.

BLITAR KAWENTAR - Sejarah sepak bola Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang bangsa ini dalam memperjuangkan identitas dan kesetaraan.

Jauh sebelum Timnas Indonesia dikenal luas seperti sekarang, fondasi sepak bola nasional telah dibangun sejak era kolonial Belanda.

Sejarah sepak bola Indonesia bahkan menjadi bagian dari narasi besar kebangkitan nasional.

Dalam catatan sejarah, sepak bola mulai berkembang di tanah air sekitar tahun 1914 saat Indonesia masih berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.

Pada masa itu berdiri organisasi bernama Netherlands Indies Football Bond (NIVB), yang menjadi badan pengatur sepak bola pertama di wilayah Hindia Belanda.

Awal Mula Sepak Bola di Era Kolonial

NIVB kemudian berganti nama menjadi Netherlands Indies Football Unie (NIVU) pada 1927.

Meski menjadi wadah resmi kompetisi, organisasi ini didominasi oleh komunitas Eropa.

Klub-klub pribumi hanya dianggap pelengkap dan tidak memiliki suara signifikan dalam pengambilan keputusan.

Sepak bola awalnya diperkenalkan oleh sekolah dan perusahaan Belanda. Permainan ini cepat populer, tidak hanya di kalangan orang Eropa, tetapi juga masyarakat pribumi dan etnis lainnya.

Namun, kesenjangan sosial sangat terasa. Klub Eropa mendapat akses stadion dan fasilitas lebih baik, sementara klub pribumi sering diperlakukan tidak adil dalam kompetisi.

Situasi ini memicu ketidakpuasan. Bagi pribumi, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan simbol harga diri dan perlawanan terhadap diskriminasi kolonial.

Kesadaran nasionalisme yang tumbuh sejak Sumpah Pemuda 1928 turut mendorong lahirnya gagasan membentuk organisasi sepak bola yang mandiri.

Baca Juga: Mengungkap Sejarah Bobotoh Persib: Dari Makna Kamus Sunda Hingga Menjadi Basis Suporter Paling Fanatik di Indonesia, Fakta 1937 Bikin Merinding!

Lahirnya PSSI sebagai Simbol Perlawanan

Momentum penting dalam sejarah sepak bola Indonesia terjadi pada 19 April 1930. Sejumlah tokoh dan perwakilan klub pribumi berkumpul secara diam-diam di Yogyakarta untuk menghindari pengawasan pemerintah kolonial. Dari pertemuan itu lahirlah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Awalnya organisasi ini bernama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia sebelum akhirnya istilah “sepak raga” diganti menjadi “sepak bola” dalam kongres di Solo tahun 1950.

Sejak berdiri, PSSI rutin menggelar kompetisi mulai 1931. Bahkan ada instruksi lisan kepada para pemain pribumi agar tidak kalah ketika menghadapi klub Belanda, sebuah bentuk semangat perlawanan melalui olahraga.

Di balik berdirinya PSSI, terdapat sosok sentral yang namanya kini melegenda, yakni Soeratin Sosrosoegondo.

Lahir di Yogyakarta pada 17 Desember 1898, Soeratin adalah seorang insinyur lulusan Jerman yang memilih meninggalkan karier mapan demi mengurus sepak bola nasional.

Perjuangan Soeratin dan Kiprah Internasional

Soeratin menjabat sebagai Ketua Umum PSSI selama 11 periode berturut-turut, dari 1930 hingga 1940.

Di bawah kepemimpinannya, sepak bola menjadi sarana memperkuat nasionalisme. Ia aktif menjalin komunikasi dengan klub-klub pribumi di berbagai kota seperti Solo, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, dan Bandung.

Puncak pencapaian pada era tersebut terjadi ketika tim nasional Hindia Belanda tampil di Piala Dunia FIFA 1938 di Prancis.

Turnamen yang berlangsung 4–19 Juni 1938 itu mencatat sejarah karena Hindia Belanda menjadi tim Asia pertama yang tampil di ajang Piala Dunia.

Meski saat itu masih membawa nama Hindia Belanda, keikutsertaan tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa talenta dari tanah air mampu bersaing di level dunia, bahkan dalam situasi politik yang belum merdeka.

Namun, dedikasi Soeratin terhadap sepak bola harus dibayar mahal. Ia meninggalkan pekerjaannya di perusahaan Belanda demi fokus mengurus PSSI.

Di masa tuanya, ia hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. Soeratin wafat pada 1 Desember 1959 dan dimakamkan di TPU Sinaraga, Bandung.

Sebagai bentuk penghormatan, namanya diabadikan dalam turnamen usia muda nasional, yakni Piala Soeratin, yang hingga kini menjadi ajang pembinaan talenta sepak bola Indonesia.

Sejarah sepak bola Indonesia membuktikan bahwa olahraga ini bukan hanya soal pertandingan di lapangan, tetapi juga perjuangan identitas, persatuan, dan harga diri bangsa.

Dari diskriminasi kolonial hingga lahirnya PSSI dan kiprah di Piala Dunia 1938, sepak bola telah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Editor : Anggi Septian A.P.
#piala dunia 1938 #Soeratin Sosrosoegondo #hindia belanda #sejarah sepak bola indonesia #PSSI