BLITAR KAWENTAR - Daftar pelatih Timnas Indonesia sejak 2010 hingga 2023 mencatat dinamika yang tak biasa.
Dalam kurun waktu 13 tahun, skuad Garuda sudah mengalami 15 kali pergantian dengan total 13 pelatih berbeda.
Fakta ini menegaskan betapa tingginya dinamika dan tekanan di kursi panas pelatih Timnas Indonesia.
Dari deretan nama dalam daftar pelatih Timnas Indonesia tersebut, tercatat lima pelatih lokal dan delapan pelatih asing.
Pergantian yang cukup sering ini kerap dikaitkan dengan target prestasi di ajang internasional seperti Piala AFF, Kualifikasi Piala Dunia, hingga Asian Games.
Salah satu nama paling menonjol dalam daftar pelatih Timnas Indonesia adalah Alfred Riedl.
Pelatih asal Austria itu menjadi sosok yang paling sering menangani skuad Garuda. Ia tercatat tiga kali membesut Timnas, yakni periode 2010-2011, 2013-2014, dan 2016.
Alfred Riedl, Spesialis Final Piala AFF
Meski tak pernah mempersembahkan gelar juara, Alfred Riedl menjadi satu-satunya pelatih yang mampu membawa Indonesia dua kali ke final Piala AFF, yakni pada edisi 2010 dan 2016.
Konsistensinya menjadikan namanya selalu dikenang dalam sejarah kepelatihan Timnas Indonesia.
Setelah era Riedl, kursi pelatih diisi oleh Wim Rijsbergen pada Juli 2011. Pelatih asal Belanda itu sebelumnya merupakan asisten di Piala Dunia 2006 dan sempat menangani Trinidad dan Tobago.
Namun kiprahnya bersama Timnas tak berlangsung lama. Pada 2012, ia diberhentikan PSSI karena dinilai gagal memenuhi ekspektasi, termasuk dalam hal taktik dan instruksi di lapangan.
Penggantinya adalah Aji Santoso. Ia meneruskan perjuangan di Kualifikasi Piala Dunia 2014.
Namun hasil pahit kekalahan 0-10 dari Bahrain menjadi catatan kelam yang tak terlupakan. Aji pun tak bertahan lama.
Konflik dan Sanksi FIFA
Nama Nil Maizar kemudian masuk sebagai pelatih berikutnya. Ia sempat memimpin Indonesia di turnamen internasional Palestina 2012. Namun kegagalan di Piala AFF 2012 membuat masa jabatannya berakhir cepat.
Situasi sepak bola nasional kala itu juga diwarnai konflik internal PSSI. Bahkan penunjukan Luis Manuel Blanco pada 2013 tak berjalan mulus akibat dualisme kepengurusan federasi.
Nama lain seperti Rahmad Darmawan juga sempat dipercaya menangani Timnas senior. Namun masa baktinya pun relatif singkat.
Pada 2014, PSSI merekrut Pieter Huistra atas rekomendasi FIFA. Sayangnya, sanksi FIFA kepada Indonesia pada 2015 membuat seluruh aktivitas sepak bola nasional terhenti. Huistra pun tak bisa melanjutkan programnya.
Era Luis Milla dan Harapan Baru
Perubahan signifikan sempat terlihat saat Luis Milla ditunjuk sebagai pelatih. Ia membawa angin segar dengan filosofi permainan menyerang dan disiplin tinggi.
Di bawah asuhannya, Timnas U-23 tampil impresif di Asian Games 2018 dan ajang regional lainnya.
Namun keputusan PSSI untuk tak memperpanjang kontraknya memicu kekecewaan publik.
Banyak pecinta sepak bola menilai Luis Milla layak mendapat kesempatan lebih lama membangun fondasi Timnas.
Setelah itu, kursi pelatih diisi Simon McMenemy pada 2018. Eks pelatih Filipina tersebut gagal membawa Indonesia meraih hasil positif di Kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Kontraknya pun tak diperpanjang.
Shin Tae-yong, Pelatih Bergaji Fantastis
Kini, Timnas Indonesia berada di bawah kendali pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong.
Ia ditunjuk pada akhir 2019 dengan kontrak hingga 2023 dan menangani tim senior, U-23, serta U-19 sekaligus.
Shin Tae-yong disebut sebagai pelatih dengan bayaran tertinggi dalam sejarah Timnas Indonesia.
Ia menerima gaji sekitar 1 juta dolar AS per tahun atau setara Rp14,2 miliar. Jika dihitung per bulan, nominalnya mencapai sekitar Rp1,1 miliar.
Di tangan Shin Tae-yong, regenerasi pemain muda mulai terlihat. Sejumlah talenta baru mendapat kesempatan tampil di level internasional.
PSSI pun membebankan target tinggi agar Timnas mampu bersaing di Asia dan meraih gelar yang selama ini belum didapatkan.
Pergantian pelatih Timnas Indonesia yang begitu sering menjadi refleksi perjalanan panjang sepak bola nasional.
Stabilitas, visi jangka panjang, serta dukungan federasi menjadi kunci jika Indonesia ingin benar-benar berbicara banyak di pentas internasional.
Editor : Anggi Septian A.P.