BLITAR KAWENTAR - Laga Persib vs Persija pada 11 Januari 2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) kembali menegaskan satu hal. sepak bola modern bukan soal indah, tapi soal hasil akhir.
Persib Bandung menang tipis 1-0 atas rival abadinya, Persija Jakarta. Tiga poin dikunci, puncak klasemen paruh musim diamankan.
Namun, euforia kemenangan Persib vs Persija kali ini terasa berbeda. Media sosial terbelah.
Ada yang memuji kedisiplinan Maung Bandung, ada pula yang menyebut permainan mereka membosankan dan anti sepak bola.
Di balik kontroversi itu, satu nama berdiri tegak. Bojan Hodak.
Transformasi Mental Maung Bandung
Jika ditarik ke awal musim, Persib adalah tim yang atraktif tapi rapuh. Mereka gemar menyerang, tetapi kerap lengah di menit kritis.
Hodak datang membawa pendekatan berbeda. Ia bukan sekadar memperbaiki taktik, tetapi mengubah mentalitas.
Melawan Persija, Persib hanya mencatat 38 persen penguasaan bola. Sisanya milik Macan Kemayoran.
Namun statistik itu menipu. Hodak sengaja membiarkan lawan memegang bola, tetapi menutup ruang.
Skema ini mengingatkan publik pada gaya Jose Mourinho, terutama saat membawa Inter Milan menyingkirkan FC Barcelona di Liga Champions 2010.
Baca Juga: Kabar Baik Persib Bandung: Marc Klok Comeback, Maung Bandung Siap Terkam Madura United di GBLA!
Low Block Ekstrem dan Disiplin Militer
Persib menerapkan low block ekstrem. Jarak antar lini rapat, tak lebih dari 10–15 meter. Setiap celah langsung ditutup. Maxwell dan Alan dari Persija dibuat frustrasi.
Peran lini tengah menjadi kunci. Marc Klok dan Eliano Reijnders tampil sebagai pemutus aliran bola. Tackel bersih, disiplin posisi, dan konsentrasi penuh selama 90 menit.
Ini bukan strategi pengecut. Bertahan total selama satu pertandingan penuh membutuhkan fokus dan mental baja. Satu kesalahan kecil bisa menghancurkan semuanya.
Serangan Balik Kilat yang Mematikan
Parkir bus tanpa serangan balik adalah bunuh diri. Hodak paham betul itu. Gol semata wayang lahir dari transisi cepat. Hanya tiga sentuhan dari belakang ke depan.
Umpan direct Berginho, kesalahan antisipasi bek Persija, dan penyelesaian dingin Beckham Putra di menit kelima menjadi pembeda Persib vs Persija.
William Barros dan Berginho berperan sebagai eksekutor transisi. Mereka tak banyak menyentuh bola, tetapi begitu momentum datang, mereka melesat seperti peluru.
Bahkan ketika Persija bermain dengan 10 orang usai kartu merah Bruno Tubarao, Persib tak terpancing menyerang membabi buta.
Satu gol cukup. Menambah skor adalah bonus, menjaga kemenangan adalah kewajiban.
Kontroversi dan Realita
Pelatih Persija, Mauricio Souza, mengeluhkan laga yang dianggap tak menarik. Wajar. Menguasai 62 persen bola tanpa hasil tentu menyakitkan.
Namun sepak bola profesional bukan kontes estetika. Mourinho, Diego Simeone, hingga Carlo Ancelotti pernah menggunakan pendekatan serupa dan disebut jenius.
Kini, setelah Persib vs Persija berakhir 1-0, yang tercatat dalam sejarah bukan persentase penguasaan bola. Yang diingat adalah pemenangnya.
Persib berdiri di puncak dengan 38 poin. Identitas mereka mungkin berubah, tetapi mentalitas juara mulai terlihat nyata.
Editor : Anggi Septian A.P.