BLITAR KAWENTAR - Dara ayu asal Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, ini tidak ingin anak didiknya bernasib sama sepertinya di masa lalu. Sebab, dia pernah menjadi korban bullying semasa sekolah dulu. Maka dari itu, dia memilih mimpi sederhana namun kuat dengan menjadi seorang guru.
Cita-cita tersebut lahir dari pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Diana Madya Ratri pernah menjadi korban perundungan atau bullying. Pengalaman itu justru menjadi motivasi besar dalam hidupnya.
“Saya ingin menjadi guru supaya anak-anak didik saya nanti tidak merasakan hal yang sama seperti yang pernah saya alami. Mungkin banyak yang bilang gaji guru kecil, tapi menurut saya memperbaiki inner child anak-anak itu jauh lebih penting,” ujar Diana, sapaan akrabnya.
Baginya, menjadi guru bukan hanya soal profesi, melainkan juga tentang menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Kini, dia masih semester empat pada jurusan PGSD Universitas Negeri Malang (UM).
Memberantas bullying ini sejalan dengan advokasi pada ajang pageant yang sedang Diana jalani. Yakni sebagai Duta Generasi Berencana (GenRe) Kabupaten Blitar.
Maka dari itu, dia berusaha mewujudkan cita-cita dan passion yang berjalan beriringan.
“Bagi saya, gelar dan panggung bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah bagaimana ia bisa terus belajar, berkembang, dan memberikan dampak bagi orang lain,” ungkapnya.
Kini, Diana masih menjalani masa tugas sebagai Duta Genre Kabupaten Blitar sejak 2024. Perjalanan Diana menuju ajang tersebut tidak datang secara tiba-tiba.
Sejak kecil, dia sebenarnya sudah tertarik dengan dunia pageant. Namun, kesempatan itu baru benar-benar datang saat dirinya menempuh bangku kuliah.
Sebelum mengikuti Duta Genre Kabupaten Blitar, Diana terlebih dahulu menjajal kompetisi di tingkat kampus. Dia pernah menjadi finalis Putra-Putri Kampus 3 Universitas Negeri Malang.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika ia memutuskan mengikuti Duta Genre.
Baginya, ajang itu bukan sekadar kompetisi, melainkan juga ruang belajar untuk mengembangkan keberanian dan kemampuan diri.
“Sebenarnya dari kecil sudah tertarik dengan ajang pageant. Tapi baru terwujud saat sekarang ketika kuliah, karena ada kakak tingkat yang membimbing saya untuk mencoba. Saya ingin berani belajar. Dari situ akhirnya bisa sampai di titik ini,” katanya.
Dalam ajang Duta Genre, Diana mengangkat advokasi bertajuk Sehati (Sehatkan Anak Tercinta Indonesia).
Melalui program tersebut, dia aktif melakukan edukasi kepada remaja tentang berbagai persoalan yang kerap dihadapi generasi muda.
“Mulai dari pencegahan pernikahan dini, seks pranikah, penyalahgunaan narkoba, hingga bahaya radikalisme,” pungkasnya.(jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah