Program ini secara khusus menargetkan pembalap dari negara yang selama ini kurang terwakili di level Grand Prix. Dalam skema tersebut, tim yang diperkuat pembalap non-Spanyol dan non-Italia berpeluang mendapat bonus fantastis jika mampu meraih prestasi di ajang FIM Moto3 Junior World Championship.
Nama Ramadipa pun langsung menjadi sorotan. Pembalap muda asal Sleman itu digadang-gadang sebagai talenta masa depan Indonesia yang berpotensi melampaui capaian seniornya, Feda Ega Pratama, di kompetisi Eropa.
Program Insentif Miliaran Rupiah
Dorna Sports bersama Federasi Motor Internasional (FIM) menyiapkan insentif besar untuk mendorong lahirnya bintang baru dari luar Spanyol dan Italia. Negara-negara dengan basis penggemar besar seperti Indonesia dianggap sebagai pasar penting bagi perkembangan MotoGP.
Dalam skema tersebut, tim yang pembalapnya berhasil menjadi juara dunia FIM Moto3 Junior dengan minimal empat kemenangan dalam satu musim akan menerima bonus 200.000 euro, atau sekitar Rp3,8 miliar.
Jika pembalap finis sebagai runner-up dengan minimal tiga kemenangan, tim akan mendapatkan 100.000 euro atau sekitar Rp1,9 miliar. Bahkan untuk posisi ketiga dengan minimal dua kemenangan, bonus yang disiapkan masih mencapai 50.000 euro atau hampir Rp1 miliar.
Angka tersebut terbilang sangat besar. Nilainya bahkan disebut dua kali lipat dari harga satu unit motor prototipe Moto3.
Selain itu, bonus juga diberikan kepada pembalap secara individu. Pembalap yang finis di posisi 10 besar klasemen akhir akan mendapat insentif mulai dari 500 euro hingga 7.000 euro untuk juara.
Ramadipa Jadi Pusat Perhatian
Di tengah program tersebut, Muhammad Kiandra Ramadipa disebut sebagai salah satu kandidat yang bisa memanfaatkan peluang besar ini.
Pembalap muda Indonesia itu sebelumnya sudah menunjukkan performa menjanjikan di Eropa. Ia sempat meraih podium di Red Bull Rookies Cup dan bahkan memenangkan dua balapan di European Talent Cup.
Salah satu kemenangan Ramadipa bahkan diraih secara dramatis setelah memulai balapan dari posisi start ke-24. Pencapaian tersebut memperkuat reputasinya sebagai pembalap muda dengan mentalitas juara.
Dengan usianya yang segera memenuhi syarat untuk tampil di Moto3 Junior, pintu menuju level yang lebih tinggi pun semakin terbuka lebar.
Sejumlah tim di Eropa dikabarkan mulai memantau perkembangan Ramadipa. Mereka menilai merekrut pembalap Indonesia bukan hanya soal bakat, tetapi juga peluang mendapatkan bonus besar dari program Dorna.
Bayang-Bayang Rekor Feda Ega Pratama
Namun perjalanan Ramadipa tidak akan mudah. Ia harus menghadapi tekanan besar untuk melampaui pencapaian seniornya, Feda Ega Pratama.
Musim lalu, Feda mencatat sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang mampu menembus 10 besar klasemen akhir FIM Junior GP. Prestasi tersebut diraih meskipun ia sempat mengalami cedera pada awal musim.
Kini, dengan adanya program insentif baru, banyak pihak menilai Dorna secara tidak langsung menciptakan tolok ukur baru bagi Ramadipa.
Jika ingin mendapatkan bonus individu dari Dorna, target minimal yang harus dicapai Ramadipa adalah menyamai prestasi Feda dengan finis di posisi 10 besar.
Namun dengan bakat yang dimilikinya serta bonus miliaran rupiah yang dipertaruhkan untuk tim, banyak pengamat percaya target Ramadipa tentu jauh lebih tinggi dari sekadar posisi tersebut.
Rivalitas Baru Pembalap Indonesia
Beberapa pengamat bahkan menilai kebijakan Dorna ini bisa memicu rivalitas baru antar pembalap Indonesia di level internasional.
Strategi semacam ini bukan hal baru di dunia balap. Spanyol pernah memiliki rivalitas sengit antara Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo, dan Marc Marquez. Sementara Italia terkenal dengan persaingan Valentino Rossi dan Max Biaggi.
Kini, Dorna disebut ingin menciptakan narasi serupa dari Asia Tenggara dengan menampilkan duel antara Ramadipa dan Feda.
Jika skenario ini benar-benar terjadi, bukan tidak mungkin dalam lima hingga enam tahun ke depan publik dunia akan menyaksikan dua pembalap Indonesia bersaing di level MotoGP.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Tekanan besar pada usia muda bisa menjadi motivasi untuk berkembang, tetapi juga berpotensi menjadi beban psikologis.
Yang jelas, program insentif Dorna ini dianggap sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia kini semakin diperhitungkan dalam peta masa depan MotoGP.
Editor : Anggi Septian A.P.