BLITAR - Banyak orang menganggap Liga Inggris sebagai pusat sepak bola dunia saat ini. Namun jika melihat sejarah prestasi, Inggris sebenarnya bukan negara paling dominan di sepak bola internasional. Brasil menjadi negara dengan gelar Piala Dunia terbanyak, sementara Real Madrid dari Spanyol adalah klub dengan koleksi trofi Liga Champions terbanyak.
Meski demikian, Liga Inggris tetap dianggap sebagai pusat sepak bola dunia. Popularitas kompetisi ini bahkan melampaui liga besar lain seperti La Liga Spanyol, Serie A Italia, atau Bundesliga Jerman. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan besar: mengapa Liga Inggris bisa menjadi pusat sepak bola dunia, meski prestasi internasionalnya tidak selalu dominan?
Jawabannya ternyata berkaitan dengan sejarah panjang sepak bola modern, kekuatan ekonomi, hingga revolusi besar yang terjadi setelah lahirnya Premier League pada awal 1990-an.
Inggris sebagai Pionir Sepak Bola Modern
Asal-usul sepak bola memang masih diperdebatkan. Beberapa sejarawan menyebut permainan serupa sepak bola sudah ada di Tiongkok dengan nama Cuju.
Namun sepak bola modern yang dikenal saat ini banyak berkembang di Inggris. Asosiasi sepak bola Inggris atau Football Association (FA) dibentuk pada tahun 1863.
Sementara itu, kompetisi sepak bola resmi pertama di dunia adalah Piala FA yang dimulai pada 1871.
FIFA sendiri baru berdiri pada tahun 1904 di Paris, Prancis. Artinya Inggris sudah lebih dulu mengembangkan sistem kompetisi sepak bola sebelum organisasi sepak bola dunia tersebut terbentuk.
Meski menjadi pionir, Inggris justru baru mengikuti Piala Dunia pada 1950 karena sebelumnya sempat keluar dari keanggotaan FIFA pada 1928.
Dominasi Eropa Berkat Faktor Ekonomi
Seiring berjalannya waktu, pusat sepak bola dunia bergeser ke Eropa. Hal ini tidak lepas dari kekuatan ekonomi negara-negara Eropa yang lebih maju dibandingkan banyak negara lain.
Sepak bola modern membutuhkan biaya besar, mulai dari pembangunan stadion, gaji pemain, hingga manajemen klub profesional.
Dengan dukungan ekonomi yang kuat, klub-klub Eropa mampu menawarkan gaji lebih tinggi serta fasilitas yang lebih baik bagi pemain.
Akibatnya, banyak pemain berbakat dari Amerika Selatan atau wilayah lain memilih berkarier di Eropa.
Inilah yang membuat kompetisi Eropa menjadi magnet bagi talenta sepak bola dunia.
Meski kini menjadi liga paling populer, sepak bola Inggris pernah mengalami masa kelam pada 1980-an.
Salah satu tragedi paling terkenal adalah Tragedi Heysel 1985, ketika bentrokan suporter Liverpool dan Juventus di final Piala Champions Eropa menyebabkan 39 orang meninggal dunia.
Akibat tragedi tersebut, UEFA menjatuhkan sanksi kepada klub-klub Inggris berupa larangan tampil di kompetisi Eropa selama lima tahun.
Sanksi itu membuat popularitas sepak bola Inggris menurun drastis. Banyak pemain bintang memilih meninggalkan Inggris.
Tragedi lain terjadi pada Hillsborough 1989, saat pertandingan semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest. Insiden ini menewaskan 96 suporter Liverpool akibat buruknya infrastruktur stadion.
Dua tragedi tersebut menjadi titik balik bagi reformasi besar dalam sepak bola Inggris.
Lahirnya Premier League
Perubahan besar terjadi pada tahun 1992 ketika klub-klub besar Inggris memutuskan membentuk kompetisi baru bernama English Premier League (EPL).
Liga ini dibentuk untuk meningkatkan pemasukan dari sponsor dan hak siar televisi.
Pada musim pertamanya, Premier League berhasil menjual hak siar kepada Sky Sports dan BBC dengan nilai sekitar 304 juta pound sterling untuk kontrak lima tahun.
Dana tersebut dibagikan secara relatif merata kepada klub-klub peserta liga.
Model distribusi pendapatan ini menjadi kunci kesuksesan Premier League.
Berbeda dengan beberapa liga lain, pendapatan dari hak siar internasional di Premier League dibagi rata kepada seluruh klub.
Sementara sebagian lainnya dibagikan berdasarkan jumlah penayangan di televisi dan posisi akhir klasemen.
Sistem Finansial yang Lebih Seimbang
Sistem pembagian pendapatan tersebut membuat klub-klub kecil di Inggris tetap memiliki kekuatan finansial yang cukup baik.
Akibatnya, tim yang tidak terlalu besar pun mampu membeli pemain berkualitas dan memperbaiki infrastruktur stadion.
Perbedaan pendapatan antara klub besar dan kecil di Liga Inggris juga tidak terlalu jauh dibandingkan liga lain.
Hal ini membuat kompetisi menjadi lebih kompetitif dan menarik bagi penonton.
Popularitas Premier League pun terus meningkat karena pertandingan menjadi lebih sulit diprediksi.
Peran Investor dan Pemilik Klub
Kesuksesan Premier League juga tidak lepas dari kehadiran investor besar yang bersedia mengeluarkan dana besar.
Salah satu contoh awal adalah Jack Walker, yang membeli Blackburn Rovers pada awal 1990-an.
Dengan investasi besar, Blackburn bahkan berhasil menjuarai Premier League musim 1994–1995.
Setelah itu, banyak investor lain mengikuti jejak tersebut. Beberapa di antaranya adalah Roman Abramovich di Chelsea, Sheikh Mansour di Manchester City, serta pemilik klub besar seperti Manchester United, Arsenal, dan Liverpool.
Investasi besar tersebut membuat klub-klub Inggris mampu mendatangkan pemain-pemain terbaik dunia.
Liga Inggris Jadi Liga Paling Populer
Kombinasi antara sistem keuangan yang stabil, investasi besar, dan pemasaran global membuat Premier League menjadi liga paling populer di dunia.
Pertandingan Liga Inggris kini disiarkan ke berbagai negara, termasuk Asia dan Amerika.
Pendapatan dari hak siar pun terus meningkat setiap periode kontrak baru.
Tidak mengherankan jika banyak klub Inggris masuk dalam daftar klub sepak bola terkaya di dunia.
Dengan kekuatan finansial yang besar, Liga Inggris kini menjadi magnet utama bagi pemain, pelatih, dan penggemar sepak bola dari seluruh dunia.
Editor : Anggi Septian A.P.