JAKARTA – Dunia sepak bola Italia tengah diguncang oleh fenomena luar biasa dari pinggiran Danau Como. Como 1907, klub yang beberapa tahun lalu hanyalah tim pesakitan yang nyaris bangkrut, kini menjelma menjadi predator baru di kasta tertinggi Italia. Kemenangan bersejarah atas Juventus baru-baru ini menjadi sinyal kuat bahwa Kebangkitan Como 1907 ke Kompetisi Eropa sedang berlangsung dan sulit untuk dihentikan.
Laju impresif klub milik konglomerat asal Indonesia, Hartono bersaudara melalui Grup Djarum ini, mencapai puncaknya pada Giornata kedelapan Serie A musim 2025/2026. Menghadapi Juventus yang sebelumnya memegang rekor tak terkalahkan, Como tampil tanpa rasa takut di hadapan publik Stadio Giuseppe Sinigaglia. Kemenangan meyakinkan 2-0 tidak hanya menggemparkan publik Italia, tetapi juga membuktikan bahwa target menembus zona kontinental adalah hal yang realistis.
Perjalanan ini merupakan anomali yang indah. Dari keterpurukan di Serie D atau kasta keempat pada tahun 2019, klub berjuluk I Lariani ini merangkak naik dengan visi jangka panjang yang sangat matang. Keberhasilan menumbangkan raksasa Turin seolah menjadi jawaban elegan bagi para kritikus yang sempat meragukan kapasitas Como sebagai klub promosi. Kini, impian melihat Kebangkitan Como 1907 ke Kompetisi Eropa hanya tinggal menunggu waktu.
Sentuhan Magis Cesc Fabregas dan Nico Paz
Di balik performa ugal-ugalan Como, ada tangan dingin Cesc Fabregas. Pelatih muda yang juga legenda hidup sepak bola dunia ini berhasil menanamkan filosofi bermain berbasis penguasaan bola dan umpan pendek cepat. Gaya main yang mengingatkan pada Tiki-taka Spanyol ini membuat Como tidak hanya sekadar bertahan, tetapi berani mengontrol jalannya pertandingan melawan tim-tim besar sejati.
Namun, taktik brilian Fabregas tidak akan berjalan sempurna tanpa sosok Nico Paz. Gelandang muda berbakat yang didatangkan dari Real Madrid ini menjadi otak permainan di lini tengah. Dalam laga melawan Juventus, visi permainan Nico Paz terbukti krusial. Ia memberikan assist untuk gol pembuka yang dicetak Maximilian Kempf pada menit keempat, sebelum akhirnya ia sendiri yang mengunci kemenangan melalui tendangan jarak jauh yang spektakuler pada menit ke-78.
"Kombinasi antara kecerdasan taktik Fabregas dan insting luar biasa Nico Paz menciptakan keseimbangan yang langka di klub promosi," ungkap pengamat sepak bola dalam analisis kemenangan tersebut. Kedalaman skuad yang diperkuat oleh pemain berpengalaman seperti Alvaro Morata dan bakat muda seperti Martin Baturina menjadikan Como tim yang sangat berbahaya dan sulit ditebak pergerakannya.
Ambisi Papan Atas dan Modal Finansial Kuat
Keseriusan manajemen Como di bawah kendali Presiden Mirwan Suarso tidak main-main. Untuk mendukung misi Kebangkitan Como 1907 ke Kompetisi Eropa, klub tercatat mengeluarkan dana hingga 107,45 juta Euro pada bursa transfer musim panas 2025. Angka fantastis ini menempatkan Como di urutan kelima klub paling boros di Italia, melampaui beberapa klub mapan lainnya.
Investasi besar ini bukan tanpa perhitungan. Setelah sukses mengakhiri musim lalu di urutan ke-10, manajemen merasa perlu memberikan sokongan pemain berkualitas agar Fabregas bisa membawa tim terbang lebih tinggi. Hasilnya terlihat jelas; kemenangan atas Juventus sempat membawa Como melesat ke posisi lima klasemen sementara, sebelum akhirnya menetap di zona Eropa (peringkat tujuh) pada akhir pekan tersebut.
Status Como kini telah berubah dari tim kecil yang terpinggirkan menjadi kekuatan baru yang disegani. Jika konsistensi ini terus terjaga, bukan tidak mungkin musim depan stadion bersejarah di tepi Danau Como akan menjadi saksi sejarah pertandingan liga antarklub Eropa. Perjalanan dari kebangkrutan menuju kejayaan ini membuktikan bahwa dengan manajemen yang sehat, visi yang jelas, dan kerja keras, keajaiban di lapangan hijau adalah sesuatu yang nyata.
Publik sepak bola kini menanti, sejauh mana tangan dingin "Nusantara" bisa membawa klub ini melaju. Satu hal yang pasti, Como 1907 bukan lagi sekadar numpang lewat di Serie A, melainkan penantang serius yang siap merusak dominasi tim-tim tradisional Italia demi satu tiket ke panggung Eropa.
Editor : Anggi Septian A.P.