BLITAR – Sepak bola modern bukan sekadar olahraga, tetapi telah berkembang menjadi industri bernilai miliaran dolar. Banyak klub besar mampu mendominasi kompetisi karena dukungan finansial kuat dari investor dan sponsor besar. Namun di sisi lain, ada pula klub yang harus bertahan dengan keterbatasan ekonomi. Daftar klub sepak bola paling miskin di Eropa ini menunjukkan bahwa kekuatan finansial bukan satu-satunya faktor penentu loyalitas suporter.
Salah satu contoh klub kaya adalah Manchester City yang mendapat investasi besar sejak diakuisisi konglomerat Uni Emirat Arab pada 2008. Dengan kekuatan finansial tersebut, mereka mampu merekrut pemain bintang seperti Kevin De Bruyne hingga Erling Haaland dan meraih treble winner pada 2023.
Namun, tidak semua klub memiliki kemewahan seperti itu. Beberapa klub di Eropa justru harus bertahan dengan anggaran terbatas. Meski begitu, mereka tetap memiliki basis penggemar yang loyal. Berikut lima klub sepak bola paling miskin di Eropa yang masih bertahan di kompetisi profesional.
TSG 1899 Hoffenheim
Di posisi kelima terdapat klub asal Jerman, TSG 1899 Hoffenheim. Klub ini pernah mencuri perhatian publik ketika berhasil promosi ke Bundesliga pada musim 2008/2009 dan tampil mengejutkan pada musim debutnya.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, performa Hoffenheim cenderung stagnan. Mereka lebih sering berkutat di papan tengah hingga papan bawah klasemen Bundesliga.
Dari sisi finansial, Hoffenheim bukan termasuk klub elit di Jerman. Total nilai pasar skuad mereka hanya sekitar 172,75 juta euro atau setara lebih dari Rp3 triliun. Angka ini masih jauh di bawah raksasa Bundesliga seperti Bayern Munchen dan Borussia Dortmund.
Meski demikian, Hoffenheim dikenal sebagai klub yang fokus pada pengembangan pemain muda serta pendekatan ilmiah dalam pelatihan sejak era pelatih Ralf Rangnick. Strategi ini membuat mereka tetap kompetitif di liga.
Stoke City
Posisi berikutnya ditempati Stoke City, salah satu klub sepak bola tertua di dunia yang berdiri pada 1863 di Inggris.
Klub berjuluk The Potters ini sempat menikmati masa keemasan di Premier League setelah promosi pada musim 2008/2009. Stoke dikenal dengan gaya bermain fisik yang sering menyulitkan klub-klub besar.
Beberapa pemain terkenal pernah memperkuat klub ini, seperti Peter Crouch, Ryan Shawcross, hingga Xherdan Shaqiri. Namun kejayaan tersebut mulai memudar setelah mereka terdegradasi dari Premier League pada musim 2017/2018.
Saat ini Stoke City bermain di EFL Championship. Nilai pasar skuad mereka hanya sekitar 55 juta euro atau setara Rp956 miliar, jauh di bawah klub papan atas Liga Inggris.
Plymouth Argyle
Plymouth Argyle menjadi klub berikutnya dalam daftar klub sepak bola paling miskin di Eropa. Klub asal Inggris ini saat ini juga berkompetisi di EFL Championship.
Menurut data Transfermarkt, total nilai skuad Plymouth Argyle hanya sekitar 31,20 juta euro atau sekitar Rp542 miliar. Angka tersebut menjadikannya salah satu klub dengan valuasi terendah di kasta kedua sepak bola Inggris.
Meski memiliki keterbatasan finansial, Plymouth Argyle memiliki basis suporter yang sangat loyal. Setiap pertandingan kandang di Home Park Stadium hampir selalu dipenuhi sekitar 18 ribu penonton yang menciptakan atmosfer luar biasa.
FC Magdeburg
Selanjutnya ada FC Magdeburg, klub asal Jerman yang kini bermain di Bundesliga 2. Klub yang berdiri pada 1965 ini pernah menikmati masa kejayaan pada era sepak bola Jerman Timur.
Prestasi terbesar mereka terjadi pada 1974 ketika berhasil menjuarai Piala Winners Eropa setelah mengalahkan AC Milan di partai final.
Namun setelah reunifikasi Jerman pada 1990, Magdeburg kesulitan bersaing di level tertinggi. Saat ini mereka termasuk klub dengan kondisi finansial terbatas.
Nilai pasar skuad FC Magdeburg diperkirakan hanya sekitar 27,75 juta euro atau sekitar Rp482 miliar.
Girondins Bordeaux
Posisi pertama dalam daftar klub sepak bola paling miskin di Eropa ditempati Girondins Bordeaux. Klub asal Prancis ini pernah menjadi salah satu kekuatan besar di Ligue 1.
Bordeaux bahkan pernah menjuarai liga Prancis enam kali dan menjadi langganan kompetisi Eropa. Klub ini juga dikenal sebagai tempat awal karier legenda sepak bola dunia, Zinedine Zidane.
Namun dalam satu dekade terakhir, kondisi klub terus memburuk akibat masalah manajemen dan krisis finansial.
Puncaknya terjadi pada 2022 ketika Bordeaux dinyatakan bangkrut dan mengalami degradasi administratif. Saat ini nilai pasar klub tersebut diperkirakan hanya sekitar 250 ribu euro atau sekitar Rp4,3 miliar.
Kondisi ini menjadi kontras dengan masa kejayaan mereka di masa lalu ketika dihuni banyak pemain bintang.
Kisah klub-klub ini menjadi bukti bahwa sepak bola tidak selalu soal uang. Meski berada dalam kondisi finansial terbatas, mereka tetap bertahan berkat dukungan suporter yang setia serta semangat untuk terus bersaing di lapangan.
Editor : Anggi Septian A.P.