MALANG – Tensi tinggi menyelimuti skuad Singo Edan pasca kekalahan menyakitkan 1-2 dari Bhayangkara Presisi Indonesia FC dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026. Alih-alih hanya menyoroti teknis permainan, pelatih Arema FC, Marcos Santos, justru melontarkan kritik pedas yang ditujukan langsung kepada korps baju hitam. Sosok asal Portugal tersebut menilai ada ketimpangan keadilan yang merugikan timnya di atas lapangan.
Kekalahan di markas lawan pada Rabu, 11 Maret 2026 tersebut tampaknya menjadi puncak kekecewaan sang juru taktik. Marcos Santos tidak ragu menyebut bahwa hasil minor yang diderita timnya bukan semata karena kualitas lawan yang mumpuni, melainkan dipengaruhi secara signifikan oleh keputusan-keputusan kontroversial sang pengadil lapangan.
Bandingkan Wasit Indonesia dengan Liga Italia
Dalam sesi konferensi pers usai laga, pelatih Arema FC ini tak mampu menyembunyikan kekesalannya. Dengan nada bicara yang dalam, Santos yang memiliki rekam jejak melatih di kompetisi elit Eropa dan Amerika Latin ini membandingkan pengalamannya dengan kondisi sepak bola di tanah air saat ini.
Baca Juga: SPPG Sananwetan di Kota Blitar Nunggak Bayar Sewa sampai 7 Bulan, Mitra Tutup Operasional
"Pertandingan melawan Bhayangkara berlangsung sulit. Bukan hanya karena kualitas lawan, tetapi juga kepemimpinan wasit yang mempengaruhi jalannya laga," tegas Santos. Ia bahkan membawa-bawa pengalamannya saat menukangi tim di Italia. "Saya pernah melatih di Liga Italia dan Copa Libertadores. Tetapi saya tidak pernah melihat kepemimpinan wasit seperti ini," lanjutnya dengan nada satir.
Kekecewaan Santos berakar pada perbedaan standar keputusan yang diberikan wasit kepada kedua tim. Meski ia menghormati hak wasit dalam memberikan kartu merah kepada pemainnya, ia mempertanyakan mengapa tim tuan rumah seolah "kebal" hukum padahal melakukan pelanggaran yang serupa. Baginya, jika sepak bola Indonesia ingin maju dengan mendatangkan wasit asing, maka ketegasan tanpa pandang bulu harus menjadi syarat mutlak.
Krisis Lini Belakang dan Absennya Pilar Utama
Di sisi lain, manajemen Singo Edan juga tengah memutar otak untuk membenahi keroposnya lini pertahanan. General Manajer Arema FC, Yusrinal Fitriandi, mengakui bahwa saat ini strategi bertahan tim belum maksimal. Hal ini diperparah dengan badai absennya pemain-pemain kunci di sektor belakang dan penjaga gawang.
Tidak adanya nama Adi Satrio di bawah mistar serta absennya tembok pertahanan Walison Maya mengakibatkan pelatih Arema FC harus melakukan perombakan paksa. "Kami harus melakukan penyesuaian pemain dalam beberapa laga terakhir. Banyak pemain lain yang juga dalam kondisi kurang fit meski dipaksakan bermain," ungkap pria yang akrab disapa Inal tersebut.
Manajemen melihat bahwa transisi saat bertahan atau defending without the ball menjadi lubang besar yang harus segera ditambal. Taktik bertahan kolektif perlu diasah kembali agar potensi kebobolan di laga-laga krusial berikutnya bisa diminimalisir. Pasalnya, bulan April sudah menanti dengan jadwal pertandingan yang tidak kalah berat.
Evaluasi Total Sebelum Laga April
Meski dihujani kritik dan hasil minor, Marcos Santos tetap memberikan apresiasi tinggi kepada anak asuhnya yang berjuang hingga peluit akhir berbunyi. Semangat juang Johan Alfarizi dkk dianggap sudah maksimal di tengah tekanan non-teknis yang luar biasa sepanjang 90 menit pertandingan.
Namun, waktu untuk meratapi kekalahan sangatlah sempit. Manajemen dan tim pelatih sepakat untuk melakukan evaluasi strategi secara menyeluruh sebelum memasuki bulan April. Fokus utama tetap pada pemulihan kondisi fisik pemain dan pemantapan skema pertahanan tanpa bola.
Kini, beban berat ada di pundak Marcos Santos untuk membuktikan bahwa dirinya masih layak menakhodai Singo Edan. Publik Malang tentu menanti apakah sang pelatih mampu mengubah amarahnya menjadi motivasi kemenangan di pertandingan selanjutnya, atau justru krisis ini akan semakin berlarut-larut hingga akhir musim.
Editor : Anggi Septian A.P.