JAKARTA – Sebuah kejutan pahit harus diterima para pendukung setia Persija Jakarta pada pekan krusial BRI Super League musim ini. Pertandingan prestisius yang mempertemukan Macan Kemayoran melawan Dewa United di stadion megah, Jakarta International Stadium (JIS), justru harus rela tergusur dari slot siaran utama televisi nasional. Keputusan ini memicu reaksi keras di media sosial, di mana banyak fans merasa terkena "prank" besar oleh pihak pemegang hak siar.
Fakta bahwa laga Persija Jakarta yang digelar di jantung ibu kota dengan fasilitas stadion modern kelas dunia tidak dipilih sebagai tayangan prioritas merupakan hal yang tidak biasa. Alih-alih menyiarkan laga di JIS, Indosiar sebagai pemegang hak siar justru lebih memilih menayangkan duel antara Borneo FC melawan Persib Bandung yang digelar di Stadion Segiri, Samarinda. Padahal, secara logistik, biaya produksi di Jakarta jauh lebih efisien dibandingkan harus mengirimkan kru dan peralatan siaran ke luar Pulau Jawa.
Keputusan ini mengundang analisis tajam dari berbagai pihak, termasuk pengamat sepak bola kondang, Coach Justin. Dalam sebuah pernyataan yang kontroversial, ia menyebut bahwa di industri sepak bola Indonesia saat ini, hanya ada satu klub yang benar-benar memiliki nilai jual tinggi dan diminati oleh jutaan penonton televisi secara konsisten, dan klub tersebut bukanlah Persija Jakarta. Pandangan ini seolah mengonfirmasi bahwa dalam ekosistem penyiaran, "angka" berbicara lebih keras daripada kemegahan stadion atau lokasi strategis.
Rating Adalah Panglima di Industri Televisi
Mengapa pihak televisi berani mengambil risiko biaya produksi lebih tinggi di Samarinda daripada di Jakarta? Jawabannya bermuara pada satu indikator absolut: Rating. Dalam industri penyiaran, rating adalah napas utama yang menentukan masuknya pengiklan. Berdasarkan data historis dan pengamatan para pelaku industri seperti artis sekaligus pengamat bola Ibnu Jamil, pertandingan yang melibatkan Persib Bandung hampir selalu mencatatkan angka penonton yang jauh mengungguli klub-klub lain.
Persib Bandung, yang dijuluki Maung Bandung, memiliki basis suporter Bobotoh yang tidak hanya terkonsentrasi di Jawa Barat, tetapi tersebar merata dari Sumatera hingga wilayah timur Indonesia. Hal inilah yang membuat jangkauan siaran Persib bersifat nasional, sementara Persija Jakarta cenderung memiliki basis massa yang sangat kuat namun masih terpusat di wilayah Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek).
Baca Juga: Deteksi Penyalahgunaan Narkotika, Para Pekerja di Stasiun Blitar KA Dites Narkoba
Faktor Krusial Papan Atas
Selain faktor fanatisme buta, posisi di klasemen juga menjadi pertimbangan matang. Laga Borneo FC vs Persib Bandung merupakan duel dua tim papan atas yang sedang bersaing ketat memperebutkan singgasana juara. Pertandingan ini memiliki nilai berita (news value) yang sangat tinggi karena melibatkan tensi perebutan gelar, drama persaingan juara, dan atmosfer panas Stadion Segiri.
Pelatih Persib, Bojan Hodak, sendiri menegaskan bahwa setiap laga di pengujung musim ini adalah final. Ambisi Persib untuk mempertahankan gelar juara menciptakan narasi pertandingan yang sangat kuat bagi penonton netral. Sementara itu, meskipun Persija adalah klub raksasa dengan sejarah panjang, daya tarik laga melawan Dewa United dianggap belum mampu menandingi "magnet" perebutan puncak klasemen yang ditawarkan oleh duel di Samarinda.
Realitas Sepak Bola Modern
Fenomena ini memberikan pelajaran berharga bagi klub-klub di Indonesia. Popularitas tidak hanya diukur dari besarnya kapasitas stadion atau sejarah klub, tetapi juga dari seberapa besar daya tarik merek (brand) tersebut di mata publik nasional. Kekuatan suporter kini tidak hanya diuji di tribun stadion, tetapi juga melalui "remote" televisi di rumah masing-masing.
Meskipun fans Persija Jakarta merasa tidak adil, realitas industri televisi saat ini tetap menempatkan angka rating sebagai penentu prioritas. Ke depan, tantangan bagi manajemen Macan Kemayoran adalah bagaimana terus meningkatkan engagement nasional agar nilai komersial siaran mereka setara dengan daya tarik Maung Bandung.
Bagi penonton, ini adalah bukti bahwa Liga Indonesia sudah menjadi komoditas industri yang matang, di mana setiap keputusan diambil berdasarkan data pasar yang nyata. Pada akhirnya, sepak bola adalah tentang hiburan, dan televisi akan selalu mengejar di mana penonton paling banyak berkumpul.
Editor : Anggi Septian A.P.