SURABAYA – Evaluasi besar-besaran tengah membayangi skuad Persebaya Surabaya setelah menutup rangkaian pertandingan hingga pekan ke-25 Super League 2025-2026. Di bawah kendali pelatih Bernardo Tavares, muncul statistik mengejutkan mengenai distribusi waktu tampil para penggawa Green Force. Berdasarkan data terbaru, terdapat sejumlah pemain Persebaya Surabaya dengan menit bermain tersedikit yang nasibnya kini menjadi tanda tanya besar menjelang akhir musim.
Kondisi ini mencuat di saat performa Persebaya Surabaya masih jauh dari kata stabil. Tim kebanggaan Bonek Mania ini tercatat hanya mampu mengamankan empat poin dari lima laga terakhir menjelang Idul Fitri 2026. Dengan rincian satu kemenangan, satu hasil imbang, dan tiga kekalahan, Bernardo Tavares mulai memberikan sinyal bakal melakukan perombakan komposisi pemain guna mendongkrak posisi di klasemen.
"Sekarang kami harus melihat kembali pertandingan ini dan menganalisis apa yang sebenarnya terjadi," tegas Bernardo Tavares. Pernyataan sang arsitek asal Portugal ini seolah menjadi alarm bagi para pemain Persebaya Surabaya dengan menit bermain tersedikit yang selama ini lebih banyak menghabiskan waktu di bangku cadangan daripada berpeluh keringat di atas rumput hijau.
Ironi Octavianus Fernando dan Pemain Muda EPA
Salah satu statistik yang paling mencuri perhatian adalah catatan milik pemain senior, Octavianus Fernando. Pemain sayap berusia 32 tahun ini seolah menjadi pengamat dari pinggir lapangan. Tercatat, ia sudah 25 kali masuk dalam Daftar Susunan Pemain (DSP), namun secara ironis hanya sekali diturunkan dengan total waktu tampil selama 3 menit. Hal ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di sektor winger Bajol Ijo.
Tak hanya pemain senior, kebijakan Tavares terhadap pemain muda juga menjadi sorotan. Aleandro Maulana, gelandang berusia 18 tahun hasil promosi dari Elite Pro Academy (EPA), menjadi nama dengan durasi tampil paling minim. Meski tiga kali masuk DSP, ia hanya mencicipi atmosfer pertandingan selama 1 menit. Nasib serupa dialami Iksas Baihaqi, gelandang muda lainnya yang meski sudah 23 kali masuk DSP, hanya mengoleksi 90 menit bermain yang mayoritas didapat sebagai pemain pengganti.
Nasib Pemain Asing dan Sektor Pertahanan
Kesenjangan menit bermain ini tidak hanya menyasar pemain lokal. Bruno Paraiba, striker asing asal Brasil yang didatangkan pada paruh musim, juga masuk dalam daftar ini. Pemain berusia 31 tahun tersebut baru mencatatkan 43 menit di lapangan dari dua laga. Meski sempat mencetak satu gol, kendala cedera dan proses adaptasi yang lambat disinyalir menjadi alasan utama Bruno sulit menembus skuad utama pilihan Bernardo Tavares.
Di lini belakang, nama Randy May turut menjadi bahan pembicaraan. Bek tengah berusia 25 tahun ini sebenarnya sudah tampil sebanyak enam kali. Namun, total menit bermainnya hanya menyentuh angka 90 menit, meski ia sudah 18 kali masuk dalam daftar cadangan tim. Ketimpangan menit bermain ini membuktikan bahwa Tavares memiliki standar yang sangat tinggi untuk menentukan siapa yang layak mengisi starting eleven.
Momentum Pembuktian Sebelum Evaluasi Akhir
Situasi timpang dalam skuad Green Force ini diprediksi akan terus berubah hingga paruh akhir musim kompetisi. Bagi para pemain yang selama ini minim kesempatan, sisa pertandingan musim ini merupakan momentum terakhir untuk membuktikan kualitas mereka di hadapan tim pelatih.
Manajemen Persebaya dipastikan akan menjadikan statistik menit bermain ini sebagai salah satu rujukan utama dalam evaluasi kontrak pemain. Jika tidak ada perubahan signifikan, bukan tidak mungkin nama-nama di atas akan masuk dalam daftar coret pada bursa transfer mendatang. Menarik untuk dinantikan apakah Bernardo Tavares akan memberikan kejutan dengan memainkan para "pemain cadangan abadi" ini di laga-laga krusial selanjutnya, atau justru tetap setia dengan skema yang ada saat ini.
Editor : Anggi Septian A.P.