Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Azrul Ananda Ungkap Rahasia Sukses DBL hingga Akuisisi Persebaya: Berawal dari Konten Koran, Kini Bisnis Ratusan Miliar

Ingge Nayla Ayu Karina • Senin, 16 Maret 2026 | 14:15 WIB
Azrul Ananda ungkap perjalanan sukses DBL hingga akuisisi Persebaya. Dari konten koran kini menjadi bisnis olahraga ratusan miliar.
Azrul Ananda ungkap perjalanan sukses DBL hingga akuisisi Persebaya. Dari konten koran kini menjadi bisnis olahraga ratusan miliar.

 

RADAR BLITAR - Nama Azrul Ananda identik dengan berbagai inovasi di dunia olahraga Indonesia. Mulai dari membesarkan DBL (Development Basketball League) hingga mengakuisisi klub sepak bola Persebaya Surabaya. Namun siapa sangka, perjalanan kesuksesan tersebut berawal dari sebuah kebutuhan sederhana: membuat konten untuk halaman anak muda di koran.

Dalam sebuah wawancara panjang, Azrul menceritakan perjalanan hidup dan bisnisnya yang banyak dipengaruhi oleh nasihat sang ayah, Dahlan Iskan. Salah satu pesan yang paling ia ingat adalah tentang totalitas dalam bekerja.

“Kalau melakukan sesuatu, lakukan total. Orang Jawa bilang ‘dikeloni’ sampai mentok. Nanti kalau jadi ya jadi sendiri,” ungkap Azrul.

Nasihat itu ternyata menjadi prinsip utama yang ia pegang dalam membangun berbagai bisnis, termasuk DBL yang kini menjadi kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia.

Awal Mula DBL dari Konten Koran

Azrul Ananda memulai kariernya di Jawa Pos bukan langsung sebagai pimpinan. Ia mengaku harus menjalani berbagai posisi, mulai dari wartawan, redaktur, hingga mengelola halaman nasional sebelum akhirnya dipercaya menjadi pimpinan redaksi dan direktur.

Saat memegang halaman anak muda di Jawa Pos, ia melihat kebutuhan konten yang dekat dengan dunia pelajar. Dari situ muncul ide membuat kompetisi olahraga untuk siswa SMA.

Pada 2004, lahirlah DBL yang awalnya bernama Deteksi Basketball League. Kompetisi tersebut awalnya hanya dirancang untuk wilayah Jawa Timur dengan ekspektasi peserta sekitar 40 tim.

Namun kenyataannya jauh melampaui perkiraan.

“Yang daftar lebih dari 100 tim. Akhirnya kita hanya bisa menerima 96 tim dan harus memakai empat stadion sekaligus,” kata Azrul.

Final pertama DBL bahkan memecahkan rekor penonton. GOR Kertajaya Surabaya yang berkapasitas sekitar 3.500 orang penuh sesak dan harus melakukan sistem keluar masuk penonton karena pertandingan berlangsung sangat ramai.

Sejak saat itu, DBL mulai dikenal luas sebagai kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia.

Ekspansi DBL ke Seluruh Indonesia

Kesuksesan awal DBL membuat kompetisi ini terus berkembang. Azrul kemudian memisahkan DBL menjadi perusahaan sendiri pada 2008.

Kompetisi tersebut perlahan merambah berbagai daerah di Indonesia dengan dukungan jaringan media Jawa Pos Group.

Kini DBL telah hadir di puluhan kota dan lebih dari 20 provinsi di Indonesia. Bahkan sebelum pandemi, jumlah pesertanya mencapai puluhan ribu siswa.

Tidak hanya sekadar kompetisi, DBL juga berperan dalam membangun ekosistem basket nasional. Di beberapa daerah, DBL bahkan ikut membantu pembentukan organisasi basket dan pelatihan wasit.

“Di beberapa daerah kami harus bikin klinik basket dulu, melatih wasit, bahkan membantu membentuk organisasi basket sebelum kompetisinya berjalan,” ujarnya.

Selain itu, DBL juga mendorong industri olahraga lain, seperti produksi bola basket hingga sepatu olahraga lokal.

Filosofi Bisnis: Solusi Dulu, Cuan Belakangan

Salah satu prinsip bisnis Azrul Ananda yang menarik adalah fokus pada solusi, bukan keuntungan semata.

Menurutnya, banyak bisnis lahir karena ingin mengejar cuan. Padahal bisnis yang bertahan lama biasanya muncul dari kebutuhan nyata di lapangan.

Contohnya ketika DBL kesulitan mendapatkan bola basket dalam jumlah besar untuk kompetisi. Karena tidak ada merek yang mampu menyediakan ratusan bola sekaligus, Azrul akhirnya memutuskan membuat bola sendiri.

Langkah tersebut justru membuka peluang bisnis baru sekaligus membantu sekolah mendapatkan bola basket dengan harga lebih terjangkau.

Hal yang sama juga terjadi pada sepatu basket. Banyak pemain DBL berasal dari daerah yang sulit membeli sepatu mahal. Karena itu, DBL kemudian mengembangkan sepatu basket dengan harga lebih terjangkau melalui berbagai kolaborasi brand lokal.

“Bisnis itu idealnya jadi solusi dulu. Kalau sudah jadi solusi untuk banyak orang, cuannya biasanya datang sendiri,” jelasnya.

Akuisisi Persebaya dan Rencana IPO

Selain sukses membangun DBL, Azrul juga mengambil langkah besar dengan mengakuisisi klub sepak bola Persebaya Surabaya.

Keputusan itu sebenarnya sempat bertentangan dengan pesan ayahnya yang dulu melarangnya terjun ke dunia sepak bola. Namun Azrul melihat potensi besar industri olahraga profesional di Indonesia.

Saat ini, ia memiliki target besar untuk Persebaya.

Pertama, membawa klub tersebut meraih prestasi sebelum ulang tahun ke-100 pada 2027. Kedua, menjadikan Persebaya sebagai klub yang mandiri secara finansial.

Salah satu langkah yang sedang dipersiapkan adalah membawa klub tersebut melantai di bursa saham melalui penawaran umum perdana saham atau IPO.

“Persebaya harus menjadi perusahaan olahraga yang profesional, mandiri, dan sustainable,” katanya.

Bagi Azrul, kesuksesan bukanlah tujuan akhir. Ia percaya kesuksesan akan terus berkembang seiring manfaat yang diberikan kepada banyak orang.

“Kalau sesuatu yang kita lakukan berkembang, berarti manfaatnya juga semakin banyak untuk orang lain,” ujarnya.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
#dbl indonesia #bisnis olahraga #azrul ananda #dahlan iskan #persebaya surabaya