RADAR BLITAR – Rencana Persebaya IPO mulai mencuat sebagai langkah strategis untuk mengamankan masa depan klub sepak bola kebanggaan Surabaya tersebut. Presiden Persebaya, Azrul Ananda, mengungkapkan bahwa opsi melantai di bursa saham menjadi salah satu cara agar klub bisa dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
Menurut Azrul, gagasan Persebaya IPO bukan sekadar langkah finansial, melainkan upaya membangun fondasi industri sepak bola yang sehat di Indonesia. Ia menegaskan bahwa klub tidak boleh bergantung pada satu atau dua pemilik saja, melainkan dimiliki bersama oleh publik sehingga pengelolaannya lebih transparan dan profesional.
“Kalau kita ingin Persebaya benar-benar menjadi industri, maka kepemilikannya harus kuat. Salah satu cara mengamankan masa depan Persebaya adalah melalui IPO,” ujarnya.
Namun demikian, Azrul menegaskan bahwa langkah tersebut tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Ia ingin memastikan bahwa fondasi bisnis klub benar-benar kuat sebelum Persebaya melantai di bursa.
Fondasi Bisnis Harus Kuat
Azrul menjelaskan, sebelum berbicara tentang Persebaya IPO, klub harus memiliki kaki komersial yang kuat. Hal itu penting agar klub tidak hanya bergantung pada prestasi di lapangan.
Ia menilai pengelolaan klub sepak bola harus berdiri di atas dua kaki: prestasi tim dan bisnis komersial.
“Presiden klub harus berdiri dengan dua kaki. Satu kaki prestasi, satu kaki komersial. Kalau hanya mengejar prestasi, biaya akan terus keluar. Tapi kalau komersialnya kuat, klub bisa sustain,” jelasnya.
Selama ini Persebaya mulai membangun ekosistem bisnis melalui berbagai cara, mulai dari penjualan merchandise resmi hingga pengembangan jaringan toko klub.
Sebelum pandemi Covid-19, Persebaya bahkan telah memiliki 18 toko resmi di enam kota di Jawa Timur. Rencana ekspansi juga sempat disiapkan hingga menjangkau puluhan kota lainnya.
Menurut Azrul, bisnis retail klub menjadi salah satu sumber pemasukan penting karena sepak bola Indonesia belum memiliki pendapatan besar dari hak siar televisi seperti di liga-liga Eropa.
Model Bisnis Sepak Bola Indonesia
Azrul mengakui bahwa industri sepak bola Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Salah satunya adalah pendapatan klub yang belum stabil.
Di negara maju, klub sepak bola mendapatkan pemasukan besar dari hak siar televisi yang dibagikan kepada seluruh peserta liga. Sementara di Indonesia, pemasukan tersebut masih sangat terbatas.
“Di luar negeri pemasukan utama dari TV rights. Di Indonesia, gaji satu pemain asing saja kadang tidak tertutup dari hak siar,” katanya.
Karena itu, klub harus kreatif mencari sumber pemasukan lain. Salah satunya melalui digitalisasi dan keterlibatan suporter dalam ekosistem bisnis klub.
Persebaya sendiri termasuk klub yang mulai memanfaatkan teknologi, misalnya dengan sistem pembelian tiket secara online melalui aplikasi resmi klub.
Langkah tersebut sempat menghadapi resistensi pada awalnya, tetapi akhirnya mulai diterima oleh suporter.
Peran Besar Suporter Bonek
Azrul juga menegaskan bahwa kekuatan utama Persebaya ada pada suporternya, yakni Bonek. Ia menilai suporter memiliki peran penting dalam membangun nilai ekonomi klub.
Dalam konsep yang ia sebut sebagai “fan equity”, suporter tidak hanya hadir di stadion, tetapi juga membeli tiket resmi serta merchandise asli klub.
Selain fan equity, Azrul juga menyoroti dua faktor lain yang menentukan kekuatan sebuah klub: social equity dan away equity.
Social equity berkaitan dengan kekuatan klub dalam menciptakan percakapan di media sosial. Sementara away equity adalah kemampuan klub meningkatkan nilai pertandingan ketika bermain di kandang lawan.
Menurutnya, hanya beberapa klub di Indonesia yang memiliki tiga kekuatan tersebut sekaligus.
“Saya kira Persebaya punya tiga-tiganya. Persib dan Persija juga punya,” ujarnya.
Jika banyak klub mampu memenuhi tiga aspek tersebut, Azrul yakin industri sepak bola Indonesia bisa berkembang jauh lebih sehat.
Target IPO Menjelang Usia 100 Tahun
Meski rencana Persebaya IPO masih dalam tahap wacana, Azrul mengungkapkan target jangka panjang klub. Ia berharap langkah tersebut bisa terealisasi sebelum ulang tahun ke-100 Persebaya.
Klub berjuluk Bajul Ijo itu akan memasuki usia satu abad pada tahun 2027.
Namun Azrul menegaskan bahwa IPO hanya akan dilakukan jika kondisi bisnis klub sudah benar-benar kuat dan stabil.
“IPO harus dengan cara yang benar. Bisnisnya harus real, fondasi komersialnya harus kuat. Kalau tidak, itu tidak sehat,” tegasnya.
Ia berharap ke depan kompetisi sepak bola Indonesia juga semakin stabil sehingga klub bisa membuat perencanaan bisnis jangka panjang.
Menurut Azrul, kepastian jadwal liga sangat penting bagi klub untuk mengatur strategi keuangan, sponsor, hingga pengembangan bisnis.
Jika semua faktor tersebut berjalan baik, ia optimistis masa depan Persebaya akan semakin kuat, bahkan berpotensi menjadi contoh klub sepak bola profesional di Indonesia.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina