BLITAR - Nama Veda Ega Pratama kembali menjadi sorotan setelah dipastikan tampil di ajang Moto3 2026. Pembalap muda asal Gunung Kidul ini mencetak sejarah dengan debut di usia 17 tahun melalui jalur pengecualian khusus berkat prestasinya.
Veda Ega Pratama menjadi salah satu talenta paling menjanjikan yang dimiliki Indonesia saat ini. Perjalanan kariernya terbilang unik, dimulai dari latihan sederhana di area parkiran pasar hingga akhirnya menembus kompetisi balap motor dunia.
Keberhasilan Veda Ega Pratama menembus Moto3 2026 bukanlah kebetulan. Ia dikenal sebagai pembalap dengan kemampuan teknis tinggi, mental kuat, serta gaya balap agresif yang kerap disandingkan dengan legenda MotoGP.
Baca Juga: Jemaah Muhammadiyah di Blitar Umumkan Salat Idulfitri 1447 H pada Jumat, Ini Lokasinya
Dari Parkiran Pasar ke Arena Balap Dunia
Veda Ega Pratama lahir di Wonosari, Gunung Kidul, pada 23 November 2008. Ia merupakan anak dari Sudarmono, mantan pembalap nasional yang turut membentuk dasar kemampuan balapnya sejak usia dini.
Sejak umur 4 tahun, Veda sudah ditempa di lingkungan yang tidak biasa, yakni area parkir pasar sapi di Gunung Kidul. Permukaan beton yang licin justru menjadi tempat ideal baginya untuk melatih kontrol gas dan keseimbangan motor.
Latihan di kondisi ekstrem tersebut membentuk kemampuan throttle control yang sangat halus. Hal ini menjadi keunggulan Veda, terutama saat menghadapi lintasan basah atau kondisi balap yang sulit.
Awal Karier dari Motocross hingga Road Race
Karier resmi Veda dimulai pada 2016 saat ia turun di kejuaraan nasional motocross kelas 50 cc. Meski masih pemula, ia langsung menembus peringkat empat nasional, mengalahkan banyak pembalap lain.
Setahun kemudian, ia naik ke kelas 65 cc dan mulai mengasah teknik pengendalian motor, termasuk kemampuan counter steering. Dari sinilah mental bertarungnya mulai terbentuk.
Pada 2018, Veda beralih ke balap aspal atau road race. Adaptasinya berlangsung cepat. Ia langsung meraih juara di Honda Dream Cup pada musim debutnya, sebelum akhirnya menjuarai One Prix 2019 di kelas beginner.
Prestasi tersebut menarik perhatian Astra Honda Motor yang kemudian merekrutnya ke dalam Astra Honda Racing School (AHRS). Di sinilah titik balik karier Veda dimulai.
Dominasi di Asia Talent Cup
Setelah melalui pembinaan intensif, Veda mulai menembus level internasional melalui Asia Talent Cup. Puncaknya terjadi pada musim 2023, saat ia tampil dominan dengan memenangkan 9 dari 12 balapan.
Dengan total 256 poin, Veda mencatat rekor sebagai pembalap dengan poin terbanyak sepanjang sejarah ajang tersebut. Ia bahkan mampu mengalahkan rival kuat di kandang mereka sendiri.
Prestasi ini semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pembalap muda terbaik di Asia.
Menaklukkan Eropa dan Motor Berkapasitas Besar
Memasuki 2024, Veda Ega Pratama mulai menjajal kompetisi di Eropa melalui Red Bull Rookies Cup. Ia juga sempat turun di kelas Supersport 600 menggunakan motor berkapasitas besar.
Meski memiliki postur tubuh yang relatif ringan, Veda mampu mengendalikan motor dengan tenaga jauh lebih besar. Ia bahkan berhasil meraih podium di Mandalika, membuktikan kekuatan fisik dan tekniknya.
Pada musim 2025, Veda semakin matang. Ia tampil impresif di Red Bull Rookies Cup dengan meraih kemenangan ganda di Mugello, Italia, dan menutup musim sebagai runner-up klasemen.
Gaya Balap Agresif dan Mental Baja
Salah satu ciri khas Veda Ega Pratama adalah gaya balap agresif dengan teknik late braking. Ia kerap melakukan pengereman sangat terlambat untuk mengambil alih posisi di tikungan.
Selain itu, teknik “elbow down” yang ia gunakan membuatnya mampu menjaga stabilitas motor saat menikung dengan kecepatan tinggi. Gaya ini sering dibandingkan dengan Marc Marquez.
Tidak hanya teknik, mentalitas Veda juga menjadi keunggulan. Ia dikenal berani bertarung wheel to wheel dan tidak mudah menyerah meski dalam tekanan.
Siap Hadapi Tantangan Moto3 2026
Dengan semua pencapaian tersebut, Veda Ega Pratama akhirnya mendapatkan kontrak untuk tampil di Moto3 2026 bersama Honda Team Asia. Ia juga mendapatkan age exemption yang memungkinkan debut lebih cepat dari aturan umum.
Baca Juga: Perbandingan CR7 vs Messi 2026: Adu Koleksi Trofi, Messi Unggul Ballon d’Or, Ronaldo Lebih Variatif!
Persaingan di Moto3 dikenal sangat ketat, dengan selisih waktu antar pembalap yang sangat tipis. Namun, Veda dinilai memiliki bekal yang cukup untuk bersaing.
Kini, harapan besar publik Indonesia tertuju pada sosok muda ini. Perjalanan dari parkiran pasar hingga panggung dunia menjadi bukti bahwa kerja keras dan bakat dapat membawa perubahan besar.
Veda Ega Pratama tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga harapan bangsa untuk kembali bersinar di dunia balap motor internasional.
Editor : Axsha Zazhika