BLITAR KAWENTAR - Tidak semua dokter sejak awal bercita-cita mengenakan jas putih. Hal itu pula yang dialami dokter spesialis penyakit dalam RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr Etha Dini Widiasi.
Perjalanannya menuju dunia medis justru berawal dari kebingungan menentukan masa depan.
Saat duduk di bangku kelas 3 SMA, dia mengaku belum memiliki gambaran jelas hendak melanjutkan studi ke jurusan ketika menginjak pendidikan perguruan tinggi.
Namun, latar belakang keluarga yang berprofesi sebagai guru fisika dan matematika membuatnya berpikir ke jurusan teknik. Ternyata arah hidupnya berubah setelah berdiskusi denga n sang kakak.
“Awalnya saya sempat berminat ke jurusan teknik, tapi kakak saya menyarankan mencoba kedokteran. Apalagi saya juga suka nonton medical drama, jadi sedikit banyak terinspirasi dari tontonan itu,” ujar Etha-sapaan akrabnya.
Keputusan itu pun diambil dengan penuh keyakinan. Dia mengikuti ujian masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan dinyatakan lolos. Meski sempat diterima di jurusan teknik nuklir di Universitas Gajah Mada (UGM), Etha akhirnya mantap memilih jalur kedokteran.
Baca Juga: Review Toyota Velos Hybrid 2026, Irit dan Canggih, Tapi Interior Masih Terasa Murah?
Perjalanan panjang Etha menuju karir kedokteran pun dimulai. Dia menempuh pendidikan sejak 2010 dan baru menyelesaikan tahap dokter umum pada 2016.
Setelah itu, dia masih harus menjalani program internship di RSUD Ngudi Waluyo dan Puskesmas Sutojayan selama satu tahun sebelum benar-benar terjun sebagai dokter.
“Jadi dokter itu komitmen seumur hidup. Tidak hanya sekolahnya lama, tapi juga harus terus belajar dan update ilmu,” jelasnya.
Kariernya sebagai dokter umum dimulai di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi pada akhir 2017, lalu setahun kemudian melanjutkan sebagai dokter umum yang kini menjadi tempatnya mengabdi. Sambil bekerja, dia menabung untuk mewujudkan cita-cita melanjutkan pendidikan spesialis.
Keinginan mengambil spesialis penyakit dalam justru muncul saat ia menjalani praktik sebagai dokter umum. Dia melihat langsung betapa luas dan kompleksnya kasus penyakit dalam, mulai dari kondisi ringan hingga yang mengancam nyawa.
Dia kemudian melanjutkan pendidikan spesialis selama lebih dari lima tahun. Pengalaman selama pendidikan, terutama saat menangani pasien di rumah sakit rujukan besar, menjadi fase paling berkesan sekaligus menguras emosi.
“Salah satu momen yang tak terlupakan adalah saat merawat pasien dalam kondisi kritis selama hampir satu bulan. Dari kondisi tidak sadar hingga akhirnya bisa pulang dalam keadaan membaik. Itu kebahagiaan tersendiri bagi dokter. Melihat pasien membaik setelah melewati kondisi sulit,” tuturnya.
Namun tidak semua cerita berakhir bahagia. Dia juga pernah mengalami momen berat ketika harus menghadapi pasien muda yang tidak tertolong. Pengalaman itu sempat mengguncang emosinya sebagai dokter.
“Sebagai dokter harus empati, tapi tidak boleh larut. Waktu itu saya sampai hampir menangis saat menyampaikan kabar ke keluarga pasien dan meminta teman saya untuk membantu memberikan informasi tersebut,” kenangnya.
Meski penuh tantangan, dr Etha tetap bersyukur dapat melalui semua proses tersebut. Kini, dia resmi menyandang gelar dokter spesialis penyakit dalam sejak akhir tahun lalu.
Ke depan, dia masih memiliki keinginan untuk terus mengembangkan diri dengan mendalami subspesialis tertentu. Baginya, menjadi dokter bukan hanya profesi, melainkan juga panggilan untuk terus belajar dan memberi manfaat.
“Harapannya bisa terus berkembang dan memberikan pelayanan terbaik. Yang penting juga bisa membahagiakan orang tua dan semua orang,” pungkasnya. (jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah