BLITAR – Kemenangan Timnas Indonesia atas Saint Kitts and Nevis dalam laga debut John Herdman menyisakan catatan taktikal yang menarik untuk dikupas. Pelatih asal Inggris tersebut secara terbuka mengungkapkan kepuasannya terhadap kedisiplinan para pemain dalam mengeksekusi strategi di lapangan. Fokus utama yang menjadi sorotan dalam berita Timnas Indonesia hari ini adalah keberhasilan pola serangan terencana yang membuahkan hasil manis, sekaligus menjadi sinyal positif bagi perkembangan Skuad Garuda.
Salah satu kunci sukses yang dikonfirmasi oleh John Herdman adalah penerapan diagonal run atau lari diagonal. Herdman memuji secara khusus penampilan Beckham Putra Nugraha yang dianggap sangat sungguh-sungguh menjalankan instruksi tersebut. "Kami melatih pergerakan diagonal run itu dan dia melakukannya dengan disiplin. Itu menunjukkan bahwa strategi kami bekerja," ujar Herdman. Pola ini memanfaatkan ruang lebar di belakang garis pertahanan lawan, di mana pemain bergerak dari tepi masuk ke area sentral untuk memecah konsentrasi bek lawan.
Dalam skema ini, peran Ole Romeny juga sangat krusial. Romeny bertugas turun beberapa langkah untuk menarik bek tengah lawan keluar dari posisinya. Saat ruang kosong tercipta akibat pergerakan Romeny, pemain lain seperti Beckham Putra menyisir celah tersebut lewat lari diagonal. Gol yang dicetak Beckham pun ditegaskan bukan sebuah kebetulan, melainkan hasil konsep yang dilatih secara efektif dan on point.
Evaluasi Kohesi Taktikal: Jangan Terlalu Bersemangat di Menit Awal
Meski meraih kemenangan meyakinkan, John Herdman memberikan peringatan keras terkait konsistensi permainan sepanjang 90 menit. Ia menyoroti fenomena 15 menit pertama di mana para pemain Timnas Indonesia cenderung tampil terlalu bersemangat hingga kehilangan kontrol tempo. "Jika itu terjadi lawan Bulgaria, kami bisa dihancurkan. Kami harus disiplin sejak menit pertama dan tidak bisa menunggu 10 hingga 15 menit untuk mulai nyetel," tegas Herdman.
Evaluasi ini didasarkan pada pengamatan Herdman terhadap kestabilan tim yang sering menurun setelah memasuki menit ke-20 atau ke-30. Fenomena "ngegas di awal" ini dianggap berisiko tinggi jika menghadapi tim dengan level yang lebih tinggi. Herdman menekankan pentingnya start yang kuat secara mental dan kemampuan mengontrol tempo permainan. Baginya, kohesi taktikal adalah kunci agar ikatan permainan tidak goyah saat lawan mulai memberikan tekanan balik atau saat melakukan rotasi pemain untuk menghindari cedera.
Pujian untuk Doni Tri dan Catatan untuk Elkan Baggott
Di sisi individu, John Herdman tak segan memberikan pujian setinggi langit bagi Doni Tri Pamungkas. Doni dinilai sebagai fullback pintar yang memiliki kemampuan membaca permainan dengan sangat baik di Liga Indonesia. Selain Doni, kreativitas Ole Romeny sebagai pemain nomor 10 juga disebut sangat sensasional. Umpan-umpan terobosan (through pass) Romeny dianggap memberikan dimensi baru bagi lini serang Garuda, meskipun Herdman mengakui bahwa pertahanan Saint Kitts memang belum memberikan tekanan yang cukup solid.
Namun, tidak semua pemain mendapatkan rapor hijau tanpa catatan. Herdman menilai penampilan Elkan Baggott masih sedikit "goyang". Hal ini dianggap wajar mengingat Baggott sudah cukup lama tidak bergabung dengan skuad dan butuh waktu untuk membangun chemistry kembali dengan rekan setim seperti Jay Idzes dan Calvin Verdonk. Herdman berharap Elkan bisa segera menemukan performa terbaiknya terutama dalam sistem bertahan mid-block 4-4-2 yang sangat menuntut konsentrasi tinggi untuk menutup kebocoran di lini belakang.
Menanti Level Sepadan: Ujian Sesungguhnya Lawan Bulgaria
Setelah melewati ujian pertama, perhatian kini tertuju pada laga selanjutnya menghadapi Bulgaria. John Herdman mengakui bahwa laga tersebut akan menjadi ujian level yang sesungguhnya bagi kedisiplinan taktis Indonesia. Jika melawan Saint Kitts pemain bisa leluasa berkreasi, Bulgaria dipastikan akan menerapkan pertahanan yang lebih kompak dan pressing yang lebih berkomitmen. Konsentrasi pemain dalam menjaga garis pertahanan agar tidak terjebak posisi offside yang tipis menjadi fokus perbaikan Herdman.
Kesuksesan mengeksekusi template serangan seperti diagonal run akan sangat diuji oleh kolektivitas tim Eropa tersebut. Herdman menuntut fokus penuh sejak peluit pertama dibunyikan agar kesalahan-kesalahan kecil di babak kedua tidak terulang kembali. Publik sepak bola nasional kini menanti apakah pendekatan taktis John Herdman yang dinamis ini mampu membawa Indonesia tampil kompetitif melawan tim yang secara peringkat jauh lebih unggul. (*)