BLITAR KAWENTAR - Tak pernah terbesit bekerja sebagai psikolog bagi perempuan warga Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, ini. Sebab, keluarganya memiliki latar belakang tenaga medis dan disarankan untuk menjadi dokter atau bidan.
Namun ternyata Elma Prastika Maharani lebih memilih jalan kesehatan jiwa.
Bukan tanpa alasan memilih menjadi psikolog, Elma, sapaan akrabnya, mengaku tidak berani melihat darah sehingga tidak memilih profesi seperti keluarganya.
Namun, dia mengambil profesi itu juga karena memang masih di jalur kesehatan yang tidak bersentuhan dengan tindakan medis seperti jarum suntik atau darah.
Baca Juga: Bersantai Pagi dan Sore Hari di Taman Sentul Kota Blitar Cukup Hilangkan Penat Karena ada Ini
Meski begitu, keputusan itu tidak datang secara instan. “Saya sempat mengambil jurusan teknik sipil saat awal kuliah. Memang cukup jauh dari dunia kesehatan. Namun, seiring waktu, saya merasa tidak menemukan kecocokan dan tidak passion di teknik sipil,” ujar Elma.
Kesempatan kembali datang saat dia mencoba jalur lain dan diterima di jurusan psikologi.
Dari situlah, perjalanan Elma mulai menemukan arah perjalan karirnya. Namun, saat menyelesaikan studi S-1, dia belum terpikir untuk menjadi psikolog profesional.
Baca Juga: Nongkrong di Kafe Nuansa Jepang di Kota Blitar Satu Ini Berasa Pulang ke Rumah Ibu
Kebutuhan di daerah asalnya menjadi pemicu langkahnya berikutnya.
Dia melihat Blitar masih minim tenaga psikolog, sementara kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan mental terus meningkat.
Melihat kondisi itu membuatnya mantap melanjutkan pendidikan profesi.
“Kabupaten Blitar memang ada psikolog, namun masih jarang. Padahal kebutuhannya cukup besar untuk melayani masyarakat gagung jiwa,” katanya.
Kini, sudah tiga tahun Elma resmi berpraktik sebagai psikolog berizin. Selama itu pula, dia menangani berbagai kasus, mulai dari persoalan keluarga hingga pasangan suami istri yang berupaya menyelamatkan rumah tangga.
Meskipun begitu, tak jarang dia menemui hal unik dalam praktiknya. Seiring zaman modern ini, ternyata masih ada masyarakat yang mengaitkan gangguan psikologis dengan hal-hal mistis. Ada masyarakat yang mengaku kesurupan dan datang konsultasi kepada Elma.
“Ada beberapa klien yang datang dengan keluhan merasa disantet atau kena hal-hal seperti itu. Tetap saya layani untuk konsultasi, dan saat kondisinya parah diarahkan untuk rujuk ke psikiater,” ujarnya.
Dalam kondisi seperti itu, Elma berupaya memberikan pemahaman bahwa gangguan yang dialami bisa dijelaskan secara medis. Dia juga tak segan merujuk klien ke psikiater jika diperlukan, terutama untuk penanganan dengan obat.
Baca Juga: Nostalgia Bersama Kuliner Legendari Soto Babat Pak Jito di Jiwut Blitar
Menurutnya, penanganan yang cepat dapat membantu kondisi klien membaik secara signifikan.
Menariknya, Elma melihat kesadaran masyarakat Blitar terhadap kesehatan mental justru cukup baik, terutama di kalangan remaja. Sebab, banyak remaja yang sudah perhatian dengan kesehatan mental. Terbukti dengan menyisihkan uang saku untuk ke psikolog.
Ke depan, Elma memiliki harapan besar terhadap layanan kesehatan mental di daerah. Dia bercita-cita mendirikan yayasan yang memiliki fasilitas khusus bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), terutama bagi mereka yang tidak mendapat dukungan penuh dari keluarga.
"Saya berharap agar setiap puskesmas memiliki layanan psikolog atau psikiater. Mengingat, jumlah ODGJ di Blitar disebut mencapai ribuan kasus,” pungkasnya. (jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah