BLITAR KAWENTAR - Upaya menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Blitar terus digaungkan kalangan pemuda. Salah satunya datang dari Rachma Agustina Wulandari, Duta Pemuda 2024 yang kini fokus mengembangkan program pendidikan inklusi.
Perempuan asal Desa/Kecamatan Doko itu membawa gagasan agar pendidikan di Bumi Penataran lebih merata dan ramah bagi semua kalangan. Termasuk anak-anak yang tertinggal secara akademik maupun yang putus sekolah.
Rachma mengungkapkan, program yang diusungnya tidak hanya menyasar sekolah kecil atau wilayah terpencil. Namun juga sekolah besar yang masih memiliki siswa dengan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung yang belum optimal.
“Program yang kami dorong ada dua, yaitu sekolah inklusi dan menekan angka anak tidak sekolah. Kami ingin anak-anak yang putus sekolah bisa kembali belajar di kelas dan bisa menerima ilmu sesuai haknya,” ujar Rachma.
Alumni Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) itu menjelaskan, ide tersebut lahir dari pengalamannya saat mengikuti program Kampus Mengajar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itu, dia ditempatkan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Tentu pengalaman tersebut membuka matanya bahwa persoalan pendidikan tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga bisa ditemukan di wilayah dengan akses pendidikan yang relatif lebih baik.
“Metode Kampus Mengajar itu akan kami modifikasi agar bisa diterapkan di Kabupaten Blitar. Tujuannya untuk menjawab permasalahan pendidikan yang ada,” jelasnya.
Melalui Paguyuban Duta Pemuda, Rachma berencana menggandeng Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar untuk menjalankan program tersebut. Selain itu, pihaknya juga akan memberikan edukasi kepada masyarakat dan orang tua terkait pentingnya pendidikan.
Menurutnya, kesadaran orang tua menjadi kunci dalam menekan angka anak putus sekolah. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya kepada siswa, tetapi juga lingkungan keluarga. “Kesadaran pendidikan itu harus dibangun bersama, tidak hanya di sekolah tapi juga di rumah,” ungkapnya.
Perempuan 24 tahun itu juga mengaku, selama mengikuti ajang Duta Pemuda, dirinya mendapatkan banyak bekal. Mulai dari kemampuan public speaking hingga pemahaman tentang program pembangunan daerah. Hal tersebut dinilai penting untuk menunjang perannya sebagai mitra pemerintah dalam mengembangkan sektor pendidikan.
“Kami dibekali materi tentang pemerintahan dan berbagai sektor, sehingga bisa berkolaborasi dengan OPD untuk menjalankan program,” pungkasnya.(jar/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah