(screenshot youtube)
JAKARTA - Sepak bola Indonesia tidak hanya hidup di lapangan hijau, tetapi juga tumbuh dari atmosfer tribun dan stadion yang menjadi rumah bagi setiap klub Liga 1. Musim Super League atau Liga 1 Indonesia 2025/2026 menghadirkan cerita unik dari 18 stadion yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari arena kecil dengan atmosfer intim hingga stadion megah berkapasitas puluhan ribu penonton.
Setiap stadion memiliki karakter berbeda. Ada yang penuh sejarah, ada yang baru direnovasi, hingga ada yang menjadi simbol kebangkitan sepak bola daerah. Namun dari seluruh venue yang digunakan musim ini, Jakarta International Stadium tetap menjadi stadion paling megah dan terbesar di Liga 1 Indonesia.
Sementara stadion-stadion kecil seperti Stadion Sumpah Pemuda dan Gelora Madura Ratu Pamelingan justru dikenal karena atmosfer penonton yang dekat dengan lapangan dan tekanan besar kepada tim tamu.
Stadion Kecil dengan Atmosfer Besar
Perjalanan stadion Liga 1 dimulai dari Bandar Lampung. Stadion Sumpah Pemuda yang menjadi kandang Bayangkara FC hanya memiliki kapasitas sekitar 7 ribu penonton. Namun ukuran kecil itu justru menciptakan suasana pertandingan yang terasa lebih intim.
Hal serupa juga terlihat di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan milik Madura United FC. Meski kapasitasnya tak terlalu besar, dukungan suporter Madura dikenal sangat vokal dan membuat stadion terasa hidup.
Di Jepara, Stadion Gelora Bumi Kartini kembali merasakan atmosfer kasta tertinggi setelah Persijap Jepara promosi ke Liga 1.
Sementara itu, Stadion Gelora BJ Habibie di Parepare menjadi rumah baru PSM Makassar setelah direnovasi total beberapa tahun terakhir.
Stadion Bersejarah hingga Simbol Kebangkitan
Beberapa stadion Liga 1 juga menyimpan sejarah panjang sepak bola Indonesia. Stadion Brawijaya di Kediri menjadi saksi kejayaan Persik Kediri pada era awal 2000-an.
Baca Juga: Karnaval Budaya Jatim Malang 2026 Meriah, Tradisi Bersih Desa di Kota Blitar Disambut Ribuan Warga
Sedangkan Stadion Haji Agus Salim pernah mengalami kerusakan akibat gempa besar 2009 sebelum akhirnya direnovasi dan kembali menjadi kandang Semen Padang FC.
Di Kalimantan, Stadion Segiri Samarinda tetap menjadi simbol sepak bola daerah dan markas kuat Borneo FC Samarinda.
Ada pula Stadion Kanjuruhan Malang yang kini menjadi simbol kebangkitan sepak bola Indonesia pasca tragedi besar tahun 2022. Stadion kandang Arema FC itu kini tampil jauh lebih modern setelah direnovasi besar-besaran.
Baca Juga: Meriah dan Penuh Atraksi, Penampilan Sumber Manggis Kulon Curi Perhatian di Karnaval Budaya Blitar
Stadion Modern Mulai Mendominasi
Liga 1 Indonesia juga mulai dipenuhi stadion modern berstandar internasional. Indomilk Arena kandang Persita Tangerang menjadi salah satu contoh stadion modern dengan fasilitas nyaman.
Sementara Stadion Kapten I Wayan Dipta di Gianyar menjadi pusat perkembangan profesionalisme Bali United FC.
Baca Juga: Haul Eyang Jugo ke-156 Meriah, Ribuan Warga Padati Kirab Pusaka dan Pentas Budaya di Padepokan Jugo
Stadion Manahan Solo juga menjadi salah satu venue terbaik di Indonesia setelah mengalami renovasi besar dan memiliki fasilitas bertaraf internasional.
Di Bandung, Stadion Gelora Bandung Lautan Api atau GBLA menjadi markas megah Persib Bandung dengan lautan biru bobotoh yang terkenal fanatik.
Sedangkan Stadion Gelora Bung Tomo milik Persebaya Surabaya dikenal sebagai salah satu stadion paling berisik di Indonesia karena dukungan masif Bonek.
JIS Jadi Standar Baru Stadion Indonesia
Di puncak daftar stadion terbesar dan termegah Liga 1 Indonesia musim ini adalah Jakarta International Stadium.
Markas Persija Jakarta tersebut memiliki kapasitas lebih dari 80 ribu penonton dengan desain modern, atap tertutup, dan fasilitas kelas dunia.
Baca Juga: Kuliner Khas Blitar Paling Diburu Wisatawan, dari Nasi Ampok hingga Wajik Kletik yang Legendaris
JIS kini dianggap sebagai simbol standar baru sepak bola Indonesia. Meski begitu, setiap stadion tetap memiliki identitas dan cerita masing-masing yang membuat sepak bola nasional terasa hidup di berbagai kota.
Editor : Dyah Wulandari