JEREZ - Lintasan panas Sirkuit Jerez, Spanyol, benar-benar menjadi saksi bisu perjuangan heroik sekaligus menyakitkan bagi pembalap kebanggaan Indonesia, Mario Aji. Dalam gelaran Moto2 2026 pekan lalu, pembalap berjuluk "Super Mario" ini sebenarnya hampir saja mencatatkan sejarah manis sebelum nasib buruk menghampirinya di putaran-putaran terakhir. Harapan publik tanah air untuk melihat bendera Merah Putih meraih poin di tanah Eropa pun harus pupus secara dramatis.
Penampilan Mario Aji di Moto2 Jerez 2026 sebenarnya layak mendapat acungan jempol. Memulai balapan dari posisi ke-17 bukanlah perkara mudah di tengah kepungan rider-rider top dunia yang memiliki pace sangat agresif. Namun, Mario menunjukkan determinasi tinggi sejak lampu start dipadamkan. Ia perlahan merangkak naik, melewati satu demi satu rivalnya dengan manuver yang sangat berani namun tetap terukur di tikungan-tikungan sulit Jerez.
Nasib sial yang menimpa Mario Aji terasa semakin menyakitkan karena ia terjatuh saat balapan hanya menyisakan empat lap lagi. Padahal, saat itu posisi Mario sudah sangat ideal untuk mengamankan poin penting bagi Idemitsu Honda Team Asia. Kegagalan finish ini menjadi pukulan telak, mengingat perjuangan keras yang ia tunjukkan dari barisan belakang hingga sempat menembus zona perebutan sepuluh besar sepanjang balapan berlangsung.
Baca Juga: Jadwal MotoGP Prancis 2026 Lengkap: Race Utama Live Trans7, Klasemen MotoGP Dipimpin Marco Bezzecchi
Kronologi Perjuangan Mario Aji dari Posisi 17
Sejak awal balapan, Mario Aji tidak membiarkan posisinya tertahan di papan bawah. Memanfaatkan insiden crash beberapa pembalap di depannya serta menjaga ritme ban dengan sangat baik, Mario sukses melakukan comeback yang impresif. Dari posisi ke-18, ia naik ke posisi 14, bahkan sempat menyentuh posisi ke-12. Momentum tersebut membuat para penggemar di Indonesia yakin bahwa poin perdana di seri Jerez akan segera diraih.
Sayangnya, sirkuit yang teknikal ini kembali menunjukkan kegarangannya. Saat balapan memasuki fase krusial di akhir laga, Mario kehilangan kendali pada motornya dan terhempas ke area gravel. Kondisi ini memaksa Mario untuk retired (mundur), mengulang catatan buruk yang juga ia alami pada seri sebelumnya di Amerika Serikat. Nasib kurang beruntung ini pun menular kepada rekan setimnya, Taiyo Furusato, yang lebih dulu mengalami kecelakaan dan gagal membawa pulang hasil untuk tim.
Dominasi Senna Agius dan Manuel Gonzalez
Berbanding terbalik dengan duka di kubu Indonesia, pembalap Liqui Moly Husqvarna Intact GP, Senna Agius, justru tampil sangat perkasa. Agius sukses mengunci kemenangan keduanya secara beruntun setelah sebelumnya juga naik podium tertinggi di Amerika Serikat. Kemenangan ini mempertegas status Agius sebagai kandidat kuat juara dunia Moto2 musim 2026. Di belakangnya, Manuel Gonzalez tampil sangat konsisten untuk mengamankan posisi kedua, disusul oleh Colin Veyer yang mengklaim podium ketiga.
Kemenangan beruntun Agius membuat peta persaingan klasemen sementara semakin memanas. Manuel Gonzalez memang masih memimpin klasemen dengan koleksi 59 poin, namun Agius kini menempel ketat di posisi kedua dengan 50 poin. Persaingan di lima besar juga diisi oleh nama-nama besar seperti Izan Guevara, Celestino Vietti, dan Daniel Holgado yang siap menyalip di seri-seri berikutnya.
Menatap Seri Selanjutnya: Misi Bangkit Super Mario
Meskipun gagal meraih poin di Jerez, performa Mario Aji memberikan sinyal positif bagi perkembangan karier balapnya di kelas intermediate. Kemampuannya untuk merangsek ke posisi 12 besar dari posisi start 17 menunjukkan bahwa Mario memiliki kecepatan yang kompetitif. Masalah utama yang perlu dibenahi saat ini adalah konsistensi dan ketahanan di putaran-putaran akhir agar tidak kembali mengalami kecelakaan saat sudah berada di posisi poin.
Masyarakat balap Indonesia kini berharap Mario dapat segera melupakan hasil buruk di Jerez dan fokus menatap seri berikutnya. Musim 2026 masih sangat panjang, dan setiap lintasan selalu menyimpan kemungkinan baru bagi pemuda asal Magetan ini. "Gagal maning" di Jerez bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pelajaran berharga untuk tampil lebih solid dan meraih hasil yang benar-benar super di masa mendatang.
Editor : Vicky Permana Saputra