JAKARTA – Setelah melanglang buana di kejuaraan dunia, Andi Gilang terapkan ilmu balap dunia saat berlaga di ajang Oneprix 2023. Pembalap asal Bulukumba yang memiliki nama lengkap Andi Farid Izdihar ini membuktikan bahwa kelasnya sebagai mantan pembalap Moto2 dan Moto3 tidak luntur meski harus kembali menjinakkan motor bebek di sirkuit kecil.
Kehadiran Andi Gilang terapkan ilmu balap dunia di kompetisi domestik ini menjadi magnet tersendiri bagi para penggemar otomotif. Pasalnya, Andi Gilang terakhir kali membalap dengan motor bebek pada tahun 2014, saat era Honda Blade 125 masih berjaya. Setelah sembilan tahun bergelut dengan motor sport prototype dan menjadi juara Asia Super Sport 600cc, proses adaptasi Andi Gilang di Oneprix ternyata berlangsung sangat cepat, hanya dalam hitungan jam.
Banyak pihak yang penasaran bagaimana Andi Gilang terapkan ilmu balap dunia dalam gaya balapnya di sirkuit teknikal seperti Sabaru, Palangkaraya. Meskipun motor yang digunakan memiliki spesifikasi jauh di bawah motor 1000cc yang biasa ia tunggangi, teknik overtake dan mentalitas bertarung yang ia dapatkan di Eropa keluar secara otomatis. Refleks tajam dan perhitungan matang saat berada di atas motor menjadi bukti nyata bahwa pengalaman internasionalnya sangat berpengaruh besar.
Adaptasi Cepat dan Memori Balap Bebek
Kembali ke motor bebek setelah hampir satu dekade bukan tanpa kendala. Andi Gilang mengaku awalnya merasa kaku saat pertama kali mencoba motor Oneprix. Namun, memori masa kecilnya saat merintis karir di balap nasional seolah terpanggil kembali. Hanya butuh waktu latihan setengah hari bagi Andi untuk merasa nyaman dan mulai mencatatkan waktu yang kompetitif melawan para raja bebek nasional.
"Awalnya memang kaku karena sudah 9 tahun ya tidak balap bebek. Tapi setelah latihan sebentar, memori-memori dulu masuk lagi. Rasanya langsung reflek saja terjadi di atas motor," ungkap Andi Gilang. Ia juga menepis anggapan bahwa sering berganti jenis motor, dari motor sport 1000cc ke bebek, akan merusak riding style. Baginya, semua kembali pada kemampuan adaptasi masing-masing individu pembalap.
Fisik Terkuras di Sirkuit Kecil
Menariknya, Andi Gilang membedah perbedaan mencolok antara membalap di sirkuit besar Eropa dengan sirkuit kecil di Indonesia. Banyak orang mengira balapan motor bebek lebih santai, namun Andi justru merasa energi yang dikeluarkan sangat besar. Di sirkuit internasional yang lebar, pembalap memiliki waktu untuk "recovery" sejenak di lintasan lurus. Sebaliknya, di sirkuit kecil, pembalap harus terus melakukan pengereman dan menikung tanpa henti.
Pertarungan yang sangat rapat di Oneprix menuntut konsentrasi tingkat tinggi. Jarak antar pembalap yang hanya terpaut beberapa sentimeter membuat setiap manuver sangat berisiko. "Kalau motor sport di sirkuit besar kita bisa istirahat panjang di lintasan lurus untuk recovery oksigen. Kalau sirkuit kecil, ngerem lagi, nikung lagi, energi benar-benar terkuras semua karena posisi sangat mepet," tambahnya.
Detail Suspensi: Kunci Ilmu Eropa Andi Gilang
Salah satu bukti konkret bagaimana Andi Gilang menerapkan standar dunia adalah ketelitiannya terhadap setup motor, terutama pada sektor suspensi. Bagi Andi, suspensi adalah komponen paling vital yang menentukan kecepatan di tikungan (speed corner) dan stabilitas saat pengereman keras. Ia tak segan berbagi ilmu dengan teknisi lokal untuk mendapatkan feel yang sempurna.
Meskipun teknologi sensor suspensi belum sepenuhnya digunakan di semua seri nasional, Andi menggunakan insting dan pengalamannya untuk memberikan masukan detail kepada tim mekanik. Ia menekankan bahwa daya tahan (durability) mesin memang penting, namun kenyamanan suspensi adalah hal utama yang membuat pembalap percaya diri melakukan overtake di titik-titik sulit.
Dengan target selalu mengincar podium di setiap seri Oneprix, Andi Gilang ingin memberikan yang terbaik sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras seluruh tim dan mekanik. Kembalinya Andi Gilang bukan sekadar ajang reuni, melainkan standar baru bagi para pembalap muda Indonesia untuk melihat bagaimana profesionalisme tingkat dunia diaplikasikan di sirkuit lokal.
Editor : Vicky Permana Saputra