MAGETAN - Nama Mario Suryo Aji kini tak asing lagi bagi para pecinta otomotif di tanah air. Pembalap muda yang akrab disapa Super Mario ini merupakan representasi tunggal Indonesia di kancah kejuaraan dunia balap motor. Namun, di balik keberhasilannya menembus aspal Eropa, tersimpan perjalanan panjang nan berliku yang dimulai dari sebuah kota kecil di Jawa Timur, Magetan. Kisah inspiratif Mario Suryo Aji bukan sekadar tentang kecepatan, melainkan tentang ketangguhan mental dan pengorbanan yang luar biasa.
Darah balap Mario ternyata mengalir deras dari sang ayah, almarhum Hartoto, yang merupakan mantan pembalap nasional. Uniknya, kisah inspiratif Mario Suryo Aji tidak dimulai di lintasan aspal, melainkan di atas tanah. Sejak usia lima tahun, ia sudah akrab dengan debu dan lumpur sebagai pembalap motocross kelas 50 cc. Dunia "garuk tanah" inilah yang menempa fisik dan mentalnya menjadi sekeras baja sebelum akhirnya memutuskan untuk menyeberang ke balapan road race.
Transisi dari motocross ke balap aspal bukanlah hal mudah bagi Mario. Ia harus mengubah gaya balapnya secara total. Bakat alaminya kemudian terendus oleh Astra Honda Racing Team (AHRT), yang menjadi gerbang utama karir internasionalnya. Di bawah naungan AHRT, Mario mulai mengenal mesin sport fairing seperti Honda CBR seri 150R dan 250R, hingga akhirnya bersinar di ajang Idemitsu Asia Talent Cup (IATC).
Baca Juga: Hampir 50 Persen Bidang Tanah di Sulteng Bersertipikat, Wamen Ossy Dermawan Beri Apresiasi Tinggi
Tantangan Fisik di Kelas Moto3
Saat melangkah ke kejuaraan dunia kelas Moto3, Mario menghadapi tantangan yang tidak terduga, yakni postur tubuhnya sendiri. Dengan tinggi badan 173 cm, Mario tergolong terlalu besar untuk motor Moto3 yang hanya bermesin 250 cc satu silinder. Hambatan angin (drag) yang besar membuat Mario sering kalah top speed di trek lurus dibandingkan pembalap lain yang berpostur lebih mungil.
Meski demikian, kisah inspiratif Mario Suryo Aji tetap diwarnai dengan momen emas, seperti keberhasilannya meraih front row saat kualifikasi di Sirkuit Mandalika tahun 2022. Hal ini membuktikan bahwa kualitas skill Mario sebenarnya berada di atas rata-rata jika kondisi teknis mendukung. Kendala postur inilah yang membuat keputusannya untuk naik kelas menjadi langkah yang sangat krusial.
Loncatan Jenius ke Kelas Moto2
Kepindahan Mario ke kelas Moto2 pada musim 2024 dinilai sebagai keputusan teknis paling jenius. Berbeda dengan Moto3, motor Moto2 menggunakan mesin Triumph 765 cc tiga silinder dengan tenaga lebih dari 140 HP. Karakter mesin ini memiliki torsi yang melimpah, sangat cocok untuk mengangkat bobot tubuh Mario yang lebih berat. Di kelas ini, postur tingginya justru menjadi keuntungan dalam mengendalikan motor yang lebih besar dan bertenaga.
Kini, tantangan baru Mario adalah beradaptasi dengan sistem elektronik yang lebih kompleks dan ban Pirelli yang memiliki karakter unik. Meski proses adaptasi di level kejuaraan dunia tidak ada yang instan, gaya balap Mario kini terlihat lebih rileks dan natural dibandingkan saat ia harus "memaksakan diri" di atas motor Moto3 yang kecil.
Dukungan untuk Aset Bangsa
Sebagai satu-satunya aset bangsa di ajang Grand Prix, Mario Suryo Aji adalah bukti nyata bahwa talenta Indonesia mampu bersaing dengan monster-monster muda dunia seperti Pedro Acosta. Perjalanannya dari latihan motocross di Magetan hingga tinggal jauh dari keluarga di Eropa demi mengejar mimpi adalah pengorbanan yang patut diapresiasi.
Masyarakat Indonesia diharapkan terus memberikan dukungan tanpa henti, terutama saat Mario tengah menjalani proses adaptasi yang berat. Perjuangan Super Mario masih sangat panjang, dan konsistensi dukungann dari tanah air akan menjadi energi tambahan baginya untuk terus mengibarkan Merah Putih di podium internasional.
Editor : Natasha Eka Safrina