BLITAR KAWENTAR - Tangan Kukuh Andri Suprijanto tampak masih lincah menggoreskan tinta di atas kertas gambar. Dari langkah ajaib itu, bisa mengantarkannya menjadi juara komik nasonal. Di usia 54 tahun dia tetap bertahan dengan gaya menggambar manual.
Satu per satu panel komik disusun oleh Kukuh Andri Suprijanto dengan cara manual, mulai sketsa pensil hingga pewarnaan digital. Warga Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar itu tetap setia berkarya di tengah gempuran komik digital dan budaya visual instan.
“Dulu saya bikin komik di buku tulis bergaris. Pertama kali membuat komik judulnya Petualangan Si Kancil,” kenangnya sambil tersenyum.
Baca Juga: Renault Triber Jadi MPV Murah Favorit Keluarga, Kabin Super Lega dan BBM Irit Jadi Andalan
Bagi Kukuh, menggambar bukan sekadar hobi. Dunia komik sudah menemaninya sejak kecil. Bahkan, komik pertamanya lahir saat dirinya masih duduk di bangku kelas 4 SD.
Tak lama kemudian, dia membuat komik lain berjudul “Gerhana Bulan”. Memasuki masa SMP, minatnya bergeser ke tokoh-tokoh superhero ala komik Amerika. Saat teman-temannya sibuk bermain, Kukuh justru asyik menggambar di kelas hingga dikelilingi teman-temannya sendiri.
Meski sempat vakum saat SMA karena mendalami seni drama dan karawitan, kecintaannya terhadap komik tak pernah benar-benar hilang. Sekitar 10 tahun terakhir, dia kembali serius menekuni dunia ilustrasi setelah mendapat tawaran membuat komik silat dari rekannya di Dewan Kesenian Situbondo.
Baca Juga: Verifikasi Penerima PBI JKN di Kabupaten Blitar Masih Minim, Ketua Tim PKH Ungkap Kendalanya
Dalam menekuni dunia komik ini, Kukuh mengaku belajar menggambar secara otodidak. Dia tak pernah mengenyam pendidikan formal seni rupa. Inspirasi dan teknik menggambarnya justru banyak dipelajari dari komik-komik DC dan Marvel yang dulu rajin dia baca.
“Saya belajar dari komik Amerika. Makanya gaya gambar saya kadang agak kebarat-baratan. Terutama menggambar wajah orang Indonesia, yang hasil akhirnya mirip bule,” katanya.
Dari 10 karya yang pernah dibuat sejak kecil, kini ada sekitar empat judul komik yang masih aktif dipasarkan. Sebagian besar mengangkat tema silat, wayang dan budaya Nusantara. Salah satu yang cukup dikenal ialah trilogi komik silat “Pendekar Tembang Pengukir”.
Namun, pencapaian terbesar Kukuh datang pada 2021. Di tengah masa pandemi Covid-19, ia mengikuti Lomba Komik Wayang Nasional yang diselenggarakan Bank Central Asia bersama Sampan Hismanto Fondation. Lewat karya berjudul “Anoman Duto”, Kukuh berhasil meraih juara pertama tingkat nasional.
Meski demikian, perjalanan menjadi komikus lokal tidak selalu mudah. Kukuh mengaku pasar komik Indonesia saat ini masih kalah jauh dibanding dominasi manga Jepang. Bahkan banyak generasi muda yang lebih mengenal komikus luar negeri dibanding karya lokal.
“Peminat komik Indonesia itu memprihatinkan. Komik Jepang masih jauh lebih laris. Maka dari itu, saya memilih jalur self publishing untuk menerbitkan karya-karya,” ungkapnya.
Komiknya dipasarkan melalui media sosial dan sistem pre-order agar biaya produksi tetap terjangkau. Harga komik buatannya berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 80 ribu tergantung ukuran dan warna halaman.
Menariknya, di tengah era gambar digital, Kukuh masih mempertahankan teknik manual. Dia menggambar langsung menggunakan pensil dan tinta di atas kertas sebelum dipindai ke komputer untuk proses akhir.
“Metode manual itu nilai seninya lebih terasa. Banyak penggemar komik yang suka dengan komik yang dibuat manual, karena memiliki ciri khas pada goresan karyanya,” pungkasnya.(jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah