Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Veda Ega Pratama Jadi Sorotan Media Italia Usai Podium Bersejarah Moto3 Brasil 2026, Kini Hadapi Ujian Berat di COTA Amerika

Muhamad Ahsanul Wildan • Jumat, 15 Mei 2026 | 15:39 WIB
Veda Ega Pratama dipuji media Italia usai podium bersejarah Moto3 Brasil 2026, kini hadapi ujian berat di COTA. (Pinterest)
Veda Ega Pratama dipuji media Italia usai podium bersejarah Moto3 Brasil 2026, kini hadapi ujian berat di COTA. (Pinterest)

BLITAR KAWENTAR - Nama Veda Ega Pratama kini semakin mencuri perhatian dunia balap internasional.

Pembalap muda asal Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu mendapat pujian dari media-media Italia setelah tampil gemilang pada Moto3 GP Brasil 2026.

Veda Ega Pratama sukses mencatat sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang naik podium di ajang Grand Prix dunia.

Rider berusia 17 tahun tersebut finis di posisi ketiga dalam balapan dramatis di Sirkuit Ayrton Senna, Goiania, Minggu 22 Maret 2026.

Prestasi Veda Ega Pratama langsung menjadi pembahasan hangat di Italia, negara yang dikenal sebagai pusat perkembangan balap motor dunia.

Sejumlah media balap Eropa menyebut penampilan Veda sebagai salah satu kejutan terbesar di Moto3 musim 2026.

Baca Juga: 5 Motor Listrik Subsidi Termurah 2025, Harga Mulai Rp6 Juta dan Bisa Tempuh Hingga 130 Km

Media Italia Terpukau Penampilan Veda Ega Pratama

Italia bukan negara biasa dalam dunia balap motor. Negara itu melahirkan banyak legenda seperti Valentino Rossi hingga Giacomo Agostini serta menjadi markas pabrikan besar Ducati, Aprilia, dan MV Agusta.

Karena itu, pengakuan dari komunitas balap Italia dianggap sebagai pencapaian penting bagi seorang pembalap muda.

Veda berhasil mendapat perhatian tersebut berkat performa impresifnya di Brasil.

Media Italia menyoroti bagaimana pembalap Honda Team Asia itu mampu mengalahkan rider-rider binaan akademi balap elite Eropa dan Amerika Latin. Mereka juga menilai Veda memiliki kematangan balap di luar usianya.

Yang membuat penampilan Veda semakin spesial adalah proses perebutan podium yang tidak mudah. Ia sempat tercecer di posisi ke-10 sebelum balapan dihentikan sementara akibat red flag.

Namun setelah restart, strategi Honda Team Asia menjadi penentu. Tim dengan cepat mengganti ban soft baru untuk lima lap terakhir. Keputusan tersebut membuat Veda tampil agresif dan mampu menyalip satu per satu lawannya.

Pada lap terakhir, Veda melakukan manuver late braking bersih untuk merebut posisi ketiga dari Alvaro Carpe. Aksi itu membuat banyak analis balap Italia terkesan karena dinilai menunjukkan kecerdasan taktis, bukan sekadar keberuntungan.

Pengakuan Internasional Sudah Mulai Sejak 2025

Sebenarnya nama Veda Ega Pratama sudah mulai diperhitungkan di Eropa sejak musim 2025.

Saat itu ia berhasil menyapu bersih dua kemenangan Red Bull Rookies Cup di Sirkuit Mugello, Italia.

Penampilan di Mugello menjadi titik awal perhatian publik Eropa terhadap talenta muda Indonesia tersebut. Kini podium di Moto3 GP Brasil menjadi bukti bahwa Veda bukan hanya pembalap potensial Asia, melainkan talenta dunia.

Manajer Honda Team Asia juga memberikan pujian khusus kepada Veda usai balapan di Brasil. Ia menyebut pembalap asal Gunung Kidul itu memiliki kemampuan membaca situasi balapan dengan sangat baik.

Selain itu, Veda dinilai mampu mengelola ban dan menentukan momentum overtake secara matang. Kualitas tersebut jarang dimiliki pembalap seusianya.

Tantangan Baru Menanti di Moto3 Amerika 2026

Setelah sukses di Brasil, Veda Ega Pratama kini menghadapi tantangan baru pada Moto3 Amerika 2026 di Circuit of The Americas (COTA), Austin.

Sirkuit COTA dikenal memiliki karakter unik dengan dominasi tikungan kiri.

Dari total 20 tikungan, sebanyak 11 di antaranya merupakan tikungan kiri yang menuntut adaptasi berbeda dari para pembalap.

Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi Veda. Pada dua seri sebelumnya, ia tampil kuat di lintasan yang lebih ramah untuk tikungan kanan.

Di Buriram, Thailand, Veda finis kelima pada seri pembuka musim. Sementara di Brasil, ia berhasil meraih podium ketiga sekaligus mencetak sejarah untuk Indonesia.

Kini di COTA, tekanan akan lebih besar pada sisi kiri tubuh serta ban kiri motor. Pembalap dituntut menjaga keseimbangan, grip ban, dan racing line secara konsisten sepanjang balapan.

Karakter permukaan lintasan COTA yang bergelombang juga menjadi ujian tambahan. Kesalahan kecil dalam membaca tikungan bisa membuat pembalap kehilangan momentum.

Meski begitu, Veda sebenarnya punya pengalaman positif di sirkuit dengan dominasi tikungan kiri. Pada Red Bull Rookies Cup 2025 di Sachsenring, ia bahkan mampu meraih kemenangan.

Namun persaingan Moto3 jelas berbeda dibanding level junior. Adaptasi harus dilakukan lebih cepat dengan tekanan yang jauh lebih besar.

Selain faktor teknis, Veda juga menghadapi tantangan fisik akibat jadwal balapan yang padat. Perjalanan panjang dari Brasil menuju Amerika dengan perubahan zona waktu membuat pemulihan kondisi tubuh menjadi sangat penting.

Jika mampu kembali tampil kompetitif di COTA, maka Veda Ega Pratama tidak hanya membuktikan kecepatannya, tetapi juga kapasitasnya sebagai pembalap komplet yang mampu bersaing di berbagai karakter sirkuit.

Moto3 Amerika 2026 pun menjadi ujian penting bagi perjalanan karier Veda menuju level tertinggi balap motor dunia, MotoGP.

Baca Juga: 5 Motor Listrik Subsidi Termurah 2025, Harga Mulai Rp6 Juta dan Bisa Tempuh Hingga 130 Km

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#moto3 brasil 2026 #Moto3 Amerika 2026 #Circuit of The Americas #Honda Team Asia #veda ega pratama