BLITAR KAWENTAR - Nama Veda Ega Pratama kini tidak hanya menjadi kebanggaan Indonesia, tetapi juga mulai mencuri perhatian dunia balap internasional.
Pembalap muda asal Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu mendapat pujian dari media-media Italia usai tampil impresif pada Moto3 GP Brazil 2026.
Veda Ega Pratama sukses mencetak sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang meraih podium di ajang Grand Prix dunia.
Prestasi tersebut diraih setelah pembalap berusia 17 tahun itu finis di posisi ketiga pada balapan yang berlangsung di Sirkuit Ayrton Senna, Goiania, Brasil, Minggu 22 Maret 2026.
Pencapaian Veda Ega Pratama langsung menjadi pembahasan hangat di Italia, negara yang dikenal sebagai pusat sejarah balap motor dunia.
Media balap Eropa menilai performa Veda bukan sekadar kejutan biasa, melainkan tanda lahirnya talenta besar baru dari Asia Tenggara.
Baca Juga: 10 Sepeda Listrik Terbaik 2026, Harga Mulai Rp3 Jutaan hingga Jarak Tempuh 100 Km
Media Italia Soroti Performa Veda Ega Pratama
Italia memiliki reputasi besar dalam dunia motorsport. Negara itu melahirkan nama-nama legendaris seperti Valentino Rossi hingga Giacomo Agostini.
Karena itu, pengakuan dari komunitas balap Italia dianggap sebagai pencapaian prestisius bagi seorang pembalap muda.
Media-media Italia menyoroti bagaimana Veda Ega Pratama mampu mengalahkan para rider yang berasal dari akademi balap elite Eropa dan Amerika Latin. Penampilan pembalap Honda Team Asia tersebut bahkan disebut sebagai salah satu kejutan terbesar Moto3 musim 2026.
Yang paling menarik perhatian adalah cara Veda meraih podium. Ia sempat tercecer hingga posisi ke-10 sebelum balapan dihentikan sementara akibat red flag. Namun momentum restart justru dimanfaatkan dengan sangat baik oleh tim Honda Team Asia.
Strategi penggunaan ban soft baru membuat Veda tampil agresif pada lima lap terakhir. Ia mampu melakukan sejumlah manuver late braking bersih sebelum akhirnya merebut posisi ketiga dari Alvaro Carpe di lap penentuan.
Analis balap Italia memuji kematangan taktik Veda yang dinilai jauh melampaui usianya. Pembalap muda Indonesia itu dianggap memiliki kemampuan membaca situasi balapan dan memanfaatkan peluang dengan sangat efektif.
Bukan Sekadar Talenta Lokal
Sebenarnya nama Veda Ega Pratama sudah mulai diperhatikan publik Eropa sejak musim 2025.
Saat itu, ia berhasil menyapu bersih dua kemenangan Red Bull Rookies Cup di Sirkuit Mugello, Italia.
Prestasi tersebut menjadi sinyal awal bahwa Indonesia memiliki pembalap muda yang mampu bersaing di level internasional. Kini, podium Moto3 GP Brazil menjadi bukti nyata bahwa Veda bukan hanya pembalap potensial, tetapi juga kandidat kuat masa depan MotoGP.
Manajer Honda Team Asia turut memberikan pujian khusus kepada Veda. Ia menyebut pembalap asal Gunung Kidul itu memiliki ketenangan dan kecerdasan balap yang tidak biasa untuk rider seusianya.
Kemampuan mengelola ban, menjaga ritme, hingga menentukan momen menyalip menjadi nilai lebih yang membuat Veda mulai diperhitungkan di paddock Moto3.
Tantangan Berat Menanti di Moto3 Amerika
Setelah sukses di Brazil, perhatian kini tertuju pada penampilan Veda Ega Pratama di Moto3 Amerika 2026 yang berlangsung di Circuit of The Americas (COTA), Austin.
Sirkuit COTA dikenal sebagai lintasan teknis dengan dominasi tikungan kiri.
Dari total 20 tikungan, sebanyak 11 di antaranya merupakan tikungan kiri. Karakter tersebut menjadi tantangan baru bagi Veda yang sebelumnya tampil impresif di lintasan yang lebih dominan tikungan kanan.
Kondisi itu membuat Veda harus beradaptasi cepat. Dominasi tikungan kiri akan memberikan tekanan lebih besar pada sisi kiri tubuh serta mempengaruhi performa ban.
Dalam dunia balap, kondisi seperti ini sering menjadi ujian serius bagi pembalap muda. Kesalahan kecil dalam menjaga racing line atau mengatur grip ban bisa berdampak besar terhadap catatan waktu.
Meski demikian, Veda sebenarnya memiliki pengalaman positif di sirkuit dengan karakter serupa. Pada Red Bull Rookies Cup 2025 di Sachsenring, lintasan yang terkenal dengan dominasi tikungan kiri, ia mampu tampil sebagai pemenang.
Namun Moto3 memiliki level tekanan yang jauh berbeda. Persaingan lebih ketat dan margin kesalahan sangat tipis. Selain itu, jadwal balapan yang padat juga menjadi tantangan tambahan karena pembalap harus menjaga kondisi fisik setelah perjalanan lintas benua.
Jika mampu tampil kompetitif di COTA, Veda Ega Pratama akan semakin membuktikan dirinya sebagai pembalap komplet yang mampu beradaptasi di berbagai jenis lintasan.
Indonesia Menanti Momen Mandalika
Antusiasme publik Indonesia terhadap Veda Ega Pratama diprediksi semakin besar menjelang MotoGP Mandalika 2026 yang berlangsung pada 9 hingga 11 Oktober mendatang.
Banyak penggemar berharap Veda kembali mencetak sejarah di depan pendukung sendiri.
Setelah membuat media Italia terpukau, publik Tanah Air kini menantikan aksi berikutnya dari pembalap muda berbakat asal Gunung Kidul tersebut.
Baca Juga: 10 Sepeda Listrik Terbaik 2026, Harga Mulai Rp3 Jutaan hingga Jarak Tempuh 100 Km
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan