JAKARTA - Nasib sial menimpa pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, pada sesi kualifikasi Moto3 Catalunya 2026. Rider andalan Honda Team Asia itu gagal menembus Q2 dan harus puas memulai balapan dari posisi ke-21 setelah hot lap terbaiknya buyar akibat terhalang rombongan pembalap lain di tikungan 12.
Insiden yang dialami Veda Ega Pratama langsung menjadi sorotan besar pecinta Moto3, terutama fans Indonesia. Nama Veda bahkan ramai diperbincangkan di media sosial setelah muncul rumor motor Honda NSF250RW miliknya mengalami masalah teknis serius sebelum sesi kualifikasi berlangsung.
Namun fakta di lapangan ternyata jauh lebih kompleks. Bukan sekadar soal motor, tetapi juga kombinasi setup yang belum ideal, tekanan internal tim, hingga insiden impeding yang membuat peluang emas Veda lolos ke Q2 hancur dalam hitungan detik.
Awal Berat Veda Ega Pratama di Catalunya
Performa Veda sebenarnya sudah terlihat kurang meyakinkan sejak sesi latihan bebas pertama. Pada FP1, pembalap asal Gunungkidul tersebut kesulitan menemukan ritme terbaiknya di Sirkuit Catalunya.
Manajer Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, mengungkapkan bahwa kendala utama bukan berasal dari kerusakan mesin, melainkan setup motor yang belum cocok dengan gaya balap Veda.
Kurangnya feeling dengan motor membuat Veda kesulitan memaksimalkan kecepatan di sektor-sektor cepat Catalunya. Situasi ini disebut memicu ketegangan di dalam garasi Honda Team Asia.
Rumor yang beredar menyebut Aoyama sempat meluapkan emosinya kepada para mekanik karena hasil motor belum sesuai target. Tekanan besar memang terasa karena tim ingin Veda tampil kompetitif sejak awal akhir pekan balapan.
Masalah setup tersebut bahkan sempat memengaruhi pembalap lain di tim. Rekan setim Veda dilaporkan mengalami crash akibat karakter motor yang belum stabil.
Mekanik Honda Berhasil Bangkitkan Performa
Meski sempat kesulitan, kerja keras mekanik Honda mulai membuahkan hasil pada FP2. Motor Veda berubah jauh lebih kompetitif dan sang pembalap mampu tampil impresif.
Veda sukses menembus posisi ke-13 dengan catatan waktu 1 menit 48,152 detik. Performa itu membuat julukan “Boeing 954” kembali menggema di kalangan pendukungnya.
Catatan waktunya hanya terpaut 0,740 detik dari pemimpin sesi, menunjukkan bahwa potensi Veda sebenarnya cukup kuat untuk bersaing di barisan depan Moto3 Catalunya 2026.
Peningkatan performa tersebut juga menjadi bukti bahwa persoalan teknis utama sudah berhasil diatasi oleh tim mekanik Honda Team Asia.
Hot Lap Emas Veda Hancur di Tikungan 12
Drama terbesar terjadi pada sesi Q1. Saat itu Veda tampil cukup menjanjikan dan sempat masuk zona aman untuk lolos ke Q2.
Pembalap bernomor 54 tersebut mencatat waktu 1 menit 47,687 detik dan menempati posisi keempat. Namun situasi berubah drastis saat sesi memasuki tiga menit terakhir.
Veda kembali turun ke lintasan untuk melakukan time attack penentuan. Berdasarkan data telemetri, ia sedang menjalani putaran terbaiknya dengan sektor pertama dan kedua berwarna hijau.
Sayangnya, momentum emas itu buyar di tikungan 12. Veda mendapati racing line tertutup oleh beberapa pembalap yang melaju lambat sambil mencari towing.
Situasi itu memaksanya mengangkat motor dan membatalkan hot lap demi menghindari tabrakan berbahaya. Reaksi frustrasi langsung terlihat di pit Honda Team Asia karena peluang lolos ke Q2 praktis hilang seketika.
Veda akhirnya hanya finis di posisi keenam Q1 dengan waktu 1 menit 47,636 detik dan harus start dari urutan ke-21 pada balapan utama.
FIM Beri Hukuman untuk Pembalap Penghalang
Insiden impeding di tikungan 12 langsung diselidiki oleh FIM Stewards. Dalam regulasi Moto3, menghalangi pembalap yang sedang menjalani hot lap memang termasuk pelanggaran serius.
Beberapa rider yang dianggap mengganggu laju Veda akhirnya dijatuhi hukuman berupa long penalty hingga penurunan posisi start.
Meski demikian, banyak pihak menilai kerugian terbesar tetap dialami Veda Ega Pratama karena catatan waktunya tidak bisa dikembalikan.
Rumor konspirasi yang menyebut rider Eropa sengaja menjegal pembalap Asia juga ramai beredar. Namun praktik menunggu towing di Moto3 sebenarnya sudah lama menjadi kebiasaan buruk yang sering memicu insiden serupa.
Sikap Dewasa Veda Tuai Pujian
Di tengah kekecewaan besar, Veda justru menunjukkan sikap yang sangat tenang. Ia tidak meluapkan emosi secara berlebihan meski peluang emasnya hilang di depan mata.
Sikap profesional pembalap muda Indonesia itu menuai banyak pujian dari pengamat internasional. Mereka menilai Veda memiliki mental kuat dan potensi besar untuk bersaing di level atas Moto3.
Kini tantangan besar menanti Veda Ega Pratama pada balapan utama Moto3 Catalunya 2026. Start dari posisi ke-21 tentu bukan tugas mudah, tetapi banyak penggemar berharap sang rider mampu melakukan comeback dan menembus zona poin.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari