BARCELONA - Gelaran Moto3 2026 di Sirkuit Catalunya baru saja usai, namun decak kagum jagat balap internasional terhadap performa pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, justru kian membara. Remaja berbakat asuhan Honda Team Asia ini sukses menggegerkan padok setelah mencatatkan kecepatan puncak (top speed) yang sangat mengerikan, yakni menembus angka 247,1 km/jam di lintasan lurus Montmelo sepanjang 1 km. Catatan fantastis tersebut tidak hanya membuktikan keunggulan mekanis motor Honda NSF250RW miliknya, melainkan juga langsung memanaskan tensi rivalitas regionalnya dengan pembalap andalan Malaysia, Hakim Danish, yang kini menjadi salah satu cerita terbesar di kelas Moto3 musim ini.
Sensasi Comeback Gila: Melesat 12 Posisi dari Urutan Start Ke-20
Performa Veda Ega Pratama di GP Catalunya terasa semakin luar biasa jika menilik bagaimana akhir pekan balapnya dimulai dengan situasi yang serbadelit. Pada hari pertama, Veda sempat tercecer di papan waktu akibat kesulitan menemukan setelan (setting-an) motor terbaik, yang memaksanya harus puas mengawali balapan utama dari posisi start ke-20. Bagi seorang rookie, memulai balapan dari barisan belakang di tengah ketatnya grid Moto3 yang brutal sering kali menjadi mimpi buruk, namun Veda justru mengubah tekanan masif tersebut menjadi panggung pembuktian mentalitasnya.
Begitu lampu hijau menyala, pembalap bernomor motor Indonesia ini langsung memperagakan gaya membalap agresif yang dikombinasikan dengan ketenangan tingkat tinggi. Lap demi lap dilalui Veda dengan menyelinap di antara rombongan tengah dan memanfaatkan setiap celah sempit untuk melakukan overtake. Berkat keberanian melakukan pengereman terlambat (late braking) setelah memanfaatkan slipstream secara sempurna di trek lurus, Veda secara fantastis berhasil menyentuh garis finis di posisi kedelapan, sebuah pencapaian comeback luar biasa dengan memangkas 12 posisi sekaligus.
Sengitnya Rivalitas Klasik Asia Tenggara: Karakter Halus Hakim Danish Lawan Agresivitas Veda
Keberhasilan Veda menembus posisi 8 besar dengan modal top speed yang masif secara otomatis membuat peta persaingan pembalap Asia Tenggara di panggung dunia semakin membara. Rivalitas antara Veda Ega Pratama dan Hakim Danish kini berkembang menjadi simbol pertarungan harga diri regional: Indonesia melawan Malaysia, sekaligus pembuktian kekuatan pabrikan antara Honda melawan KTM. Selama ini, Hakim Danish dikenal di padok sebagai pembalap yang memiliki teknik halus serta sangat konsisten saat melahap sektor-sektor teknikal sirkuit.
Namun, Veda kini hadir sebagai ancaman nyata yang sangat disegani lewat kombinasi gaya balap agresif dan kecepatan puncak yang sulit dibendung oleh lawan. Kemampuan Veda dalam menjaga momentum akselerasi saat keluar dari tikungan (exit corner) membuat motornya menyerupai rudal kecil yang tidak bisa dihentikan setiap kali memasuki lintasan lurus. Dua jebolan Asia Talent Cup dan Red Bull Rookies Cup ini terbukti saling dorong hingga batas maksimal demi mengamankan status sebagai pembalap terbaik dari Asia Tenggara.
Menatap GP Mugello: Arena Sempurna Eksploitasi Senjata Kecepatan Maksimal
Meskipun baru saja mencatatkan statistik kecepatan yang mengagumkan, Veda menunjukkan kematangan sikap dengan tidak tinggi hati dan memilih tetap membumi. Selepas balapan, ia menegaskan bahwa faktor konsistensi, manajemen keausan ban, serta taktik membaca ritme balapan di lap-lap akhir tetap menjadi kunci utama jika ingin menjadi pembalap besar di kelas Moto3. "Katalunia memberikan satu pesan penting, bahwa dirinya mampu bersaing secara teknis dengan rider-rider terbaik," tuturnya merefleksikan hasil balap.
Kini, fokus perhatian para pengamat dan tim balap mulai bergeser menuju seri berikutnya di Sirkuit Mugello, Italia. Karakteristik Sirkuit Mugello yang legendaris dengan lintasan lurusnya yang sangat panjang dan cepat diperkirakan akan menjadi arena bermain yang sangat ideal bagi senjata utama milik Veda. Jika di Catalunya Veda sudah berhasil memaksa seluruh isi padok untuk melirik potensinya, maka Mugello berpeluang besar menjadi tempat di mana nama pembalap muda Indonesia ini benar-benar meledak sebagai calon pemenang sirkuit dunia.
Editor : Natasha Eka Safrina