BARCELONA - Sepak terjang pembalap muda andalan Indonesia, Veda Ega Pratama, di kejuaraan dunia Moto3 2026 kembali memicu kehebohan besar di kalangan pengamat balap internasional. Berdasarkan hasil pengujian terbaru, statistik Veda Ega Pratama disebut-sebut jauh lebih ganas dan agresif dibandingkan dengan mantan pembalap kelas dunia asal Jepang, Ai Ogura, pada usia debut yang sama. Penampilan memukau remaja berusia 17 tahun ini dalam sesi tes resmi di Sirkuit Catalunya langsung menempatkannya sebagai salah satu ancaman terbesar bagi dominasi pembalap-pembalap tangguh asal Eropa.
Menggila di Tes Resmi Catalunya dan Mempecundangi Pabrikan KTM
Panggung Moto3 Catalunya 2026 kembali menjadi saksi bisu kehebatan talenta emas asal Gunung Kidul tersebut bersama skuad Honda Team Asia. Dalam sesi tes resmi yang berjalan sangat ketat, Veda Ega Pratama tampil luar biasa kompetitif dengan membukukan catatan waktu terbaik 1 menit 45,047 detik untuk mengamankan posisi di barisan 6 besar. Hebatnya, statistik Veda Ega Pratama ini sekaligus menyisihkan pembalap masa depan tim Red Bull KTM Tech, Brian Uriarte, dengan keunggulan selisih waktu mencapai lebih dari 0,1 detik.
Tidak hanya tajam dalam urusan memangkas waktu satu putaran, pembalap bernomor motor Indonesia ini juga sukses mencatatkan kecepatan puncak (top speed) hingga 222,2 km/jam di lintasan lurus Montmelo. Ketika rekan setimnya, Zen Mitani, masih terseok-seok di barisan belakang, Veda justru menunjukkan kematangan performa yang stabil dalam menjaga ritme di sektor teknis sirkuit. Tren positif ini membuktikan bahwa Veda bukan sekadar pembalap debutan yang hanya menumpang lewat di kompetisi Eropa.
Melampaui Catatan Emas Juara Asia Dunia Seri Ai Ogura
Komparasi performa yang membandingkan Veda dengan Ai Ogura—salah satu pembalap Asia paling sukses yang berhasil menembus kelas utama MotoGP—bukan tanpa alasan kuat. Secara rekam jejak, Ai Ogura membutuhkan waktu hingga dua musim penuh di ajang Asia Talent Cup (ATC) hanya untuk bisa mengamankan gelar posisi kedua (runner-up). Sebaliknya, statistik Veda Ega Pratama tercatat jauh lebih dominan karena ia langsung keluar sebagai juara umum Asia Talent Cup pada musim 2023 sebelum naik kelas ke Red Bull Rookies Cup dan JuniorGP.
Progresivitas kilat tersebut terus berlanjut tanpa henti saat Veda melakoni musim debutnya yang penuh kejutan di kejuaraan Moto3 2026. Sejarah besar bahkan berhasil diukir oleh Veda ketika ia sukses merengkuh podium ketiga di GP Brazil, menjadikannya pembalap pertama dalam sejarah otomotif Indonesia yang mampu berdiri di podium Grand Prix. Ketangguhan mentalnya kembali teruji di Sirkuit Le Mans, Prancis, di mana ia sukses finis di posisi keempat meski sempat tercecer ke urutan 14 akibat trek basah.
Kokoh di Lima Besar Klasemen Dunia dan Tinggalkan Rival Malaysia
Berkat rentetan hasil konsisten di paruh pertama musim, Veda Ega Pratama kini kokoh bertengger di posisi lima besar klasemen sementara Moto3 2026 dengan mengemas total 50 poin. Pencapaian fantastis ini berbanding terbalik dengan rival utama sesama pembalap Asia Tenggara, Hakim Danish. Pembalap asal Malaysia tersebut terpantau masih berjuang keras menemukan bentuk konsistensi berkendara dan harus puas terdampar di posisi ke-12 saat sesi tes resmi Catalunya.
Gaya balap Veda yang tenang, tidak mudah panik, namun sangat cerdas dalam menentukan momentum melakukan overtaking dinilai sangat mirip dengan karakteristik membalap Ai Ogura. Di tengah brutalnya persaingan kelas Moto3 yang dipenuhi aksi saling sikut, kemampuan Veda untuk tahu kapan harus menyerang dan kapan harus bersabar menjadi modal krusial untuk dilirik tim-tim besar MotoGP pada musim depan. Indonesia kini resmi memiliki salah satu talenta muda terbesar di benua Asia.
Editor : Natasha Eka Safrina