JAKARTA - Dominasi mutlak pabrikan Borgo Panigale di lintasan balap terancam berakhir setelah era Ducati resmi runtuh pada awal musim MotoGP 2026 yang ditandai dengan rentetan hasil buruk di berbagai seri. Keputusan manajemen untuk merekrut Marc Marquez ke tim pabrikan kini dituding sebagai pemicu utama hilangnya arah pengembangan motor Desmosedici, yang membuat pembalap utama seperti Francesco 'Pecco' Bagnaia frustrasi karena kehilangan feeling pada motornya.
Kronologi Krisis Ducati: Absen Menang Sejak Motegi 2025
Memasuki pertengahan musim 2026, alarm bahaya berbunyi keras di markas Ducati Lenovo Team. Statistik mencatat sebuah fakta yang mencengangkan: tim pabrikan utama Ducati belum meraih satu pun kemenangan di balapan utama (main race) hingga seri Le Mans 2026. Kemenangan terakhir motor merah tersebut tercatat pada GP Motegi, September 2025 lalu. Kondisi ini berbanding terbalik dengan rival mereka, Aprilia Racing, yang justru berpesta dan menguasai podium di Prancis.
Puncak krisis terjadi di sirkuit Le Mans, di mana Marc Marquez mengalami kecelakaan highside horor yang berujung cedera. Nasib sial juga menimpa Alex Marquez dan Pecco Bagnaia yang gagal finis akibat terjatuh. Praktis, hanya Fabio Di Giannantonio yang mampu menyelamatkan muka Ducati dengan finis di posisi keempat. Keterpurukan ini memicu spekulasi bahwa Ducati mulai kehilangan identitas sebagai motor paling sempurna di grid MotoGP dan berubah menjadi mesin yang rapuh serta sulit dipahami.
Pecco Bagnaia Mengeluh, Ducati Terjebak 'Perangkap' Marc Marquez
Akar masalah ditengarai muncul sejak pengembangan Desmosedici GP25. Pecco Bagnaia, sang juara dunia dua kali, berkali-kali mengeluhkan karakter motor yang tidak lagi sesuai dengan gaya balapnya, terutama pada sektor pengereman dan stabilitas bagian depan (front end). "Saya kesulitan menghentikan motor dan sulit membelokkannya," ungkap Pecco dalam berbagai kesempatan. Namun, keluhan tersebut seolah dianggap angin lalu karena di saat yang sama, Marc Marquez justru tampil menggila dan sangat dominan dengan motor tersebut.
Situasi ini sangat mirip dengan filosofi teknis yang pernah diingatkan oleh Gigi Dall'Igna: jangan terlalu percaya pada pembalap yang terlalu cepat. Pembalap spesial seperti Marquez memiliki kemampuan untuk menutupi kekurangan fundamental motor dengan kejeniusannya. Hal inilah yang membuat Ducati terlena; mereka merasa motor GP25 dan GP26 baik-baik saja karena Marquez tetap bisa menang, padahal pembalap "normal" lainnya mulai kehilangan rasa percaya diri. Akibatnya, arah pengembangan motor menjadi terlalu spesifik hanya untuk satu orang, sebuah pola yang identik dengan kehancuran Honda di masa lalu.
Ancaman Masa Depan: Eksodus Pembalap Muda dan Bayang-Bayang Kegagalan Honda
Keputusan ekstrem Ducati untuk lebih memilih Marc Marquez ketimbang mempertahankan talenta muda berbakat kini mulai memakan korban. Nama-nama besar seperti Jorge Martin, Marco Bezzecchi, hingga Enea Bastianini terpaksa hengkang dari ekosistem Ducati demi memberi ruang bagi sang "Alien". Padahal, selama bertahun-tahun, kekuatan utama Ducati terletak pada sistem pengembangan jangka panjang dengan pembalap muda yang mampu membuat motor Desmosedici cepat di tangan siapa pun.
Kini, banyak pihak khawatir Ducati sedang berjalan menuju jurang yang sama dengan Honda era 2020. Saat Honda terlalu bergantung pada Marquez dan sang pembalap mengalami cedera panjang, seluruh kebobrokan motor RC213V langsung terungkap ke permukaan karena tidak ada pembalap lain yang bisa mengendarainya. Jika motor GP26 terbukti memiliki masalah fundamental dan Marquez terus mengalami kendala fisik, Ducati terancam kehilangan segalanya. Sejarah mungkin akan mencatat tahun 2025 bukan sebagai puncak kejayaan, melainkan awal dari runtuhnya struktur tim yang kehilangan keseimbangan demi satu taruhan besar pada seorang superstar.
Sebagai penutup, tantangan Ducati saat ini bukan lagi soal kecepatan murni di lintasan, melainkan bagaimana mengembalikan identitas tim yang kolektif. Tanpa adanya evaluasi total terhadap arah pengembangan motor, jargon "Ducati-sentris" bisa berubah menjadi kutukan yang mengakhiri era emas mereka di MotoGP.
Editor : Vicky Permana Saputra