JAKARTA - Konvoi juara Persib Bandung usai menjuarai Liga 1 menjadi sorotan besar, bukan hanya di Indonesia tetapi juga internasional. Namun di balik kemeriahan pesta juara tersebut, muncul berbagai insiden yang memicu kritik tajam, mulai dari pemain yang kesulitan bernapas di tengah kerumunan hingga dugaan pencurian barang milik pemain dan official.
Euforia juara Persib Bandung memang masih terasa kuat setelah rangkaian perayaan dilakukan sejak Sabtu lalu. Ribuan hingga jutaan Bobotoh memadati sejumlah titik di Kota Bandung untuk menyambut para pemain yang melakukan konvoi dari Gedung Sate menuju kawasan Asia Afrika.
Keyword “konvoi Persib Bandung” langsung ramai dibahas di media sosial karena menghadirkan dua sisi berbeda. Di satu sisi penuh kemeriahan dan perhatian dunia internasional, namun di sisi lain diwarnai kekacauan crowd control yang dianggap gagal mengantisipasi ledakan massa.
Pemain Persib Jadi Pusat Perhatian, Kurzawa dan Thom Haye Paling Disorot
Konvoi Persib Bandung kali ini menghadirkan banyak momen menarik yang viral di media sosial. Dua nama yang paling mencuri perhatian adalah Thom Haye dan Layvin Kurzawa.
Keduanya tampil sangat aktif selama parade juara berlangsung. Kurzawa bahkan disebut sebagai pemain yang paling menikmati pesta bersama Bobotoh. Mantan pemain Paris Saint-Germain itu terlihat terus berjoget, menyapa suporter, hingga membakar suasana sepanjang perjalanan konvoi.
“Kalau enggak ada Kurzawa mungkin konvoi Persib sekarang enggak akan seseru ini,” ungkap narator dalam video yang membahas suasana parade juara Persib.
Tak hanya itu, perayaan juara Persib juga mendapat sorotan internasional. Gelandang keturunan Indonesia milik Manchester City, Tijjani Reijnders, disebut ikut memberikan perhatian terhadap keberhasilan Persib menjadi juara.
Sorotan internasional juga datang dari media Belanda yang membahas kemeriahan Bobotoh. Bahkan unggahan Layvin Kurzawa disebut mendapat perhatian dari sejumlah bintang sepak bola dunia, termasuk Neymar yang dikabarkan menyukai unggahan terkait Persib Bandung.
Momentum ini dinilai memberi dampak besar terhadap exposure Persib Bandung di mata dunia. Klub berjuluk Maung Bandung itu dianggap semakin dikenal sebagai salah satu klub dengan basis suporter terbesar di Asia Tenggara.
Kekacauan Konvoi Persib Bandung Jadi Sorotan Utama
Di balik kemeriahan tersebut, pelaksanaan konvoi Persib Bandung justru menuai banyak kritik karena dianggap gagal dari sisi keamanan dan pengendalian massa.
Rute konvoi yang melintasi kawasan padat seperti Jalan Asia Afrika membuat kendaraan rombongan pemain nyaris tidak bisa bergerak. Situasi semakin sulit ketika ribuan Bobotoh memenuhi jalan hingga para pemain harus berjalan kaki menembus kerumunan.
Akibat kondisi tersebut, muncul sejumlah insiden yang disayangkan. Kacamata pemain disebut sempat hilang, topi pelatih diambil massa, hingga telepon genggam milik pemain Fran Pútrós dilaporkan raib.
Tak hanya pemain, sejumlah Bobotoh juga dikabarkan pingsan akibat berdesakan di tengah cuaca panas dan padatnya kerumunan. Situasi ini memicu kritik terhadap sistem pengamanan yang diterapkan panitia.
Konsep pengangkatan trofi di Jembatan Penyeberangan Orang Asia Afrika awalnya dianggap menarik karena menghadirkan ikon Kota Bandung sebagai latar pesta juara. Namun eksekusinya dinilai tidak berjalan maksimal karena area yang terlalu sempit untuk menampung pemain dan antusiasme massa.
“Pengamanan di area Gedung Merdeka sangat buruk. Mobil konvoi enggak bisa lewat sampai pemain harus ambil risiko jalan kaki,” demikian kritik yang muncul dalam pembahasan video tersebut.
Evaluasi Crowd Control Dinilai Jadi PR Besar Persib dan Bobotoh
Banyak pihak menilai persoalan utama dalam konvoi Persib Bandung kali ini adalah lemahnya crowd control management atau pengendalian massa.
Panitia sebenarnya dianggap sudah memiliki pengalaman dari konvoi juara pada musim-musim sebelumnya. Namun evaluasi dinilai belum dilakukan secara maksimal, terutama terkait pemilihan rute, kapasitas area, hingga sistem keamanan.
Rute di tengah kota dengan jalan sempit disebut tidak ideal untuk menampung jutaan massa. Selain itu, kendaraan yang digunakan pemain juga dianggap kurang aman dalam situasi kerumunan ekstrem.
Di sisi lain, sebagian perilaku Bobotoh juga ikut disorot. Ada kritik terhadap oknum suporter yang terlalu memaksa mendekati pemain tanpa memperhatikan keselamatan bersama.
Pengamat menilai loyalitas berlebihan tanpa kontrol justru bisa berdampak buruk bagi citra klub. Bahkan ada kekhawatiran pengalaman tidak nyaman tersebut dapat meninggalkan trauma bagi pemain asing Persib.
Meski demikian, banyak pihak berharap kejadian dalam konvoi Persib Bandung ini menjadi bahan evaluasi bersama. Manajemen klub, panitia pelaksana, aparat keamanan, dan Bobotoh dinilai harus duduk bersama untuk memperbaiki sistem perayaan apabila Persib kembali meraih gelar di masa mendatang.
Perayaan juara memang menjadi momen bersejarah, tetapi keamanan pemain dan suporter tetap harus menjadi prioritas utama agar euforia tidak berubah menjadi kekacauan.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari