GUNUNG KIDUL - Di tengah ambisinya menaklukkan sirkuit balap internasional, Veda Ega Pratama tetap menjadi sosok yang membumi. Remaja yang digadang-gadang sebagai masa depan balap motor Indonesia ini tak membiarkan hingar-bingar dunia balap mengubah kepribadiannya. Di kediamannya yang asri di Gunung Kidul, Yogyakarta, Veda Ega Pratama tampak begitu menikmati kesederhanaan hidup, jauh dari gemerlap kemewahan yang biasanya melekat pada atlet kelas dunia.
Kunjungan ke rumah Veda Ega Pratama seolah menjadi pengingat bahwa di balik kecepatan tinggi yang ia torehkan di atas lintasan, terdapat disiplin dan dukungan keluarga yang kuat. Di tengah bulan Ramadan, pembalap muda ini berbagi cerita mengenai rutinitas hariannya, mulai dari mencari takjil di pasar tradisional hingga menu berbuka puasa favoritnya yang jauh dari kesan eksklusif. Baginya, kenyamanan di kampung halaman adalah kunci utama untuk menjaga mentalitas tetap fokus sebelum kembali bertempur di lintasan balap mancanegara.
Sebagai salah satu aset berharga bangsa, Veda Ega Pratama kini tengah bersiap menghadapi tantangan besar dalam karier profesionalnya. Tahun ini, jadwal padat sudah menantinya. Ia harus melakukan perjalanan lintas benua, mulai dari Spanyol, Brazil, Amerika Serikat, hingga Qatar. Semua persiapan ini ia lakukan dengan komitmen penuh, didukung oleh program latihan fisik yang ketat yang tetap ia jalani meskipun sedang berpuasa.
Baca Juga: Pemuda Blitar Meninggal Dunia Terkena Ledakan Mercon saat Terbangkan Balon, Begini Kronolognya
Rahasia Stamina dan Program Latihan
Banyak yang bertanya-tanya, apa rahasia di balik stamina prima pembalap ini? Ternyata, Veda memanfaatkan kontur geografis Gunung Kidul sebagai arena latihan fisik alaminya. Ia sering melakukan kegiatan bersepeda dan lari di area perbukitan dan jalur pantai. Menurutnya, medan yang menantang di kampung halamannya justru menjadi keuntungan tersendiri.
"Fisik itu perlu, dan di sini medannya sangat mendukung untuk latihan sepeda dan lari di jalur menanjak," ujarnya. Baginya, latihan fisik bukan hanya soal kekuatan otot, melainkan juga tentang daya tahan mental. Pola latihan yang konsisten ini terbukti membantunya beradaptasi dengan cepat ketika harus berlatih di luar negeri. Di Spanyol, misalnya, Veda tidak perlu penyesuaian yang lama karena karakter medan latihan di sana relatif serupa dengan apa yang ia lakukan di rumah.
Mentalitas Juara di Lintasan Internasional
Menjadi pembalap di kancah internasional tentu bukan hal mudah. Tekanan untuk mencetak poin, menghindari penalti, hingga menjaga fokus di setiap seri balapan adalah santapan sehari-hari. Veda mengaku bahwa mentalitasnya kini jauh lebih matang. Ia lebih memprioritaskan konsistensi dan mencapai garis finis dengan poin maksimal daripada hanya sekadar memikirkan urutan posisi.
"Yang terpenting adalah melihat bendera finis dan mendapatkan poin sebanyak-banyaknya," tegasnya. Pengalaman berharga di musim lalu menjadi pelajaran penting untuk tidak gegabah. Peringatan warning atau penalti long lap yang pernah ia terima menjadi pengingat keras untuk tetap disiplin mengikuti regulasi balap.
Koleksi Helm dan Makna di Balik Nama Salipan
Selain prestasi, sisi personal Veda juga menarik untuk disimak. Di rumahnya, terdapat koleksi helm balap yang tersusun rapi sebuah saksi bisu perjalanan kariernya. Salah satu yang paling ikonik adalah helm dengan desain "Salipan" dan motif belalang. Nama "Salipan" sendiri ternyata memiliki makna mendalam bagi keluarganya, sebuah warisan nama yang diberikan oleh kakek buyutnya, yang kini ia abadikan sebagai identitas diri.
Meskipun sudah berstatus pembalap internasional, Veda mengaku tidak pernah menjual barang-barang bersejarah tersebut. Setiap helm dan wearpack memiliki nilai sentimental yang tak ternilai. Dengan kerendahan hati dan dukungan penuh dari keluarga serta orang-orang di sekitarnya, Veda Ega Pratama kini mantap melangkah. Ia bukan hanya sekadar pembalap, melainkan simbol harapan bagi masa depan dunia balap motor Indonesia yang sedang berjuang keras untuk mengibarkan bendera Merah Putih di podium tertinggi dunia.
Editor : Vicky Permana Saputra