GUNUNGKIDUL – Menelusuri jalanan Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa di balik ketenangan alam dan udara segarnya, terdapat kawah candradimuka bagi salah satu talenta balap motor paling potensial milik Indonesia, Veda Ega Pratama. Jauh dari hingar-bingar sirkuit internasional yang megah, Veda tumbuh dan ditempa di lingkungan yang sangat sederhana. Rumahnya menjadi saksi bisu bagaimana sang pembalap muda membangun mentalitas juara dengan bimbingan langsung dari ayahnya, Sudarmono, seorang mantan pembalap yang kini mendedikasikan hidupnya untuk mendidik putranya.
Kunjungan ke kediaman Veda Ega Pratama memberikan perspektif berbeda mengenai dunia balap motor profesional. Di sini, tidak ada kemewahan berlebihan. Yang ada hanyalah kedisiplinan dan fokus yang luar biasa. Sang ayah, Sudarmono, menegaskan bahwa kesuksesan seorang pembalap tidak dibangun dalam semalam. Baginya, karier balap adalah sebuah proses bertahap, sebuah anak tangga yang harus didaki satu per satu, tanpa perlu terburu-buru mengejar target yang tidak realistis sebelum fondasinya kuat.
Dalam pandangan Sudarmono, peran keluarga dan lingkungan sangat krusial dalam membentuk Veda Ega Pratama. Memilih tinggal di Gunungkidul bukanlah keputusan tanpa alasan. Bagi mereka, kondisi geografis daerah ini sangat mendukung kebutuhan fisik seorang atlet. Udara yang bersih, ketenangan untuk berkonsentrasi, serta akses ke alam menjadi modal utama untuk melatih fisik dan mental. Di sinilah, jauh dari kebisingan kota besar, Veda belajar untuk menyatu dengan motornya, membangun feeling yang tajam, dan memahami bahwa balapan bukan sekadar soal kecepatan, melainkan tentang kecerdasan strategi.
Baca Juga: Pemkot Blitar Terjunkan 60 Petugas Pemeriksa Hewan Kurban, Sisir 346 Titik Penyembelihan
Mentalitas Juara yang Tidak Jumawa
Salah satu pelajaran terpenting yang ditekankan Sudarmono kepada Veda adalah soal kerendahan hati. Dunia balap motor adalah tempat di mana ego sering kali menjadi musuh terbesar. Sudarmono selalu berpesan agar Veda tidak cepat berpuas diri, apalagi sampai jumawa. Baginya, setiap raihan podium atau pujian dari publik hanyalah bagian dari proses belajar. Ia khawatir jika Veda terlalu cepat merasa hebat, fokus dan keinginan untuk terus belajar akan hilang.
"Dunia balap itu jalannya masih panjang sekali. Banyak kompetensi yang harus dipelajari. Tidak boleh cepat merasa puas," ujar Sudarmono dalam sebuah kesempatan. Filosofi inilah yang membuat Veda tetap membumi. Meskipun namanya mulai sering diperbincangkan di level nasional hingga internasional, sikapnya tetap tenang. Ia sadar betul bahwa tantangan sesungguhnya bukanlah tentang seberapa cepat ia bisa melaju, tetapi seberapa konsisten ia bisa menjaga performa dan terus belajar dari setiap kesalahan di lintasan.
Mengatasi Tantangan di Lintasan Balap
Di balik kesuksesan yang terlihat, perjalanan Veda tentu tidak mulus. Transkrip dari perbincangan keluarga tersebut mengungkap sisi manusiawi seorang pembalap muda. Ada saat-saat di mana Veda harus merasakan pahitnya terjatuh, kesalahan teknis, hingga ambisi yang terlalu besar saat mencoba menyalip lawan tanpa perhitungan yang matang. Namun, justru dari sanalah ia belajar. Sudarmono tidak melihat kesalahan tersebut sebagai kegagalan, melainkan sebagai bahan evaluasi untuk menyiapkan diri lebih baik lagi di seri balapan berikutnya.
Dalam dunia balap profesional, faktor fisik dan mental adalah dua hal yang tak terpisahkan. Veda melatih keduanya dengan konsisten, baik melalui latihan fisik langsung maupun dengan menganalisis data balapan. Ia memahami bahwa lawan-lawannya bukan hanya berasal dari Indonesia, melainkan dari berbagai negara dengan tradisi balap yang sudah sangat matang. Untuk bisa bersaing dengan mereka, Veda tidak bisa hanya mengandalkan bakat alami; ia harus memiliki strategi, kedisiplinan, dan ketenangan yang di atas rata-rata.
Harapan besar kini disematkan di pundak pemuda asal Gunungkidul ini. Dengan dukungan keluarga yang solid, pola latihan yang terukur, dan mentalitas yang terus ditempa, Veda Ega Pratama bukan hanya sekadar membawa nama pribadi atau keluarga, melainkan membawa harapan bangsa untuk bisa menorehkan prestasi gemilang di kancah balap motor dunia. Perjalanannya masih panjang, namun dengan fondasi yang kuat yang ia bangun di rumahnya sendiri, masa depan tampak begitu cerah bagi sang pembalap muda ini.
Editor : Vicky Permana Saputra