BLITAR KAWENTAR - Dunia seni telah menjadi bagian dari kehidupan Kirana Deva Wijaya sejak masih balita. Berawal dari langkah kecil di panggung tari, remaja 17 tahun itu kini menjelma menjadi sosok multitalenta yang siap membawa nama Jawa Timur di panggung nasional sebagai finalis Putri Batik Remaja Indonesia 2026.
Bagi Kirana, sapaan akrabnya, panggung bukanlah tempat yang asing. Darah seni mengalir dari keluarganya yang merupakan keluarga seniman.
Sejak berusia empat tahun, dia telah diperkenalkan dengan dunia tari dan mulai mengekspresikan diri melalui setiap gerakan yang ditampilkan di atas panggung.
Namun, perjalanannya di dunia pageant tidak datang begitu saja. Saat duduk di bangku kelas VI sekolah dasar, Kirana mulai tertarik pada dunia modeling setelah melihat berbagai konten di media sosial.
Rasa penasaran membuatnya ingin mencoba. Meski awalnya merasa takut dan kurang percaya diri karena masih kecil, dukungan penuh dari orang tua menjadi dorongan terbesar untuk berani mengambil langkah pertama.
“Awalnya saya memang ingin mencoba keluar dari zona nyaman. Saat itu masih takut dan belum percaya diri, tetapi orang tua mendukung sehingga saya berani mengikuti dunia modeling,” ujar Kirana.
Dari langkah kecil tersebut, jalan panjang Kirana di dunia pageant mulai terbuka. Tahun 2020 menjadi awal prestasinya ketika mengikuti ajang Putri Anak Jawa Timur dan berhasil menyandang gelar Putri Berbakat Jawa Timur.
Kemampuan dan kepercayaan dirinya terus berkembang. Saat mengenyam pendidikan SMA, ia kembali mengikuti ajang duta sekolah dan berhasil meraih Juara II, dan menyandang sebagai Putri Adiwiyata.
\Puncaknya, Kirana kembali menorehkan prestasi melalui ajang Putri Remaja. Ia berhasil masuk enam besar dan mendapatkan amanah sebagai Putri Batik Remaja Jawa Timur yang akan mewakili provinsi tersebut dalam ajang tingkat nasional pada Oktober mendatang.
“Benar-benar tidak menyangka bisa sampai ke tingkat nasional. Rasanya seperti mimpi dan saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan ini,” katanya.
Meski demikian, perjalanan menuju panggung nasional bukan tanpa tantangan. Kirana harus menjalani berbagai persiapan mulai dari memperdalam advokasi budaya batik, meningkatkan kemampuan public speaking, memperkuat catwalk, hingga menjaga kesiapan mental dan fisik.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam mengikuti ajang pageant justru terletak pada manajemen waktu dan menjaga kondisi tubuh selama masa karantina serta pembekalan.
“Jadwalnya sangat padat. Dari pagi harus bersiap dengan make-up, mengikuti seluruh kegiatan sampai malam, lalu masih harus belajar untuk agenda hari berikutnya. Jadi yang paling menantang adalah mengatur waktu dan menjaga fisik,” ungkap siswi kelas XI SMA tersebut.
Meski memiliki kesibukan yang padat, Kirana memastikan pendidikan tetap menjadi prioritas. Dia berusaha membagi waktu antara sekolah dan aktivitas pageant dengan disiplin.
“Kalau waktunya sekolah, ya fokus sekolah. Kalau waktunya latihan atau persiapan pageant, saya jalani dengan maksimal,” tuturnya.
Menariknya, kemampuan Kirana tidak hanya terbatas pada dunia modeling dan catwalk. Saat unjuk bakat di ajang Putri Remaja, dia memanfaatkan waktu tujuh menit dengan menampilkan tiga kemampuan sekaligus, yakni menari, bernyanyi, dan bermain biola.
Bakat menari telah melekat sejak kecil. Kemampuan bernyanyi dia pelajari secara otodidak setelah sering mengikuti sang kakek yang aktif dalam seni tradisional hingga akhirnya belajar menyinden. Sementara kemampuan bermain biola baru dia tekuni dalam beberapa waktu terakhir.
Baginya, pageant bukan sekadar ajang mencari gelar atau prestasi. Lebih dari itu, dunia tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk membangun karakter, keberanian berbicara, dan menjadi sosok yang mampu menginspirasi generasi muda.
“Semoga perjalanan yang saya jalani ini bisa menjadi batu loncatan untuk masa depan. Saya percaya pageant bukan hanya soal kecantikan, tetapi juga wadah untuk melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang inspiratif,” pungkasnya. (jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah