BLITAR KAWENTAR - Liga Super Indonesia musim 2026/2027 tidak hanya menghadirkan persaingan sengit di atas lapangan, tetapi juga memperlihatkan kekuatan finansial luar biasa dari para pemilik klub. Di balik ambisi membangun tim juara, terdapat deretan konglomerat, pengusaha besar, hingga tokoh publik dengan aset mencapai triliunan rupiah.
Kehadiran para pemilik bermodal kuat ini menjadi salah satu faktor penting yang membuat kompetisi sepak bola Indonesia semakin kompetitif. Mereka tidak hanya berinvestasi pada pemain dan pelatih, tetapi juga membangun infrastruktur, akademi, hingga sistem manajemen klub yang lebih profesional.
Deretan Konglomerat di Balik Klub Liga Super
Salah satu nama paling menonjol adalah Glenn Sugita, pemilik Persib Bandung melalui PT Persib Bandung Bermartabat (PBB). Sebagai salah satu pendiri Northstar Group, Glenn disebut memiliki kekayaan sekitar Rp27 triliun. Di bawah kepemimpinannya, Persib menjadi salah satu klub dengan kondisi finansial paling sehat di Asia Tenggara.
Di ibu kota, Persija Jakarta berada di bawah kendali Nirwan Bakrie. Adik kandung Aburizal Bakrie tersebut memiliki jaringan bisnis luas melalui Bakrie Group yang bergerak di sektor pertambangan, media, perkebunan, infrastruktur, hingga telekomunikasi.
Sementara itu, Borneo FC Samarinda didukung oleh Said Amin yang dikenal sebagai pengusaha batu bara asal Kalimantan Timur. Kekuatan finansial dari sektor pertambangan membuat klub berjuluk Pesut Etam mampu bersaing di papan atas dalam beberapa musim terakhir.
Prabowo Subianto dan Garuda Yaksa FC
Nama yang paling menyita perhatian adalah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Klub miliknya, Garuda Yaksa FC, dipastikan tampil di kasta tertinggi setelah sukses promosi dari Liga Championship musim 2025/2026.
Berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN), kekayaan Prabowo mencapai sekitar Rp2,06 triliun. Garuda Yaksa FC merupakan hasil transformasi dari Akademi Sepak Bola Garuda Yaksa Indonesia yang mengakuisisi PSKC Cimahi pada 2025.
Dengan dukungan finansial yang kuat, klub yang bermarkas di Stadion Pakansari, Bogor tersebut diprediksi menjadi salah satu kekuatan baru di Liga Super musim depan.
Klub-Klub Lain Juga Didukung Pengusaha Besar
Dewa United FC berada di bawah dukungan Tommy Hermawan Lo dari JHL Group yang bergerak di bidang properti, perhotelan, dan otomotif. Klub ini dikenal memiliki fasilitas latihan modern dan salah satu kompleks olahraga terbaik di Indonesia.
Bali United masih menjadi salah satu klub paling stabil berkat dukungan Peter Tanuri, pengusaha yang memiliki bisnis di sektor keuangan dan otomotif. Ia juga merupakan pemegang saham mayoritas PT Bali Bintang Sejahtera Tbk.
Malut United dimiliki oleh David Glenn Oei, pengusaha tambang asal Ambon yang juga merupakan pendiri klub tersebut. Kehadirannya membawa Malut United berkembang pesat dalam beberapa musim terakhir.
Di Yogyakarta, PSIM dipimpin oleh Yuliana Tasno yang menjadi perempuan pertama menjabat sebagai direktur utama klub. Pengalamannya di bidang pemasaran olahraga dan sepak bola nasional membuat PSIM tampil lebih profesional.
Persita Tangerang masih berada di bawah kendali Ahmad Zaki Iskandar, sementara Persijap Jepara dipimpin oleh Muhammad Iqbal Hidayat yang memiliki latar belakang hukum korporasi dan manajemen bisnis.
Persebaya hingga Arema FC
Persebaya Surabaya dipimpin oleh Asrul Ananda, putra mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Di bawah kepemimpinannya sejak 2017, Persebaya berhasil menjaga stabilitas manajemen dan terus bersaing di papan atas.
Persik Kediri mendapat dukungan dari Arthur Irawan yang dikenal sebagai mantan pemain sepak bola sekaligus investor. Latar belakang keluarganya yang merupakan pengusaha besar membuat Arthur sering disebut sebagai salah satu figur muda paling berpengaruh di sepak bola nasional.
Sementara itu, Arema FC masih identik dengan sosok Iwan Budianto. Pengusaha yang memulai karier sebagai kontraktor tersebut menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan sepak bola Indonesia selama dua dekade terakhir.
Dengan dukungan para konglomerat dan pengusaha besar tersebut, Liga Super Indonesia 2026/2027 diprediksi akan menjadi salah satu musim paling kompetitif dalam sejarah. Kekuatan finansial yang dimiliki para pemilik klub diyakini akan berdampak langsung pada kualitas pemain, fasilitas, hingga daya saing kompetisi secara keseluruhan.
Editor : Gita Dwi Nuraini