Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Persija Jakarta Ternyata Lahir dari Semangat Perlawanan, Ini Sejarah Persija yang Jarang Diketahui dan Asal-usul Warna Merah Macan Kemayoran

Gita Dwi Nuraini • Selasa, 23 Juni 2026 | 19:30 WIB
Sejarah Persija Jakarta ternyata berawal dari perjuangan Bumiputera melawan Belanda. Simak asal-usul warna merah dan era emasnya.(Gemini AI)
Sejarah Persija Jakarta ternyata berawal dari perjuangan Bumiputera melawan Belanda. Simak asal-usul warna merah dan era emasnya.(Gemini AI)

 

BLITAR KAWENTAR – Sejarah Persija Jakarta ternyata menyimpan kisah panjang yang tidak banyak diketahui publik. Klub yang kini dikenal sebagai Macan Kemayoran itu bukan sekadar tim sepak bola, melainkan lahir dari semangat perjuangan kaum Bumiputera melawan diskriminasi pada masa kolonial Belanda.

Hal tersebut diungkapkan penulis dan pegiat sejarah Persija, Gerry Anugrah Putra, yang selama bertahun-tahun menelusuri arsip koran lama dan dokumen sejarah di Perpustakaan Nasional untuk mengungkap asal-usul klub ibu kota tersebut.

Menurut Gerry, sejarah Persija bermula pada November 1928. Saat itu sejumlah klub sepak bola Bumiputera di Batavia berinisiatif menggalang dana untuk membantu korban kebakaran di kawasan Gang Bunder, Pasar Baru.

Namun, upaya menggelar pertandingan amal terkendala karena mereka tidak mendapatkan izin menggunakan lapangan yang dikelola organisasi sepak bola Belanda. Situasi itu kemudian mendorong lahirnya organisasi sepak bola khusus Bumiputera.

"Karena tidak diberi ruang untuk bermain, akhirnya muncul gagasan membentuk organisasi sendiri yang kemudian menjadi cikal bakal Persija," ujar Gerry.

Baca Juga: Bursa Transfer Persija Jakarta 2026/2027 Memanas! Son Heung-min hingga Ciro Alves Dirumorkan Gabung, Macan Kemayoran Siapkan Skuad Mewah

Awal Berdirinya Persija Jakarta

Awalnya organisasi tersebut bernama Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ) yang merupakan kelanjutan dari perkumpulan sepak bola Bumiputera. Nama itu kemudian berkembang hingga akhirnya berubah menjadi Persija Jakarta.

Dari hasil penelusuran arsip surat kabar Pemandangan tahun 1938, Gerry menemukan bahwa tokoh yang berperan penting dalam pendirian organisasi tersebut adalah Suri dan Ali, yang berasal dari klub sepak bola lokal di Batavia.

Keberadaan VIJ saat itu juga mendapat dukungan sejumlah tokoh nasional seperti Muhammad Husni Thamrin, Iskandar Brata, hingga Dokter Moewardi.

Mereka menjadikan sepak bola sebagai salah satu media perjuangan dan sarana membangkitkan semangat kebangsaan di tengah tekanan pemerintah kolonial Belanda.

"Sepak bola saat itu bukan sekadar olahraga. Ada semangat perlawanan dan kebangsaan yang sangat kuat," jelas Gerry.

Baca Juga: Bursa Transfer Persija Jakarta 2026/2027 Makin Panas, Mariano Peralta Diklaim Sepakat Gabung, Nama Bintang Korea Selatan Ikut Mencuat

Mengapa Persija Identik dengan Warna Merah?

Salah satu fakta menarik dalam sejarah Persija Jakarta adalah penggunaan warna merah yang sudah menjadi identitas klub sejak pertama kali berdiri.

Berdasarkan arsip surat kabar yang ditemukan Gerry, VIJ kala itu dijuluki "Si Merah Putih". Seragam mereka terdiri dari kaus merah, celana putih, dan kaus kaki merah.

Warna merah dipilih sebagai simbol kekuatan dan keberanian, sedangkan putih melambangkan kesucian dan kelembutan.

Identitas tersebut bertahan hingga sekarang meski pada era modern Persija juga identik dengan warna oranye yang mulai populer pada masa kepemimpinan Sutiyoso.

"Merah adalah identitas asli Persija sejak lahir. Itu bagian dari simbol perlawanan kaum Bumiputera," katanya.

Era Emas Persija pada Tahun 1970-an

Dalam perjalanan panjangnya, Persija mengalami berbagai fase. Gerry menyebut dekade 1970-an sebagai era emas Macan Kemayoran.

Pada periode tersebut Persija berhasil meraih gelar juara kompetisi Perserikatan pada 1973, 1975, dan 1979. Skuad Persija saat itu diperkuat banyak pemain Timnas Indonesia seperti Iswadi Idris, Sofyan Hadi, hingga Anjas Asmara.

Selain sukses di kompetisi domestik, Persija juga menorehkan prestasi di turnamen internasional dan ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).

"Era 1970-an adalah masa ketika Persija menjadi salah satu kekuatan terbesar sepak bola Indonesia," ujarnya.

Baca Juga: Daftar Pemain Asing Persija Jakarta 2026/2027 Bikin Heboh, Mariano Peralta Sudah Resmi, Sam Steijn hingga Tom Aldred Masuk Radar

Masa Sulit dan Kebangkitan Macan Kemayoran

Setelah menikmati masa kejayaan, Persija memasuki periode sulit pada era 1980-an. Munculnya kompetisi Galatama membuat banyak pemain bintang hijrah ke klub lain yang menawarkan penghasilan lebih besar.

Kondisi tersebut membuat Persija sempat terpuruk dan bahkan nyaris terdegradasi pada pertengahan dekade 1980-an.

Kebangkitan mulai terlihat ketika Todung Barita Lumban Raja dipercaya memimpin klub. Di bawah kepemimpinannya, Persija kembali kompetitif dan berhasil mencapai final kompetisi Perserikatan 1988 meski gagal meraih gelar juara.

Memasuki era 1990-an, Persija kembali menghadapi tantangan akibat regenerasi pemain yang kurang berjalan baik. Namun klub kembali bangkit setelah mendapat dukungan kuat dari Sutiyoso yang memiliki ambisi mengembalikan Persija sebagai klub elite nasional.

Hingga kini, Persija tetap menjadi salah satu klub terbesar di Indonesia dengan sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perjuangan bangsa dan perkembangan sepak bola nasional.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#macan kemayoran #perserikatan #Sejarah Persija #persija jakarta #sepak bola indonesia