BLITAR KAWENTAR - Menjadi bidan kelurahan hingga membawa kader kesehatan berprestasi ke tingkat provinsi adalah hal yang tak terduga bagi kehidupan Ika Septiana Saputri. Sebab, dia sempat memiliki cita-cita sebagai penari tradisional. Namun, takdir membawanya untuk mengawal Kesehatan warga Kelurahan Jingglong, Kecamatan Sutojayan.
Meskipun begitu, jika ditarik mundur, sejak kecil Ika, sapaan akrabnya, sudah akrabn dengan dunia tari. Dia merasa menemukan bakatnya pada tari tradisional saat duduk di bangku sekolah dasar sehingga mengasah keterampilannya dan sering diminta tampil hingga beranjak SMP dan SMA.
”Saya saat SMA sering mengikuti kompetisi tari, hingga mendapatkan juara beberapa kali. Hal itu yang membuat saya sempat berpikir untuk melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI). Ternyata angin membawa pada dunia kesehatan,” ujar Ika, Minggu (5/7/2026).
Baca Juga: Jelang Masuk Sekolah Tahun Ajaran Baru, Transaksi Gadai di Blitar Naik 18 Persen
Ika akhirnya menjadi mahasiswa kebidanan Politeknik Kesehatan Malang (Polkesma). Takdir yang dia jalani juga berkah dukungan dari ayahnya yang merupakan pensiunan perawat. Hal itu yang diteguhkan dan menguatkannya untuk meneruskan perjuangan orang tuanya melayani kesehatan masyarakat.
Namun, saat menjadi mahasiswa, Ika masih menyempatkan untuk bisa aktif menari. Bahkan meraih juara kompetisi menari nasional antar-politeknik kesehatan di Indonesia. Selain itu, dia mengikuti acara-acara kesenian yang ada di Malang.
“Setelah lulus menjadi mahasiswa kebidanan, saya vakum menari dan memilih bekerja sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas Gandusari. Tidak lama kemudian terpilih menjadi aparatur sipil negara (ASN) dan ditempatkan menjadi bidan di Kelurahan Jingglong, Puskesmas Sutojayan,” ungkap perempuan 29 tahun ini.
Dahulu cita-citanya sangat lekat dengan dunia estetika, maka itu dia ingin menjadi seorang penari atau pekerja seni. Namun kini, jalan hidup membawanya mengenakan seragam putih, mendedikasikan seluruh waktunya sebagai garda terdepan kesehatan masyarakat.
Fase awal adaptasi di wilayah baru ternyata menjadi cobaan yang bertubi-tubi bagi batinnya. Cobaan itu kian berat ketika dirinya dinyatakan hamil hingga melahirkan. Perubahan status menjadi seorang ibu baru sekaligus bidan wilayah yang memikul tanggung jawab besar sempat membuatnya terperosok dalam fase baby blues.
Bagaimana tidak, ritme hidup warga Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro, ini seketika berubah total. Ponselnya dituntut harus terus menyala (on call) selama 24 jam penuh karena sewaktu-waktu relawan dan warga bisa menelepon.
Puncaknya, baru saja dia menyelesaikan masa cuti melahirkan dan dia langsung dihadapkan pada kenyataan pahit adanya audit kematian yang menambah pengalamannya.
Baca Juga: Setelah 10 Tahun Dikelola Swasta, PSBI Blitar Akhirnya Kembali Berlabuh di Pangkuan Pemkab Blitar
”Jujur, saya sama sekali tidak berekspektasi harus menjadi bidan wilayah. Pada usia saya yang masih muda, tapi dituntut harus langsung dewasa demi menyongsong para kader. Apalagi wilayah tempat dinas saat ini bukan tempat kelahiran saya," kenangnya.
Ujian kedua datang saat pemerintah mulai menggulirkan sistem Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) di posyandu. Sebagai orang baru di kelurahan tersebut, dia harus memutar otak agar program baru ini bisa diterima.
Dengan pendekatan persuasif yang ulet, dia mencoba merangkul tokoh-tokoh kelurahan. Hasilnya luar biasa. Di saat wilayah lain masih kesulitan merintis sistem baru tersebut, 6 pos posyandu yang berada di bawah naungannya sukses bertransformasi menjadi Posyandu ILP.
Baca Juga: Jelang Masuk Sekolah Tahun Ajaran Baru, Transaksi Gadai di Blitar Naik 18 Persen
"Sempat ada yang menakut-nakuti, bilang tidak usah menang, nanti repot kalau harus maju ke tingkat provinsi. Tapi prinsip saya, kalau kita sudah memutuskan maju, harus maksimal 100 persen. Menang atau kalah urusan belakang," pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah