JAKARTA – Legenda Lembu Suro menjadi salah satu cerita rakyat paling terkenal dari Jawa Timur yang mengisahkan sayembara Putri Majapahit, Diyah Ayu Pusparini. Kisah ini berakhir tragis setelah Lembu Suro berhasil memenangkan sayembara, tetapi justru dikhianati hingga mengucapkan kutukan yang dipercaya berkaitan dengan Gunung Kelud.
Cerita tersebut diawali ketika Prabu Brawijaya merasa khawatir karena putrinya belum juga bersedia menikah meski telah banyak bangsawan yang melamar. Sang raja kemudian membuat sebuah sayembara untuk menentukan calon suami yang dianggap paling layak.
Baca Juga: Hari Jumat Baik untuk Potong Rambut dan Kuku? Ini Penjelasan Tradisi yang Banyak Dipercaya
Prabu Brawijaya menetapkan syarat yang sangat sulit bagi para peserta. Siapa pun yang mampu membentangkan busur pusaka Kyai Garudayaksa dan mengangkat Gong Kyai Sekardelima berhak menikahi Putri Diyah Ayu Pusparini.
Keputusan tersebut diterima sang putri meski sebenarnya ia tidak sepenuhnya setuju. Ia berharap pemenang sayembara adalah sosok yang sesuai dengan keinginannya.
Hari perlombaan pun tiba. Para peserta dari berbagai daerah berkumpul di alun-alun kerajaan Majapahit untuk mencoba memenuhi tantangan tersebut.
Baca Juga: Hari Kamis Jadi Waktu Baik Potong Rambut dan Kuku Menurut Tradisi Islam, Ini Penjelasannya
Satu per satu peserta gagal. Bahkan beberapa di antaranya mengalami cedera akibat memaksakan diri membentangkan busur maupun mengangkat gong pusaka yang diyakini memiliki kekuatan luar biasa.
Ketika Prabu Brawijaya hampir menutup perlombaan, datanglah seorang pemuda berkepala kerbau bernama Lembu Suro yang meminta izin mengikuti sayembara.
Dengan kemampuan kanuragan yang dimilikinya, Lembu Suro berhasil membentangkan Kyai Garudayaksa. Ia kemudian juga mampu mengangkat Gong Kyai Sekardelima tanpa mengalami kesulitan berarti.
Baca Juga: Weton Selasa Wage Menurut Primbon Jawa: Watak, Rezeki, Karier, Cinta, dan Ujian Hidup pada 2026
Keberhasilan tersebut disambut sorak-sorai masyarakat. Namun berbeda dengan para penonton, Putri Diyah Ayu Pusparini justru merasa terpukul karena tidak ingin menikah dengan sosok berkepala kerbau.
Meski berat hati, Prabu Brawijaya tetap memenuhi janji sayembara demi menjaga martabat kerajaan. Lembu Suro pun ditetapkan sebagai pemenang.
Putri Diyah Ayu Pusparini terus bersedih hingga seorang pengasuh memberikan saran agar ia mengajukan syarat tambahan sebelum pernikahan berlangsung.
Syarat tersebut adalah Lembu Suro harus membuat sebuah sumur di puncak Gunung Kelud dalam waktu satu malam. Sumur itu nantinya akan digunakan sebagai tempat pemandian sang putri.
Tanpa banyak berpikir, Lembu Suro menerima permintaan tersebut. Ia segera menuju puncak Gunung Kelud bersama rombongan kerajaan.
Dengan menggunakan kedua tanduknya, Lembu Suro menggali tanah hingga sumur semakin dalam seiring berjalannya malam. Melihat pekerjaan itu hampir selesai sebelum fajar, Putri Diyah Ayu Pusparini kembali panik.
Ia meminta ayahnya menggagalkan usaha Lembu Suro agar syarat tersebut tidak berhasil dipenuhi.
Prabu Brawijaya kemudian memerintahkan para prajurit menimbun sumur menggunakan batu dan tanah, meski Lembu Suro masih berada di dalamnya.
Para prajurit tetap menjalankan perintah tersebut hingga Lembu Suro terkubur hidup-hidup.
Baca Juga: Pimpinan MPR Nyekar di MBK Jelang HUT ke-81 RI, Respons Isu Demonstrasi
Sebelum benar-benar terkubur, Lembu Suro mengucapkan sumpah yang ditujukan kepada Prabu Brawijaya dan masyarakat Kediri.
Menurut kisah dalam legenda, Lembu Suro mengutuk bahwa suatu hari Kediri akan menjadi sungai, Blitar menjadi daratan, dan Tulungagung berubah menjadi wilayah yang dipenuhi air.
Kutukan itu membuat Prabu Brawijaya berusaha menangkalnya. Dalam cerita disebutkan masyarakat kemudian membangun tanggul yang menyerupai gunung, yang dikenal sebagai Gunung Pegat.
Selain itu, sang raja juga mengadakan ritual larung sesaji di kawah Gunung Kelud sebagai upaya menolak kutukan tersebut.
Hingga kini, dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Jawa Timur, setiap letusan Gunung Kelud sering dikaitkan dengan amarah Lembu Suro sebagai bentuk balas dendam atas pengkhianatan yang dialaminya.
Legenda ini terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara sekaligus menjadi kisah yang melekat dengan sejarah dan mitos Gunung Kelud di Jawa Timur.
source: youtube@GromoreStudio
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino