JAKARTA – Legenda Gunung Kelud kembali menjadi cerita rakyat yang menarik untuk dikenang. Dongeng asal Jawa Timur ini mengisahkan Lembu Suro, seorang pemuda sakti berkepala lembu yang memenangkan sayembara Putri Dyah Ayu Pusparini. Namun, janji yang diingkari kerajaan memicu kutukan yang dipercaya masyarakat menjadi asal-usul letusan Gunung Kelud.
Cerita tersebut menjadi salah satu legenda paling populer di Jawa Timur karena mengandung pesan tentang pentingnya menepati janji serta menghormati setiap orang tanpa memandang penampilan.
Baca Juga: Hari Rabu untuk Potong Rambut dan Kuku: Benarkah Bisa Memengaruhi Sifat Menurut Tradisi?
Kerajaan yang dipimpin Raja Brawijaya digambarkan berada dalam keadaan makmur. Sang raja memiliki seorang putri bernama Dyah Ayu Pusparini yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan.
Seiring bertambahnya usia, Raja Brawijaya mulai memikirkan masa depan putrinya. Ia merasa sudah saatnya sang putri menikah agar memiliki pendamping yang kelak dapat memimpin kerajaan.
Namun, Putri Dyah Ayu Pusparini mengaku belum memiliki pria yang disukainya. Karena itu, Raja Brawijaya memutuskan mengadakan sayembara terbuka bagi seluruh pemuda, termasuk dari kerajaan tetangga.
Baca Juga: Hari Jumat Baik untuk Potong Rambut dan Kuku? Ini Penjelasan Tradisi yang Banyak Dipercaya
Peserta diwajibkan menyelesaikan dua tantangan, yakni menarik tali busur sakti dan mengangkat gong sakti. Siapa pun yang berhasil menyelesaikan kedua ujian tersebut berhak mempersunting sang putri.
Sayembara berlangsung selama berminggu-minggu. Banyak pria mencoba keberuntungan, tetapi tidak satu pun mampu mengangkat gong maupun menarik busur yang telah disiapkan.
Baca Juga: Hari Kamis Jadi Waktu Baik Potong Rambut dan Kuku Menurut Tradisi Islam, Ini Penjelasannya
Di tengah kebuntuan sayembara, muncul seorang pemuda bernama Lembu Suro yang memiliki kepala menyerupai sapi.
Meski penampilannya berbeda, Lembu Suro mampu menarik tali busur dengan mudah. Ia juga berhasil mengangkat gong sakti tanpa kesulitan.
Keberhasilan itu membuat Raja Brawijaya berada dalam dilema. Di satu sisi, ia harus menepati janji sebagai raja yang adil. Di sisi lain, ia merasa ragu menikahkan putrinya dengan sosok yang dianggap memiliki penampilan tidak biasa.
Baca Juga: Weton Selasa Wage Menurut Primbon Jawa: Watak, Rezeki, Karier, Cinta, dan Ujian Hidup pada 2026
Putri Dyah Ayu Pusparini kemudian mengajukan syarat tambahan sebelum menerima Lembu Suro sebagai calon suaminya.
Ia meminta Lembu Suro membuat sebuah sumur di puncak Gunung Kelud yang nantinya akan dimanfaatkan masyarakat.
Lembu Suro menerima tantangan tersebut tanpa keberatan. Dengan kesaktiannya, ia mampu menggali sumur dalam waktu sangat singkat hingga hampir selesai.
Melihat pekerjaan itu hampir berhasil diselesaikan, Putri Dyah Ayu Pusparini menjadi panik karena tidak ingin menikah dengan Lembu Suro.
Atas perintah Raja Brawijaya, para pengawal kemudian menimbun sumur yang sedang dikerjakan hingga Lembu Suro terperangkap di dalamnya.
Merasa dikhianati karena janjinya tidak ditepati, Lembu Suro marah kepada Raja Brawijaya beserta seluruh kerajaan.
Dalam kisah tersebut, Lembu Suro mengucapkan sumpah dalam bahasa Jawa yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat.
Ia mengutuk wilayah Kediri akan menerima balasan atas pengkhianatan tersebut. Dalam kutukannya disebutkan bahwa Kediri akan menjadi sungai, Blitar berubah menjadi daratan, dan Tulungagung menjadi danau.
Sejak saat itu, masyarakat mempercayai setiap kali Gunung Kelud meletus, peristiwa tersebut merupakan simbol kemarahan atau balas dendam Lembu Suro.
Kepercayaan itu kemudian melahirkan tradisi Larung Sesaji, yakni ritual memberikan sesaji di kawasan Gunung Kelud sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan keselamatan kepada Tuhan agar masyarakat dijauhkan dari bencana.
Legenda Gunung Kelud hingga kini terus diwariskan sebagai bagian dari kekayaan cerita rakyat Jawa Timur. Selain menjelaskan asal-usul sebuah tempat menurut kepercayaan masyarakat, kisah ini juga mengajarkan bahwa janji harus ditepati dan pengkhianatan dapat membawa akibat yang besar.
source: youtube@RiriEducaStudio
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino