JAKARTA – Legenda Gunung Kelud kembali menjadi salah satu cerita rakyat Jawa Timur yang paling dikenal masyarakat. Kisah ini menceritakan Putri Kilisuci yang menolak lamaran Lembu Suro melalui sebuah sayembara mustahil, hingga berujung pada kutukan yang dipercaya menjadi asal-usul terbentuknya Gunung Kelud.
Cerita tersebut diawali ketika Raja Brawijaya merasa Putri Kilisuci telah dewasa dan sudah saatnya memiliki pendamping hidup. Namun, sang putri menolak untuk menikah karena masih ingin menjalani kehidupannya sendiri.
Sebagai jalan keluar, kerajaan memutuskan menggelar sayembara bagi siapa pun yang ingin mempersunting Putri Kilisuci. Pemenangnya harus membuktikan dirinya sebagai sosok yang kuat, sakti, dan layak menjadi calon suami sang putri.
Keputusan Raja Brawijaya mengadakan sayembara segera diumumkan kepada seluruh rakyat kerajaan. Siapa pun yang berhasil memenangkan adu kekuatan akan memperoleh kesempatan menjadi pasangan Putri Kilisuci.
Pengumuman tersebut menarik perhatian banyak pendekar dan ksatria dari berbagai daerah. Di antara para peserta, dua sosok yang paling menonjol adalah Lembu Suro dan Mahesa Suro yang sama-sama memiliki kesaktian luar biasa.
Persaingan keduanya berlangsung sengit. Masing-masing menganggap dirinya paling pantas menjadi pendamping Putri Kilisuci.
Di sisi lain, Putri Kilisuci sebenarnya tidak menginginkan pernikahan. Meski demikian, ia tetap mengikuti keputusan sang ayah dan menerima berlangsungnya sayembara sebagai bagian dari titah kerajaan.
Baca Juga: Hari Minggu untuk Potong Rambut dan Kuku: Benarkah Bisa Menghilangkan Keberkahan Menurut Tradisi?
Setelah melalui berbagai tahapan, Lembu Suro berhasil memenuhi syarat awal yang diberikan kerajaan. Namun, Putri Kilisuci masih belum bersedia menerimanya sebagai suami.
Sang putri kemudian mengajukan syarat baru yang jauh lebih sulit. Ia meminta Lembu Suro membuat sebuah sumur yang sangat dalam dan berbau amis hanya dalam waktu semalam.
Lembu Suro menerima tantangan tersebut tanpa ragu. Berkat kesaktiannya, pekerjaan itu berhasil diselesaikan sebelum waktu yang ditentukan.
Ketika sumur selesai dibuat, Lembu Suro kembali menemui Putri Kilisuci dan meminta agar janji kerajaan ditepati. Namun, Putri Kilisuci kembali mencari alasan dengan mengatakan bahwa sumur tersebut masih belum cukup dalam dan memintanya menggali lebih jauh lagi.
Adegan ini menjadi titik penting dalam legenda tersebut karena memperlihatkan usaha Putri Kilisuci untuk menghindari pernikahan yang tidak diinginkannya.
Baca Juga: Hari Jumat Baik untuk Potong Rambut dan Kuku? Ini Penjelasan Tradisi yang Banyak Dipercaya
Meski telah memenuhi berbagai syarat, Lembu Suro tetap tidak memperoleh jawaban yang diharapkannya. Penolakan demi penolakan membuat konflik antara dirinya dengan Putri Kilisuci semakin memuncak.
Dalam berbagai versi cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Jawa Timur, peristiwa setelah penggalian sumur inilah yang kemudian menjadi awal munculnya kutukan Lembu Suro terhadap Kerajaan Kediri.
Kutukan tersebut dipercaya berkaitan dengan lahirnya Gunung Kelud yang hingga kini menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia sekaligus menyimpan nilai sejarah dan budaya yang kuat.
Legenda ini tidak hanya mengisahkan tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tetapi juga menggambarkan keberanian, pengorbanan, serta konsekuensi dari janji yang tidak ditepati. Kisah Putri Kilisuci dan Lembu Suro pun terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian penting dari warisan budaya Jawa Timur.
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino